Mabur.co – Ketika seorang Menteri PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional)/Bappenas mengatakan bahwa prioritas negara saat ini adalah program MBG (Makan Bergizi Gratis), bukan membuka kesempatan lapangan kerja baru bagi generasi muda maupun generasi tua (yang terkena PHK/terpaksa pensiun, dan seterusnya), maka sudah pasti ada sesuatu yang salah di dalamnya. Termasuk di dalam internal pemerintah sendiri.
Kebutuhan pangan, atau kasarnya disebut “urusan perut” memang merupakan sesuatu yang sangat penting, dan tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Namun, urusan finansial sebenarnya jauh lebih penting lagi, karena memiliki finansial atau uang adalah solusi dari segala solusi di dunia ini, termasuk juga solusi perut.
Bahkan jika solusi finansial sudah terpenuhi, maka solusi perut bernama MBG ini rasanya sudah tidak diperlukan lagi. Karena perut kenyang kemungkinan hanya akan bertahan selama 3-4 jam saja, lalu setelah itu akan lapar lagi.
Sementara ketika punya uang, urusan perut kemungkinan bisa beres selama satu bulan penuh (tergantung berapa banyak jumlah uang yang didapatkan dari pekerjaannya), dan lagi-lagi itu semua tidak memerlukan MBG sama sekali, yang konon katanya dianggap beracun tersebut.
Zaman Semakin Maju, Tapi Pekerjaan Justru Semakin Sulit
Sebenarnya kesulitan lapangan pekerjaan bukan hanya terjadi saat ini saja, melainkan sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun silam, ketika internet justru mulai gencar-gencarnya merasuk ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ironis memang, ketika kehadiran internet telah membuka banyak lapangan kerja baru secara digital, di saat yang sama justru lapangan kerja secara formal (kantoran) malah jadi semakin sedikit.
Bahkan tak sedikit kantor yang ikut-ikutan menerapkan sistem kerja secara hybrid, yakni menggabungkan pola antara bekerja di kantor (biasanya disebut 9 to 5/WFO – Work From Office) dengan bekerja di luar atau bahkan di rumah (disebut WFH – Work From Home).
Meskipun kenyataannya jenis pekerjaan menjadi lebih banyak setelah kehadiran internet, media sosial, atau istilah WFH tadi, namun status bekerja di kantor masih tetap jadi primadona bagi kebanyakan orang, termasuk generasi muda sekalipun.
Karena bekerja di kantor seolah-olah merupakan “garansi” menuju hidup yang lebih terjamin, sejahtera, dan kesempatan membangun relasi yang lebih jelas, termasuk juga “relasi percintaan” di dalamnya. Meskipun kenyataannya tidaklah selalu seperti itu.
Padahal di awal 2024 lalu, Wapres Gibran Rakabuming Raka (saat itu masih Cawapres) pernah bilang bahwa jika ia terpilih sebagai Wapres mendampingi Prabowo Subianto, ia berjanji akan menyiapkan 19 juta lapangan kerja baru di Indonesia.
Namun memasuki tahun ketiga kepemimpinannya bersama Prabowo Subianto, justru fokus utama lebih ditujukan pada program MBG, yang kemungkinan hanya bisa mengenyangkan manusia selama 3-4 jam itu tadi (asalkan tidak keracunan).
Sementara janji 19 juta lapangan kerja itu seperti lenyap ditelan bumi, dan tampak tidak diurus sama sekali. Meskipun memang mengatasinya jelas tidak mudah dan butuh waktu yang tidak sedikit.
Karena pada akhirnya, setiap program yang dicanangkan Presiden dan jajarannya itu hanyalah janji politik, agar mereka terpilih di singgasana pemerintahan.
Ketika akhirnya sudah terpilih, janji hanyalah tinggal janji. Yang paling penting adalah bagaimana modal kampanye bisa kembali, sedangkan prioritas program itu urusan nanti.
Atau minimal, dahulukan dulu program yang bisa menjadikan pemerintah sebagai pahlawan, seperti layaknya program MBG sebagai “pahlawan mencegah gizi dan kelaparan”.
Sementara program yang rumit dan berliku-liku seperti pembangunan lapangan kerja tampaknya masih sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Sehingga yang terpenting adalah berjanji dulu, ditepati atau tidak itu urusan belakangan. (*)



