Apa makna makam Chairil Anwar bagi Indonesia, bagi generasi kini dan generasi yang akan datang? Apakah para peziarah datang untuk meminta syafaatnya, agar kelak menjadi penyair besar, dikenang sepanjang zaman, dan karya-karyanya diajarkan di sekolah-sekolah sambil berharap pada saat tertentu dibacakan dalam berbagai lomba baca puisi? Jadi, boleh dong kita datang ke makam Chairil Anwar dengan tujuan meminta syafaat semacam itu. Bukankah para pelaku wisata religi yang datang ke makam para aulia sebagiannya juga berharap memperoleh syafaat, agar segala cita-cita dan harapan dapat terwujud?
Tidak! Bukan itu tujuan orang datang ke makam seorang penyair atau sastrawan seperti Chairil Anwar, Rendra atau Sapardi Djoko Damono. Begitu juga kita datang berziarah ke makam Hamzah Fansuri di Barus, makam Pujangga Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, makam Jayabaya di Kediri, makam Ronggowarsito di Yogyakarta atau makam Amir Hamzah di Langkat, bukan untuk meminta syafaat, tetapi sebagai bentuk kesadaran sejarah. Kita mengenang jasa mereka sebagai tokoh literasi, tokoh sastra. Mereka mewariskan karya sastra, mewariskan puisi yang menginspirasi penyair berikutnya. Maka, kita berziarah ke makam-makam itu untuk mengenang jasanya di dunia literasi, sastra, puisi!
Makna makam bagi orang hidup hakikatnya adalah cermin yang menyangkut dua hal: (i) sebagai peringatan, bahwa pada saatnya nanti, orang-orang yang masih hidup ini, akan sampai juga ke sana: wafat lalu masyarakat akan membuat makamnya entah di mana; (ii) sebagai pemantik kesadaran, bahwa yang ditinggalkan manusia setelah ia dimakamkan hanya (perbuatan) kemanusiaan.
Jadi, ketika seseorang datang berziarah ke sebuah makam, ia diingatkan, bahwa nanti ia pun akan meninggal dunia. Lalu apa yang dapat dikenang dari makam itu: ya perbuatan, perilaku, dan perkara kemanusiaan; bagaimana seseorang semasa hidupnya memuliakan manusia bagi kehidupan ini.
Begitulah makna makam bagi orang hidup. Setidak-tidaknya, peringatan itu dapat kita baca pada makam yang terdapat di Papan Tinggi Barus, Sumatra Utara. Pada batu nisan makam itu, tertulis dua larik puisi karya penyair Persia bernama Firdausi (940—1020) yang diambil dari mahakaryanya, Syahnameh. Bunyinya begini: Dunia adalah kenangan, kita akan pergi/Yang tersisa dari manusia hanya kemanusiaan// (Terjemahan Bastian Zulyeno).
Apa yang terjadi pada makam itu? Para peneliti dari berbagai negara datang ke makam itu untuk melakukan penelitian arkeologi, islamologi, sejarah, linguistik, sastra, dan entah apa lagi. Makam menjadi objek penelitian, di samping sebagai objek wisata literasi dan edukasi lantaran tidak sedikit orang yang datang ke sana untuk belajar banyak hal.
Bagaimana dengan makam Chairil Anwar? Apakah ada peluang menjadikannya sebagai tempat wisata ziarah literasi dan edukasi? Untuk menjawabnya, mari kita menengok ke beberapa makam penyair dunia yang karena reputasinya, makam itu lalu menjadi tempat ziarah literasi dan edukasi, dikunjungi banyak wisatawan dalam dan luar negeri, menciptakan perekonomian warganya, bahkan juga menghasilkan devisa bagi negaranya.
Di Tabriz, Iran, misalnya, negara membangun Taman Makam Penyair, sebuah kompleks pemakaman khusus para penyair. Di sana, ada museum dan perpustakaan yang disulap jadi Taman Wisata. Para peziarah dapat leluasa membaca buku, berdiskusi atau unjuk kebolehan baca puisi di atas panggung yang disediakan untuk itu. Pada hari-hari tertentu, diselenggarakan kegiatan sastra dan seni-budaya yang melibatkan juga warga asing, seperti seminar, symposium atau diskusi puisi, tentang sastra, tentang kebudayaan.
Di kota lain di Iran, ada juga makam penyair terkenal. Saya kutip tulisan Isson Khairul: “Di Shiraz, ibu kota Provinsi Fars yang terletak di barat daya Iran, ada makam dua sastrawan besar Iran: Sa’adi dan Hafiz. Makam itu berada di lokasi, sekitar seluas dua kali lapangan sepak bola. Makam Sa’adi ditempatkan di sebuah paviliun beratap kubah. Dindingnya dihias dengan kaligrafi puisi-puisi Sa’adi. Bangunan lain di sebelahnya, yang terbuka ke taman, menjadi tempat santai masyarakat membacakan puisi-puisi Sa’adi.
Kompleks pemakaman Sa’adi hingga kini tidak pernah sepi. Puisi-puisinya terus dibacakan silih berganti oleh para pengunjung makamnya, siang dan malam. Pemakaman Sa’adi itu berupa taman, yang didominasi mawar merah. Ada pohon-pohon rindang, burung-burung berkicau sepanjang hari, dan suara gemericik air dari kolam yang indah.” Begitulah pewartaan Isson Khairul.
Di manakah makam penyair besar Jalaluddin Rumi? Turki berterima kasih pada Iran. Sebab, di kota Konya, Turki, jasad Rumi ditempatkan di sana. Penyair agung Persia ini wafat, 17 Desember 1273 sebagai anggota kehormatan masyarakat kota itu. Makamnya berada di kompleks Museum Mevlana Konya. Rumi telah menyumbangkan wisata literasi bagi Turki. Setiap tahun jutaan peziarah datang ke sana dan puncaknya terjadi pada 17 Desember, tarikh wafatnya penyair sufi itu. Di kompleks museum itu, sastrawan, penyair, budayawan, dan kaum intelektual dunia menyelenggarakan pertemuan ilmiah, diskusi, baca puisi, dan bermacam-macam kegiatan literasi lainnya.
Satu lagi perlu disebutkan: Azerbaijan. Di Baku, pusat kota Azerbaijan, berdiri megah patung Nizami Gancavi (1141—1209), penyair agung lewat mahakaryanya, Laila Majnun. Patung itu tegak menghadap sebuah museum besar dan perpustakaan yang di sekelilingnya berdiri patung dan foto para sastrawan. Itulah Museum Sastrawan, dibangun di tengah kota. Nizami Gancavi menjadi kebanggaan bangsanya. Maka, boleh dikatakan, tidak ada warga Azerbaijan yang tidak tahu kisah cinta Laila Majnun.
Apa yang terjadi kemudian bagi bangsa-bangsa yang disebutkan tadi? Tercipta generasi yang percaya diri dan bangga pada kekayaan intelektual bangsanya; menempatkan puisi sebagai capaian tertinggi produk budaya; dan memburu pengetahuan sebagai sumber kekuasaan dan kekayaan yang tiada akan habis seumur hidup.
Bagaimana dengan nasib sastrawan dan intelektual Indonesia. Di negeri ini, baru makam Hamzah Fansuri di Barus dan Raja Ali Haji di Pulau Penyengat yang jadi objek wisata religi dan edukasi. Bagaimana dengan makam Raja Penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah di Langkat? Lalu, di Jakarta, yang selama ini menjadi Ibu Kota negara, bagaimana dengan makam Chairil Anwar?
Itulah sesungguhnya tugas dan kewajiban pemerintah daerah menghargai sekaligus memanfaatkan popularitas dan reputasi tokoh penyair. Dapat kita bayangkan, jika makam Chairil Anwar dipugar dan disulap menjadi tempat wisata literasi dan edukasi, menjadi tempat baca puisi dan diskusi anak-anak muda, maka setiap saat para siswa akan datang ke sana, mencatat karya-karyanya, membaca puisi Chairil Anwar dan puisi karya penyair lain, menikmati para penyair senior unjuk kebolehan, dan seterusnya.
Mengingat reputasi Chairil Anwar sudah dikenal luas di mancanegara, setidaknya karya-karyanya dipelajari di 48 negara yang membuka program studi Indonesia, maka sangat mungkin makam Chairil Anwar menjadi bagian dari penelitian mereka. Terbuka pula peluang menyelenggarakan berbagai kegiatan sastra di tempat itu. Dampaknya apa? Perekonomian mikro akan tumbuh: orang berjualan cenderamata, dan lain-lain; mungkin juga akan lahir kebanggaan pada karya intelektual bangsa sendiri, dan seterusnya.
Jadi, sepatutnya para penyair, sastrawan, guru atau siapa pun yang memahami posisi Chairil Anwar sebagai tonggak perpuisian Indonesia, sebagai ikon sastra Indonesia, mendesak Pemerintah Provinsi Jakarta membangun Kompleks Pemakaman Chairil Anwar sebagai tempat wisata literasi dan edukasi.
Semoga …
(Dibacakan pada acara “Ziarah Kubur Chairil Anwar,” diselenggarakan Komunitas Taman Sastra Indonesia bertempat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, 26 Juli 2024)



