Ayat-ayat Lebah di Netivot, Israel - Mabur.co

Ayat-ayat Lebah di Netivot, Israel

Ada peristiwa yang datang bukan sebagai berita, melainkan sebagai gema. Ia tidak mengetuk, tetapi tiba-tiba sudah memenuhi ruang batin.

Di kota kecil Netivot, di selatan Israel, langit mendadak berubah menjadi kawanan: ribuan lebah berputar, menghitamkan udara, mengganggu ritme keseharian, bahkan menghentikan sejenak aktivitas yang selama ini tampak tak tergoyahkan—termasuk operasi militer. Yang hadir bukan dentuman, melainkan dengung. Namun justru di situlah getar paling purba terasa.

Sains memiliki bahasanya sendiri untuk menjelaskan peristiwa ini. Dalam Swarming, lebah memang bergerak secara kolektif ketika koloni membelah diri dan mencari habitat baru.

Ia adalah mekanisme biologis yang telah berlangsung jutaan tahun: ratu baru, rumah baru, arah baru. Penelitian dalam bidang Behavioral Ecology bahkan menunjukkan bahwa koloni lebah beroperasi layaknya satu organisme tunggal—superorganisme—dengan sistem pengambilan keputusan yang kompleks namun tanpa pusat komando.

Thomas D. Seeley, ahli perilaku lebah dari Cornell University, menyebut proses ini sebagai “demokrasi alamiah”, di mana ribuan individu menghasilkan satu keputusan kolektif tanpa konflik terbuka.

Namun penjelasan ilmiah selalu berhenti pada mekanisme. Ia tidak menjangkau resonansi. Dalam Alquran, lebah bukan sekadar entitas biologis.

Ia hadir sebagai simbol keteraturan kosmik dalam Surah An-Nahl—surah yang secara eksplisit menyebut bahwa lebah “diwahyukan” jalan-jalannya.

Kata “wahyu” di sini menarik: ia mengisyaratkan bahwa bahkan makhluk kecil bergerak dalam garis ketentuan yang tidak sepenuhnya kasat mata. Lebah tidak memilih secara bebas, tetapi juga tidak sepenuhnya mekanis. Ia berada di antara hukum alam dan kehendak yang lebih luas.

Di sinilah peristiwa di Netivot menemukan gema yang lebih dalam. Ia mengingatkan kita pada kisah-kisah lama yang terpatri dalam tradisi wahyu: tentang burung Pasukan Ababil yang menggugurkan kekuatan pasukan besar, tentang bencana ekologis yang menimpa rezim Firaun melalui belalang, kutu, dan katak, atau tentang air yang meluap melampaui batas pada masa Nabi Nuh.

Semua kisah itu memiliki satu benang merah: bahwa kekuasaan manusia selalu memiliki titik buta terhadap yang kecil, yang remeh, yang tak diperhitungkan.

Modernitas, dengan seluruh perangkat teknologinya, sering memberi ilusi kendali total. Negara dengan sistem pertahanan paling canggih pun percaya bahwa ancaman selalu datang dalam bentuk yang dapat dipetakan: rudal, drone, infiltrasi.

Namun kawanan lebah menghadirkan gangguan yang tidak masuk dalam doktrin militer mana pun. Ia tidak dapat dicegat, tidak dapat dinegosiasikan, tidak memiliki pusat komando yang bisa dihancurkan. Ia hadir sebagai gangguan murni—dan justru karena itu, ia efektif.

Penelitian terbaru dalam ekologi menunjukkan bahwa perubahan iklim, urbanisasi, dan tekanan terhadap habitat alami mendorong lebah semakin sering memasuki wilayah manusia.

Fenomena ini tercatat dalam berbagai laporan ilmiah tentang migrasi koloni dan stres lingkungan pada serangga penyerbuk.

Dengan kata lain, apa yang tampak sebagai “serangan” mungkin hanyalah konsekuensi dari ketidakseimbangan yang lebih luas—hasil dari relasi manusia dengan alam yang semakin eksploitatif.

Namun di titik ini, pertanyaan menjadi lebih reflektif: apakah semua ini semata kebetulan ekologis, atau ada makna yang lebih dalam yang sedang berusaha kita tangkap?

Tentu saja, realitas tidak pernah tunggal. Ia selalu membuka kemungkinan tafsir. Peristiwa lebah di Netivot dapat dibaca sebagai fenomena biologi, tetapi juga sebagai alegori. Sebuah pengingat halus bahwa dunia tidak sepenuhnya tunduk pada kalkulasi manusia.

Lebah tidak membawa pesan dalam bahasa manusia. Ia tidak menyampaikan manifesto, tidak menulis deklarasi.

Namun dalam dengungnya, ada ritme yang lebih tua dari politik—ritme yang menghubungkan manusia dengan kosmos yang lebih luas.

Ia mengingatkan bahwa keteraturan tidak selalu berasal dari pusat kekuasaan, melainkan bisa lahir dari koordinasi tanpa suara, dari harmoni yang tidak terlihat. Mungkin di situlah letak “ayat” itu.

Bukan pada spektakelnya, tetapi pada kesadaran yang ditimbulkannya. Bahwa yang kecil bisa menjadi penentu.

Bahwa yang tak diperhitungkan bisa menjadi pusat perhatian. Dan bahwa dalam dunia yang semakin bising oleh suara manusia, alam tetap memiliki caranya sendiri untuk berbicara—diam-diam, tetapi mengguncang.

Di langit Netivot, lebah-lebah itu tidak sekadar terbang. Mereka seperti menulis sesuatu yang tak kasat mata: sebuah kalimat panjang tentang keterbatasan manusia, tentang keseimbangan yang terganggu, dan tentang kemungkinan bahwa bahkan dalam peristiwa yang paling biologis sekalipun, manusia masih mencari—dan mungkin membutuhkan—makna. ***

Thowaf Zuharon adalah Penulis Buku Ayat-ayat yang Disembelih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *