Menjajaki Kemungkinan Bahasa Daerah di Medsos Dapat Insentif Komdigi (Bagian 1)

3 Min Read
Delegates at a formal meeting with country nameplates (Haiti, Guyana, Indonesia, Iran, Japan); a woman in a pink suit and hijab sits with a man.
Menkomdigi, Meutya Hafid, dalam WSIS Forum 2026 Ministerial Roundtable di Jenewa, Swiss. (Foto: Komdigi RI)

Meski surat resmi atau juknis tentang insentif Komdigi bagi yang berkonten bahasa daerah belum dipublikasikan, namun kementerian Komdigi bersama Kemendikdasmen dorong konten kreator menggunakan bahasa daerah di media sosial.

Tujuannya melestarikan bahasa-bahasa daerah di tanah air. Seperti bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Batak, Mandar, Kaili, dan -+700 bahasa daerah lain yang mulai ditinggalkan masyarakat, terutama di kalangan milenial dan Gen Z.

Programnya: kreator yang rutin bikin konten edukasi bahasa daerah, seperti kosa kata, percakapan, cerita rakyat, bisa dapat insentif dan dukungan promosi dari Komdigi.

Bangga Pakai Bahasa Ibu di Ruang Digital

Selain menjaga warisan budaya, ini juga mendukung milenial dan Gen Z lebih bangga pakai bahasa ibu di ruang digital. Kontennya bebas, vlog, komedi, tutorial, asal pakai bahasa daerah.

“Teknologi digital harus menjadi jembatan antara inovasi dan kebudayaan. Bahasa lokal, pengetahuan adat, dan komunitas lokal harus menjadi bagian dari masa depan digital,” ujar Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, melalui website resmi Komdigi RI.

Persoalannya, tidak semua bahasa daerah di seluruh Indonesia sama populernya. Dari -+700 bahasa daerah itu, hanya beberapa di antaranya yang populer, terutama yang masyarakat penuturnya lebih banyak.

Seperti bahasa Jawa, Minang, Bugis, Batak dan tak banyak lagi lainnya. Ada pun bahasa-bahasa lain yang datang dari suku bangsa dengan persebaran penduduk yang relatif kecil, semisal beberapa suku dan sub suku di Papua, Sulawesi, NTT, pelosok Maluku dan banyak lagi lainnya, tentu tidak sepopuler dengan beberapa bahasa yang saya sebutkan di atas.

Karena hubungannya dengan konten digital, viralitas adalah hukum utamanya. Artinya semakin banyak penuturnya semakin tinggi pula potensinya untuk viral atau FYP jika dikaitkan dengan algoritma media sosial dan lainnya.

Tantangan dan Peluang

Namun justru ini adalah tantangan dan peluang. Tantangannya tentu pada konten kreator, sedangkan peluangnya adalah ini kesempatan baik bagi negara (Komdigi) untuk memupuk nasionalisme dan kebanggaan terhadap bangsa sendiri.

Salah satu contohnya saya akan suguhkan secara lengkap di sini. Saya pernah menulis satu catatan perjalanan yang komprehensif tentang persebaran salah satu bahasa daerah di Indonesia, yaitu bahasa Mandar, salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di Sulawesi Selatan di masa lalu (sekarang Sulawesi Barat) dan rumpun bahasa Mandar itu sendiri tersebar hampir di seluruh wilayah Sulawesi Barat.   

Mandar dan bahasa Mandar menjadi sesuatu yang asing. Asing di rumah sendiri. Orang Mandar lahir di Mandar, bisa berbahasa dalam berbagai versi bahasa Mandar, tetapi tak mengenal Mandar secara mendalam sebab pengetahuannya tentang bahasa Mandar sangat minim.

Belum lagi ditambah persoalan sub etnis Mandar yang begitu kaya. Hampir setiap kecamatan bahkan per desa berbeda bahasa. Minimal dialek. (Bersambung).

TAGGED:
Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar