Mengapa Koruptor Sering Disamakan dengan “Tikus”? - Mabur.co

Mengapa Koruptor Sering Disamakan dengan “Tikus”?

Mabur.co – Siapa sih yang mau disamakan dengan seekor “tikus”?

Binatang rumahan yang satu ini seringkali hinggap di rumah-rumah warga, terutama yang kondisinya kurang sehat, kotor, penuh dengan bau tidak sedap, dan seterusnya.

Namun ternyata, “tikus” tidak hanya hidup di kolong-kolong rumah warga, melainkan juga hidup di lingkup pemerintahan.

“Tikus” ini sering mencuri harta kekayaan negara, lalu mengakuisisinya atas nama pribadi, dan lain sebagainya.

“Tikus” inilah yang kemudian sering diasosiasikan dengan perilaku koruptor, dengan ciri-ciri perilaku seperti yang sudah disebutkan di atas.

Kebetulan, kebanyakan koruptor berasal dari kalangan pejabat, alias mereka yang duduk di pemerintahan. Merekalah orang-orang yang kerap mencuri uang negara, untuk kemudian diakui sebagai uang milik pribadi.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa koruptor sering disamakan dengan hewan “tikus”? Apakah tidak ada hewan lain yang lebih menggambarkan perilaku para koruptor ini, ketimbang hewan berwarna hitam yang satu ini?

Wujud asli “tikus” dalam diri manusia, yang semuanya berasal dari kalangan pemerintahan. Itupun baru yang sudah tertangkap (Foto: istimewa)

Dilansir dari laman Minanews, Kamis (23/4/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa koruptor kerap disamakan dengan karakter seekor tikus, yang tentu saja tidak pernah kita harapkan mampir di rumah-rumah kita.

1. Mencuri Diam-diam

Tikus dikenal sebagai hewan yang suka beraksi secara sembunyi-sembunyi. Sifat itulah yang kemudian “diwarisi” kepada para koruptor di jajaran pemerintahan hingga saat ini.

Para koruptor senantiasa mengambil hak orang lain secara ilegal, terselubung, dan licik.

Namun tentu saja sifat ini sangat wajar dimiliki oleh para koruptor. Karena jika melakukannya secara terang-terangan, habislah mereka semua. Penjara pun tidak akan mampu menampung kekejian perbuatan mereka terhadap negara (dan juga rakyat).

2. Sifat Serakah

Sama seperti tikus yang terus-menerus menggerogoti benda yang ada di sekitarnya, koruptor juga memiliki sifat serakah yang tidak pernah ada habisnya, tidak pernah puas, selalu merusak (menghabisi uang negara untuk kepentingan pribadi), serta menggerogoti sumber daya yang bukan miliknya.

Sebuah sifat yang sangat “tikus-able”, dan terwariskan dengan sangat sempurna kepada manusia-manusia yang ada di pemerintahan.

3. Merusak dan Menular

Tikus juga sering dikaitkan sebagai hewan pembawa penyakit/hama. Di saat yang bersamaan, korupsi juga kerap diasosiasikan sebagai “penyakit” yang menular, melibatkan banyak orang/struktur sekaligus, serta merusak tatanan sosial maupun ekonomi secara nasional.

Dan sayangnya, sifat hewan ini juga menular dengan sempurna kepada manusia.

4. Sulit Ditangkap dan Dibasmi

Tikus dikenal sebagai hewan yang lincah, bisa berjalan dengan cepat di tembok, kabel-kabel kecil, sampai meloncat dengan ketinggian tertentu (seperti karakter Jerry dalam animasi kartun Tom & Jerry). Kelincahan itu membuat mereka sulit ditangkap oleh manusia.

Sementara dalam wujud manusia, “tikus” ini juga sangat lincah melakukan korupsi dengan berbagai motif dan bentuk (misalnya melalui pengadaan proyek tertentu). Tidak hanya itu, “tikus” yang satu ini juga seringkali tidak tersentuh oleh hukum (untouchable) karena mereka merupakan orang-orang yang berada di tingkat elit.

Dan seringkali, pihak yang menangkap mereka juga bagian dari elit tersebut (KPK dan seterusnya). Akhirnya ketika elit ketemu elit, yang terjadi adalah tawar-menawar politik, yang mungkin sifatnya transaksional.

Dengan begitu, ancaman hukuman yang tadinya begitu berat, bisa jadi diperingan, atau bahkan tidak dihukum sama sekali.

Selain sulit ditangkap, tikus juga sangat sulit dibasmi (dihilangkan).

Sama halnya dengan “tikus” yang ada di pemerintahan. Karena sudah begitu membudaya dari generasi ke generasi, “tikus” yang satu ini tampaknya sangat sulit untuk diberantas.

Meskipun sudah ada lembaga-lembaga antirasuah seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan lain sebagainya, namun tetap saja memberantas “tikus-tikus” ini belumlah benar-benar berhasil sampai hari ini.

Sungguh sebuah warisan tikus yang sangat fundamental, dan sanggup merusak sebuah negara secara perlahan-lahan.

***

Apapun istilah maupun hewan yang menyerupainya, koruptor tetaplah “tikus” yang harus segera dibasmi di negeri ini.

Meskipun sudah membentuk lembaga anti korupsi seperti KPK maupun lembaga-lembaga lainnya, nyatanya budaya dan “warisan” dari tikus terhadap para pejabat ini masih saja berlangsung sampai hari ini.

Hal itu menandakan bahwa “warisan” dari tikus memang sangatlah kuat, sampai-sampai manusia (yang bukan “tikus”) sangat sulit untuk membasminya.

Jadi jangan heran, kalau sampai ke generasi-generasi selanjutnya, “tikus” ini tidak akan pernah sanggup dibasmi, karena lagi-lagi, sifat yang diwariskan begitu melekat dengan sangat kuat, dan tidak bisa dilenyapkan begitu saja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *