Mabur.co- Kotabaru merupakan bekas pemukiman era kolonial, di tengah Kota Yogyakarta. Kawasan ini mengadopsi konsep Garden City atau tata kota di Eropa, yang memadukan area hijau mengutamakan kenyamanan.
Kawasan Kotabaru saat ini terus dilestarikan, karena menjadi salah satu penanda keistimewaan DIY. Dahulu, tempat ini dikenal sebagai Nieuwe Wijk atau kawasan baru, yang kemudian berkembang dan dikenal dengan sebutan Kotabaru.
Kota Yogyakarta merupakan kota pusaka yang memiliki enam kawasan cagar budaya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta 186/KEP/2011 tentang Penetapan Cagar Budaya menetapkan kawasan cagar budaya yang salah satunya adalah Kawasan Cagar Budaya Kotabaru.
Konsep garden city di kawasan Cagar Budaya Kotabaru memiliki karakteristik kawasan yang menerapkan langgam bangunan kolonial dan indis serta memiliki pola radial konsentris.
Seiring dengan perkembangan zaman, Kawasan Cagar Budaya Kotabaru yang semula difungsikan untuk permukiman berubah menjadi zona perdagangan dan jasa serta zona perkantoran.
Perubahan fungsi bangunan ini menyebabkan pengelola/pemilik bangunan memiliki peluang untuk mengubah fasad bangunan Hindia Belanda yang disesuaikan dengan tren lebih modern.
Lebih dari 40% bangunan Hindia Belanda di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru mengalami perubahan dan masih terus berlangsung.
Proporsi Taman dan Lahan Terbuka Lebih Banyak
Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Selasa (2/6/2026), Kotabaru mengusung konsep garden city yang menempatkan proporsi taman dan lahan terbuka lebih banyak.
Bangunan rumah lebih mundur dari sempadan jalan, serta pemisahan kawasan hunian dengan area fasilitas publik. Kawasan ini juga didesain sebagai kota mandiri yang memiliki fasilitas publik lengkap untuk memenuhi kebutuhan penghuni dalam satu area.
Kotabaru dibangun dengan bentuk radial dengan lapangan di tengah dan dihubungkan dengan jalan besar (boulevard).
Kawasan ini terlihat seperti dibagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh boulevard dan lapangan di tengah. Pada bagian barat merupakan area khusus hunian, sedangkan di sisi timur adalah bangunan yang bersifat publik.
Di kawasan Kotabaru ini menjadi saksi perjalanan peristiwa-peristiwa penting. Pada masa kolonial menjadi milestone pembangunan kawasan hunian modern.
Pada masa Jepang menjadi kawasan hunian dan aktivitas militer. Pada masa kemerdekaan kawasan ini tidak terlepas sebagai peran pendukung Yogyakarta sebagai ibu kota Republik.
Beberapa bangunan di Kotabaru juga menjadi kantor lembaga negara pada masa kemerdekaan, seperti Kolase Ignatius yang menjadi kantor Kementerian Pertahanan dan Museum Sandi yang pernah menjadi kantor Kementerian Luar Negeri.
Kotabaru juga menjadi saksi atas perjuangan masyarakat Yogyakarta dalam mempertahankan kemerdekaan, terutama pada saat peristiwa Penyerbuan Kotabaru. ***

