Mabur.co – Citra satelit memperlihatkan sebaran titik panas di berbagai wilayah Kalimantan. Pemerintah kini memperkuat operasi penanganan karhutla di sejumlah provinsi setelah hotspot meningkat dan kabut asap mulai dilaporkan di beberapa daerah.
Titik panas (hotspot) merupakan indikasi awal dan belum otomatis berarti seluruh titik tersebut adalah kebakaran, sehingga tetap perlu verifikasi di lapangan.
Dilansir dari platform NASA Worldview, Sabtu (22/8/2026) menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan tertutup hamparan putih dan abu-abu, dengan daratan hijau terlihat samar di sejumlah bagian.
Peningkatan Ancaman Karhutla
Citra tersebut menggunakan Corrected Reflectance (True Color) dari instrumen VIIRS pada satelit NOAA-20. Visual ini memberikan gambaran kondisi Kalimantan dari ketinggian ketika wilayah tersebut tengah menghadapi peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pada citra, tutupan putih terlihat cukup luas di bagian tengah hingga selatan Kalimantan. Beberapa bagian lainnya tampak lebih jelas, sementara wilayah pesisir dan perairan di sekitar pulau terlihat lebih kontras. hamparan putih dalam citra tersebut tidak bisa serta-merta disebut seluruhnya sebagai asap karhutla.
Pada mode True Color, awan juga tampak berwarna putih. Karena itu, citra ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran visual kondisi permukaan dan atmosfer Kalimantan pada saat satelit melintas.
Titik Terbesar Kalimantan
Sementara itu, dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi ribuan titik panas di Indonesia, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan.
Data pada 20 Agustus 2026 mencatat 1.106 titik panas di Kalimantan. Rinciannya, 521 titik berada di Kalimantan Barat, 424 titik di Kalimantan Tengah, 103 titik di Kalimantan Timur, 40 titik di Kalimantan Selatan, dan 18 titik di Kalimantan Utara.
BMKG menyebut El Niño berada pada intensitas kuat dan sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa risiko karhutla diperkirakan mencapai tingkat tertinggi pada Agustus-September, termasuk di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. ***
