Mabur.co – Aktris sekaligus konten kreator, Prilly Latuconsina, kembali membuat geger publik. Kali ini bukan karena status percintaannya, tapi karena ia tiba-tiba saja “butuh kerjaan”.
Dilansir dari akun Instagram pribadinya, @prillylatuconsina96, ia mengaku telah mengundurkan diri dari Sinemaku Pictures dari jabatan direksi sekaligus pemegang saham pada 19 Januari 2026 lalu.
Prilly pun berinisiatif membuka “lembaran baru” dalam hidupnya, yakni mencoba pekerjaan baru yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Termasuk bekerja 9 to 5 (dari jam 9 pagi hingga 5 sore) layaknya orang kantoran di Jakarta.
Prilly pun mengaku terkejut bahwa status “open to work” tersebut mengundang beragam reaksi dari netizen.
Bahkan ada pula yang menyebut bahwa lowongan pekerjaanlah yang membutuhkan Prilly, bukan sebaliknya.
Dilansir dari Detikpop, Prilly dikabarkan telah menerima sekitar 30 ribu connections baru setelah postingan “open to work” tersebut.
Bahkan Prilly juga menyempatkan diri membaca pesan-pesan DM dari orang-orang yang hendak mengajaknya bekerjasama.
Meskipun menyatakan tidak sanggup menerima seluruh tawaran yang diberikan, namun kabarnya Prilly telah bersedia menjadi seorang offline sales di salah satu brand di Summarecon Mall, Bekasi, dan sudah mulai bekerja sejak Jumat (30/1/2026) kemarin.
Jangan-jangan Cuma Gimmick “Konten”
Apa yang dilakukan Prilly Latuconsina sebenarnya sah-sah saja.
Namun yang menjadi sorotan adalah bagaimana seorang artis yang sudah malang-melintang di berbagai FTV, sinetron, dan juga film, serta telah bekerjasama dengan banyak artis ternama di Indonesia dan juga internasional, tiba-tiba “terjun bebas” dan rela bekerja 9 to 5 ala kantoran, hanya demi mencoba “pengalaman kerja baru”?
Sebagai artis, apalagi di zaman media sosial seperti sekarang, tentunya akan sangat mudah untuk mendapatkan atensi dari banyak orang dalam waktu singkat.
Menjadi artis di zaman sekarang tidak perlu capek-capek melakukan casting atau promo di stasiun televisi dan sebagainya.
Cukup dengan membuat konten yang unik dan “bombastis” lalu viral, seketika itu juga Anda sudah bisa disebut sebagai artis, apalagi jika punya paras ganteng atau cantik, maka sudah pasti Anda akan jadi idola baru para netizen.
Apa yang dilakukan oleh Prilly secara tidak langsung patut dicurigai, bukan karena status “open to work” yang ia sematkan di LinkedIn. Melainkan lebih ke motif utama ia melakukan hal tersebut dan menunjukkannya secara luas ke media sosial pribadinya.
Atau jangan-jangan, semua yang ia lakukan ini hanya sebatas gimmick saja? Alias demi membuat konten social experiment, dengan POV (Point of View) terjun langsung sebagai pegawai kantoran 9 to 5 dan rela berdesak-desakan di KRL setiap harinya, demi gaji yang tak seberapa itu.
Mana mungkin, seorang artis yang sudah bergelimang kekayaan dan popularitas seperti Prilly Latuconsina, tiba-tiba bersedia jadi pegawai kantoran 9 to 5 seperti itu, kalau bukan karena pembuatan konten dan sejenisnya.
Dan mana mungkin ia betah melakukan pekerjaan seperti sales setiap harinya selama bertahun-tahun? Padahal profesi sebelumnya sudah jauh lebih nyaman.
Bahkan telah mendapat jutaan fans dan followers dari sesuatu yang sudah ia geluti selama belasan tahun lamanya.
Atau mungkin saja, Prilly sudah lelah atau burnout dengan dunia hiburan tanah air, yang senantiasa menuntut kesempurnaan setiap harinya?
Pada akhirnya, setiap gebrakan dari seorang artis, entah itu terjun ke dunia politik, bertemu masyarakat tingkat bawah di daerah pelosok, atau aksi-aksi “tidak lazim” lainnya, selayaknya patut dicurigai.
Karena mungkin saja, itu cuma akal-akalan mereka supaya tetap eksis di industri hiburan. Atau jangan-jangan memang mereka sudah tidak laku lagi.
Sampai harus “caper” ke masyarakat yang “tidak selevel” dengan mereka. (*)



