Semakin jauh ke pedalaman Mamasa-Sulbar berbatasan langsung dengan Tana Toraja. Jalan berkelok dengan kondisi rusak parah, tebing curam di kanan kiri, seperti mulut raksasa yang siap menelan sewaktu-waktu jika tidak mawas diri dan berhati-hati mengendalikan mobil yang dikendarai.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/
Di sini sinyal HP benar-benar padam total. HP semahal apa pun saatnya menganggur, baiknya segera disisihkan ke dalam tas.
Baca Juga: https://mabur.co/budaya/nasib-bahasa-daerah-rumpun-mandar-sulawesi-barat-bagian-2/
Selamat tinggal medsos, selamat tinggal panggilan-panggilan yang meresahkan, ini benar-benar area blank spot. Mari kembali menjadi manusia seutuhnya, harmonis dengan semesta raya.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/rumpun-bahasa-mandar-sulbar-di-mamuju-tengah-dan-majene-bagian-3/
Tak mau menghitung kelok dan panjang jalan menuju Nosu dari Mamasa kota. Mungkin hanya saya dan satu teman lagi dari Polewali Mandar yang bukan orang Mamasa dalam perjalanan ini.
Orang Mamasa
Teman-teman yang mengantar kami ke Nosu semua orang Mamasa, meskipun dari kecamatan yang berbeda-beda.
Bahasa mereka sama, hanya sedikit dialek yang berbeda namun tetap nyambung antara satu dengan yang lainnya jika sedang berbincang.
Sepanjang perkenalan saya dengan mereka, semuanya kelahiran Mamasa, bapak ibu mereka rata-rata dari Mamasa, minimal dari rumpun Ulu Salu (Rumpun Toraja Barat). Sehingga bahasa ibu mereka sehari-hari juga dalam bahasa rumpun Ulu Salu atau Mamasa.
Dari Mamasa Kota ke Tanduk Kalua, lalu Sumarorong, saat kami berbincang dengan orang-orang di masing-masing kecamatan itu bahasanya sama.
Tak terasa kami akhirnya tiba di gunung tertinggi sebelum menurun ke Nosu. Dari puncak ini, Nosu nampak seperti sajadah panjang hijau menghampar, berada di lembah, serupa mangkuk yang menampung rumah-rumah Banua Layuk (serupa Tongkonan Toraja) berjejer rapi di tepi-tepi sawah berundak.

Ada sungai dan jalan desa membelah tengahnya, berkelok hingga ke pinggang bukit, anak-anak bermain riang di antara pematang.
Beberapa petani pulang dari sawah seusai musim tanam, gereja menguning diterpa senja nampak di kejauhan, timbul tenggelam dalam kabut sore.
Perkampungan dalam balutan desa dengan bahasa nan eksotik, menepi di bukit-bukit di antara derit bambu dan julangan pinus yang berderet sepanjang bukit.
Tiba di Nosu, semua orang, pemangku desa, anak muda, ibu rumah tangga, anak-anak kecil, semua berbicara dalam bahasa Mamasa dialek Nosu.
Dalam cuaca dingin mereka asyik berbincang. Di sini saya tak berani melihat pengukur suhu. Kalau kau mau tahu, letakkanlah tanganmu pada potongan es batu dalam air.
Sebab saat sikat gigi jelang tidur di malam hari, lidah saya serasa membeku dan uap udara berhamburan dari mulut saat bicara.
Saya juga tak berani melihat pengukur MDPL. Tapi saya duga dinginnya sekira 10 derajat celcius, di atas ketinggian antara 1000-1500 MDPL. (Bersambung).
