Mabur.co – Enam menteri dan kepala bidang baru di kabinet Merah Putih resmi menerima “kue reshuffle” dari presiden Presiden Prabowo Subianto, dalam acara pelantikan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).
Keenam menteri dan kepala bidang tersebut akan mulai bertugas di kabinet Merah Putih yang dipimpin presiden Prabowo Subianto, setidaknya sampai 2029 mendatang.
Dilansir dari laman ANTARA, Senin (27/4/2026), enam sosok baru itu di antaranya Mohammad Jumhur Hidayat (Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup), Hanif Faisol Nurofiq (Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan), Dudung Abdurachman Kepala Staf Kepresidenan), Muhammad Qodari (Kepala Bidang Komunikasi Pemerintah), Hasan Nasbi (Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi), dan yang terakhir adalah Abdul Kadir Karding (Kepala Badan Karantina Indonesia).
Jika melihat dari rekam jejak kinerja para menteri di kabinet Merah Putih ini, khususnya sejak demo besar-besaran pada Agustus 2025 lalu, tersirat satu kesimpulan sederhana, yang bisa jadi memiliki keseragaman satu sama lain, diantara semua menteri dan kepala bidang yang bertugas.
Ya, hampir semua menteri di kabinet ini, ketika menyampaikan statement kepada publik, seringkali bersikap ngegas, menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan, membela presiden, sekaligus nyinyirin rakyat atau pengkritik pemerintah.
Salah satu menteri hasil “kue reshuffle” yang cukup sering tampil di hadapan publik, tidak lain dan tidak bukan adalah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menggantikan posisi Sri Mulyani, pasca insiden demo Agustus 2025 tersebut.
Sebagai menteri yang paling “dekat” dengan urusan ekonomi masyarakat, tentu saja kiprah Purbaya sangat dinantikan, untuk bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia dari ancaman krisis, ketimpangan harga, dan seterusnya.
Namun belum apa-apa, Purbaya sudah langsung menuai kontroversi, akibat ucapannya soal tuntutan “17+8” (pasca demo Agustus 2025) yang dianggap hanya berasal dari sebagian masyarakat kecil yang hidupnya merasa terganggu, dan sebagainya.
Lalu ketika ditanya soal kondisi ekonomi (khususnya sejak peristiwa demo Agustus 2025), Purbaya seolah begitu percaya diri mampu mengatasi kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.
Namun faktanya, jika ditelusuri hingga saat ini, rasa percaya diri itu tampaknya sudah semakin memudar dengan sendirinya, setelah ia menjadi bagian dari “antek-antek Prabowo”.
Menarik untuk menantikan bagaimana kiprah keenam sosok baru di kabinet Merah Putih hasil “kue reshuffle” kali ini.
Setiap wawancara mereka kepada media akan selalu menjadi bumbu hangat, sekaligus perbincangan serius di dunia maya, ketika ucapan-ucapannya memicu kontroversi, menyerang atau menyalahkan rakyat, sekaligus membela atau bahkan “menyembah” kekuasaan presiden Prabowo.
Jika salah satu, beberapa, atau bahkan semua menteri ini kedapatan mengeluarkan statement atau kebijakan yang bertentangan dengan kehendak rakyat, maka siap-siap saja, akun media sosial mereka akan “dirujak” oleh netizen.
Dan siap-siap pula, buzzer pemerintah akan selalu membela mati-matian presiden Prabowo, termasuk para “antek-antek-nya” di kabinet Merah Putih, termasuk enam sosok anyar ini.
Dengan dukungan penuh dari pihak istana, para menteri ini sepertinya siap membuat kontroversi-kontroversi baru berikutnya, untuk membuat telinga rakyat menjadi panas dan bergetar. Sehingga “perang jari” pun seolah tidak dapat terhindarkan.
Padahal cukup dengan membuat kebijakan yang baik, sekaligus memberikan pernyataan yang “aman” serta “normatif”, niscaya kuping panas dan ancaman “perang jari” itu tidak perlu terjadi.
Namun dengan pola yang sudah terbentuk dari kabinet Merah Putih ini sejak awal pembentukannya, rasa-rasanya memang “perang” itu merupakan suatu keniscayaan, dan sebuah peristiwa besar yang tinggal menunggu waktu saja untuk “meledak” dengan sendirinya. (*)



