Dark tourism atau Wisata Kegelapan bukanlah fenomena baru dalam dunia pariwisata. Kecenderungan menyenangi obyek wisata yang bersifat gelap dan getir sesungguhnya sudah berlangsung lama. Kita ingat bagaimana animo orang terhadap “daya tarik” puing-puing tsunami di Aceh, lumpur Lapindo di Sidoarjo, dan lain-lain.
Tombstone tourism atau cemetery tourism, yakni wisata kuburan, juga masuk dalam kategori dark tourism. Dan ini justru merupakan jenis wisata yang purbawi, mendahului jenis-jenis wisata lainnya, seperti wisata bahari, wisata religi, wisata petualangan, wisata alam, wisata kuliner dan sebagainya. Wisata makam termasuk destinasi wisata yang cukup laris. Dengan alasan yang bervariasi, orang rela datang dari jauh mengunjungi makam orang-orang terkenal atau orang-orang yang dianggap mulia. Makam penyair terkenal adalah salah satu pilihan destinasi wisata kuburan.
Makam para seniman dan budayawan, merupakan tempat yang banyak peminatnya untuk dikunjung. Sebab makam seniman dan budayawan, termasuk di dalamnya penyair, biasanya dibangun sebagai sebuah situs yang merupakan kombinasi harmonis dari monumen sejarah, keindahan seni serta tempat berkontemplasi. Maka makam-makam tersebut menggugah bukan saja pecinta sang tokoh, namun juga bisa mencakup pengagum seni arsitektur serta para pencari tempat berkhidmat.
Yang paling fenomenal adalah Westminster Abbey, gereja Anglikan tua dan klasik di London, yang menyediakan kawasan bernama The Poet’s Corner (sudut penyair) di dalamnya, tempat peristirahatan terakhir penyair-penyair legendaris dunia seperti Geoffrey Chaucer, Edmund Spencer, Alfred Tennyson, John Dryden, Jane Austen, Charles Dickens, dan lain-lain. Termasuk Ratu Elizabeth I, yang juga seorang penyair.
Westminster Abbey ini begitu indah, agung dan terkesan sangat mahal. Sejatinya diperuntukkan bagi bangsawan Inggris. Tapi bisa juga untuk non bangsawan yang benar-benar terpilih karena memiliki kedudukan serta martabat tinggi. Monarki Inggris memiliki komitmen untuk memberi penghargaan bagi putra bangsa Inggris yang memiliki jasa besar. Maka selain anggota kerajaan terhormat, dimakamkan pula disana penyair-penyair tersohor serta tokoh-tokoh seperti Sir Isaac Newton dan Charles Darwin.
Tapi konon, yang menjadi jenazah emas adalah para penyair. Inggris yang merupakan negara terbanyak ketiga peraih Hadiah Nobel Sastra setelah Prancis dan AS, memang sangat menghargai puisi dan para penyair. Penyair dan makamnya sangat dihargai, ditinggikan derajatnya, dan sikap ini menggugah pula rasa hormat dunia kepada para pujangga anumerta tersebut. Ini baru Inggris, belum lagi Iran, Jepang, Denmark dan negara lainnya yang juga menaruh perhatian besar kepada penyair dengan memuliakan makam mereka.
Pada sisi lain, dibangunnya makam indah bagi seorang penyair terkenal yang berjasa besar merupakan bentuk apresiasi negara pada dunia literasi. Inilah yang dilakukan beberapa negara yang memiliki budaya tinggi seperti Mesir, yang membangun makam penyair Imam Al-Bushiri di Alexandria yang kemudian menjadi tempat ziarah penting bagi umat Islam.
Iran juga memperindah makam Shams Tabrizi, penyair besar dan seorang Sufi yang menjadi guru bagi Jalaluddin Rumi. Makamnya terletak di Khoy, kota yang jaraknya sekitar dua jam dari Tabriz. Makam ini telah dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Kendati maksud awal mereka membangun dan memperindah makam tokoh terkenal adalah semata memberi penghargaan, namun ada sejumlah dampak positif yang hadir dari tindakan tersebut. Antara lain menambah jumlah monumen sejarah yang bisa menjadi tempat belajar generasi muda. Terlebih bagi Jakarta yang pada 2019 lalu dipilih UNESCO sebagai kota literasi, proyek monumen Chairil Anwar akan merupakan realisasi kerja dan kegiatan dalam mengemban amanah tersebut.
Meski suatu saat proyek makam penyair ini bisa menghasilkan uang lantaran fungsinya sebagai destinasi wisata, namun perlu digarisbawahi, bukanlah uang yang menjadi target utama. Tentu kita sadar sepenuhnya, bagi negara yang sudah sampai pada level adab memuliakan arwah-arwah para putra kebanggaannya, tidak akan menarik keuntungan komersial dari makam mereka.
Westminster Abbey berbayar mahal, sekitar Rp. 800.000, karena kompleks itu bukan hanya berisi makam, namun ada sejumlah spot menarik lainnya disana. Makam-makam penyair terkenal dunia lainnya seperti di Philadelphia atau Jepang, justru gratis. Karena yang jauh lebih penting bagi mereka adalah menjaga marwah sang penyair. Sikap sejumlah negara dalam memperlakukan penyair-penyair dan makam mereka bisa menjadi tempat kita bercermin dalam memperlakukan makam Chairil Anwar di Karet.
Arsitek sekaligus penyair Aloysius Slamet Widodo, yang bersama komunitas TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia) pimpinan Moktavianus Masheka, memelopori gerakan moral untuk pujangga Chairil Anwar ini, telah membuat denah serta gambar bakal Monumen Chairil Anwar, yang lokasinya tentu saja masih di kawasan Karet, dengan membuatnya sefungsional mungkin pada lahan yang relatif tidak terlalu besar, dengan komposisi bangunan berupa makam, museum mini, perpustakaan serta amphiteater.
Kita awali dengan niat luhur, memberi apresiasi. Demi memuliakan puisi dan penyair. Ia yang dulu tidak bahagia semasa hidupnya, biarlah kita tebus kini dengan sebuah selebrasi agung namun sederhana, yakni mendandani makamnya agar pantas. Pantas dipamerkan, pantas dibanggakan. Leiden saja menempatkan Chairil Anwar di Muurgedichten, yaitu sebuah destinasi wisata kultural dan historikal yang merupakan kumpulan dinding-dinding puisi yang memuat karya 200 an pujangga terkenal dunia.
Chairil Anwar ada disana, bersama Shakespeare, Matsuo Basho, Federico Garcia Lorca, Hendrik Marsmann (salah satu penyair idola Chairil) dan raksasa puisi dunia lainnya. Tak sampai dua ratusan penyair di dalamnya. Hanya yang terbaik menurut pandangan dunia. Dan Chairil Anwar terpilih bersama penyair-penyair mulia lainnya disana.
Maka perlu jadi renungan serius bagi pemerintah, bagaimana Indonesia yang notabene merupakan negara yang disebut Francesco Bandarin dari UNESCO sebagai negara super power perihal budaya pada sidang umum UNESCO di Paris tahun 2017 lalu, akan tetapi makam pujangga legendarisnya lusuh, tak sebanding dengan kilau namanya. Makam yang dibuat seadanya itu nampak muram, dengan batu nisan yang kini telah buram. Negara yang berbudaya tinggi akan menjaga martabat putra-putra terbaiknya, kendati telah mati.



