Pada hari ini, tanpa tanggal yang jelas karena waktu sudah terasa seperti loop delay yang tidak pernah dimatikan, kami memeriksa seorang individu yang mengaku sebagai penulis.
Ia duduk dengan tenang, terlalu tenang, seperti gitaris session yang tahu kapan harus masuk tanpa diminta. Namanya tidak penting. Yang penting adalah pengakuannya.
Ia menyatakan dengan sadar bahwa teknik gitar yang biasa digunakan oleh session guitarist telah ia pindahkan ke dalam praktik penulisan puisi modern. Ketika diminta menjelaskan, ia tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru terlihat bangga.
Subjek mengatakan bahwa semuanya bermula dari obsesinya terhadap permainan gitar yang tidak menonjol tapi selalu terasa.
Ia menyebutnya sebagai seni menyusup. Seperti frase yang tidak mencolok tapi tiba-tiba menjadi tulang punggung lagu.
Ia mengaku mencoba melakukan hal yang sama dalam puisi. Ia tidak lagi menulis untuk terlihat. Ia menulis untuk terasa.
Ketika kami tanya apa maksudnya, ia menjawab dengan kalimat yang mengganggu. Katanya, puisi yang baik itu seperti fill gitar yang tidak disadari pendengar, tapi jika dihapus, seluruh lagu runtuh.
Kami mencatat bahwa subjek mulai mengadaptasi teknik phrasing gitar ke dalam kalimat. Ia mengaku memperlakukan kata seperti not.
Tidak semua harus dimainkan. Tidak semua harus diucapkan. Ada ruang. Ada jeda.
Ia menyebutnya sebagai napas. Ia bahkan menggunakan istilah bending untuk menggambarkan bagaimana ia memelintir makna kata sampai hampir patah tapi tidak benar-benar putus.
Ketika diminta contoh, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa pembaca yang baik akan mendengar nada di antara kata-kata.
Subjek juga mengaku menggunakan teknik layering. Ia menulis satu kalimat sederhana, lalu menambahkan kalimat lain di bawahnya yang tidak langsung menjelaskan tapi memperkaya.
Seperti overdub gitar yang tidak pernah menjadi lead tapi selalu mempertebal suasana. Ia menyebut ini sebagai cara untuk membuat pembaca tersesat dengan sengaja.
Ia ingin pembaca merasa seperti berada di studio rekaman, mendengar sesuatu yang familiar tapi tidak bisa menunjuk sumbernya.
Ketika kami tekan lebih jauh, subjek mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak melihat batas antara musik dan bahasa. Ia mengatakan bahwa ritme adalah hukum utama. Tata bahasa hanyalah asesoris.
Ia bahkan mengaku pernah menghapus seluruh tanda baca dari sebuah puisi karena merasa tanda titik terlalu final, terlalu seperti chord yang dipetik keras di akhir lagu. Ia lebih memilih kalimat yang menggantung, seperti delay yang terus memantul.
Subjek juga menyebut teknik ghost note. Ia bilang dalam gitar, ada not yang dimainkan sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi memberi groove. Dalam puisinya, itu adalah kata-kata yang tampak tidak penting.
Kata sambung, kata pengisi, bahkan kesalahan kecil yang disengaja. Ia percaya bahwa justru di situlah nyawa tulisan berada. Kami mencatat bahwa ini adalah bentuk penyimpangan dari norma penulisan yang rapi dan jelas.
Ketika ditanya apakah ia sadar bahwa ini bisa membingungkan pembaca, ia tertawa. Tertawa panjang. Ia mengatakan bahwa kebingungan adalah bagian dari pengalaman.
Ia membandingkan pembaca dengan pendengar yang pertama kali mendengar improvisasi gitar. Tidak semua langsung mengerti. Tapi yang bertahan akan menemukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Subjek juga mengaku menggunakan teknik call and response dalam puisinya. Ia menulis satu baris seperti pertanyaan, lalu menjawabnya dengan baris lain yang tidak selalu relevan secara logika.
Ia bilang ini seperti dialog antara dua gitar dalam satu lagu. Kadang harmonis, kadang bertabrakan. Ia menganggap konflik itu penting.
Ia bahkan mengatakan bahwa puisi yang terlalu rapi adalah seperti solo gitar yang terlalu bersih, teknis tapi tidak punya jiwa.
