Mabur.co- Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-104 Tamansiswa yang mencapai puncaknya pada Jumat (3/7/2026) siswa-siswi Sekolah Persatuan Perguruan Tamansiswa yakni Taman Dewasa: Setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Taman Madya: Setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Taman Karya Madya: Setingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menampilkan pentas seni di Pendopo Tamansiswa.
Penulis naskah, Ki Listyo HK, mengatakan, pentas yang ditampilkan yakni Langen Gita. Langen Gita juga salah satu bagian dari Langen-langen Tamansiswa yang lain.
Kalau di tingkat TK bernama tembang dolanan anak, maka kalau SD bernama Langen Carito. Lalu kalau SMP ada Langen Sekar, kalau SMA Langen Asmara.
“Terus nanti yang tingkat tinggi lagi ada Langen Reno Rinakit untuk mahasiswa. Nah, Langen Gita ini gabungan. Semua dari tembang dolanan, ada Langen Carito, ada Langen Sekar. Jadi semua seni yang biasanya dipertunjukkan digabung menjadi satu. Dalam pementasan ada dolanan anak, ada karawitan, ada tembang-tembang yang lain. Ada teater-teatrikalnya, ada tarian kreasi. Kemudian ada paduan suara dan seni semi-semi tari yang teatrikal juga digabung,” katanya.

Ki Listyo mengatakan pula, pada ulang tahun ke-104, memaksimalkan semua potensi seni yang ada di perguruan Tamansiswa.
“Jadi dari yang kecil sampai yang besar nanti main semua. Kita memaksimalkan talentanya atau senimannya. Artinya ya siswa-siswi Tamansiswa semua. Juga orang tua serta guru dan mahasiswa yang ada di lingkungan Tamansiswa, baik dari Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Karya (SMK), Taman Madya (SMA) kemudian UST (Universitas).
Pahlawan Tak Terlihat
Untuk pentas hari ini berjudul Teratai Penjaga Zaman karya pusi dari Sanusi Pane. Puisi Teratai karya Sanusi Pane menggambarkan perjuangan para pahlawan pendidikan yang sering kali tidak terlihat atau diabaikan oleh masyarakat. Namun tetap berjuang untuk mencerdaskan bangsa. Lambang ‘tersembunyi’ dalam puisi ini merujuk pada perjuangan tanpa tanda jasa yang dilakukan oleh para pahlawan pendidikan,” katanya.

Ki Listyo menuturkan, Sanusi Pane membuat puisi tersebut dikhususkan untuk Ki Hadjar Dewantara karena Sanusi Pane dulu adalah guru atau pamong sekolah Tamansiswa di Jakarta.
“Pemaknaan puisi dalam bentuk pentas gabungan dolanan anak sama Langen Carito, tembang karawitan, paduan suara, dan lagu-lagu yang lain. Serta tari kreasi nanti kita munculkan dalam bentuk menceritakan kisah-kisah dari perjalanan seorang Ki Hadjar Dewantara yang dirunut oleh Sanusi Pane dari Puisi Teratai,” katanya.