Kami menemukan bahwa subjek tidak hanya meminjam teknik, tapi juga mentalitas. Ia melihat dirinya sebagai session writer. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Ia ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, meskipun sesuatu itu tidak jelas bentuknya. Ia menolak konsep penyair sebagai sosok yang harus punya suara unik. Ia lebih tertarik menjadi suara yang bisa masuk ke mana saja.
Ketika kami tanyakan apakah ini bentuk pelarian dari identitas, ia menjawab tidak. Ia bilang ini justru bentuk kejujuran.
Ia tidak percaya pada orisinalitas yang dipaksakan. Ia lebih percaya pada kemampuan untuk beradaptasi. Ia bahkan mengatakan bahwa puisi yang baik itu seperti permainan gitar yang bisa masuk ke lagu apa saja tanpa merusaknya.
Subjek kemudian mulai berbicara tentang dinamika. Ia mengatakan bahwa banyak penulis lupa tentang keras dan lembut.
Semua ditulis dengan intensitas yang sama. Ia mengaku sengaja membuat bagian tertentu sangat datar, hampir membosankan, lalu tiba-tiba meledak dengan kalimat yang panjang dan penuh emosi.
Ia menyebut ini sebagai cara untuk menjaga perhatian pembaca, seperti lagu yang tahu kapan harus menahan dan kapan harus melepaskan.
Kami mencatat bahwa subjek menunjukkan pola pikir yang tidak konvensional. Ia tidak melihat puisi sebagai teks, tapi sebagai performa.
Ia bahkan mengaku sering membaca puisinya dengan suara keras, mencoba merasakan apakah ritmenya bekerja seperti riff gitar. Jika tidak, ia akan mengubahnya, bukan berdasarkan makna, tapi berdasarkan rasa.
Ketika ditanya apakah ia masih peduli pada makna, ia menjawab dengan tenang bahwa makna itu overrated.
Ia lebih peduli pada pengalaman. Ia ingin pembaca merasakan sesuatu, meskipun tidak bisa menjelaskan apa. Ia menganggap ini sebagai bentuk komunikasi yang lebih jujur.
Pada titik ini, kami mulai mempertanyakan kewarasan subjek. Ia tampak tidak melihat masalah dengan pendekatannya. Ia bahkan menyarankan bahwa lebih banyak penulis harus belajar dari musisi. Ia mengatakan bahwa musisi lebih jujur karena mereka tidak bisa bersembunyi di balik kata-kata.
Subjek juga mengaku bahwa ia sering menulis dengan mendengarkan gitar. Bukan lagu lengkap, hanya track gitar.
Ia mencoba menulis mengikuti phrasing yang ia dengar. Ia mengaku bahwa ini menghasilkan puisi yang aneh, tapi justru di situlah ia menemukan sesuatu yang baru.
Ketika kami tanyakan apakah ia pernah gagal, ia menjawab tentu saja. Banyak tulisannya tidak bisa dibaca.
Tidak masuk akal. Tapi ia tidak melihat itu sebagai kegagalan. Ia melihatnya sebagai eksperimen. Ia mengatakan bahwa tidak semua improvisasi gitar berhasil, tapi itu tidak menghentikan gitaris untuk mencoba.
Subjek kemudian menutup pengakuannya dengan pernyataan yang kami anggap sebagai inti dari seluruh penyimpangan ini. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin menulis puisi yang bisa dimengerti. Ia ingin menulis puisi yang bisa didengar.
Kami mencatat bahwa subjek tidak menunjukkan penyesalan. Ia tidak melihat tindakannya sebagai kesalahan.
Ia justru menganggapnya sebagai evolusi. Kami juga mencatat bahwa pendekatannya berpotensi memengaruhi penulis lain, terutama yang mudah terpengaruh oleh ide-ide baru tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Dengan demikian, pemeriksaan ini ditutup tanpa kesimpulan yang jelas. Apakah subjek bersalah atau hanya terlalu jauh melangkah, kami tidak bisa memastikan.
Yang jelas, ia telah membuka kemungkinan yang tidak nyaman. Kemungkinan bahwa puisi tidak harus patuh pada aturan yang selama ini kita anggap sakral. ***



