Mabur.co – Dunia sepakbola nasional kembali dihebohkan dengan insiden buruk yang menyita perhatian seluruh dunia.
Kali ini insiden tersebut dilakukan oleh seorang pemain muda yang masih berusia 17 tahun, dan memperkuat tim junior.
Dia adalah Fadly Alberto Hengga, striker dari Bhayangkara Pressisi Lampung FC U-20, yang melakukan tendangan kungfu terhadap pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, dalam lanjutan pertandingan di Elite Pro Academy (EPA), antara Bhayangkara FC U-20 menghadapi Dewa United U-20, yang berlangsung di Stadion Citarum, Semarang, akhir pekan lalu.
Menurut pengakuan dari beberapa pihak yang berada langsung di lokasi, kejadian itu dipicu oleh tindakan rasis yang dilakukan kubu Dewa United, setelah pertandingan usai.
Beberapa saat kemudian, Fadly melalui akun Instagram pribadinya menyampaikan penyesalan mendalam atas tindakan tersebut, sekaligus meminta maaf kepada korban serta klub Dewa United U-20. Fadly pun menyebut tindakannya sebagai “perbuatan bodoh”.
Meskipun telah menyatakan permohonan maaf, namun Fadly tidak akan luput dari sanksi tegas oleh sejumlah pihak.
Mulai dari sanksi komisi disiplin (komdis) PSSI, hukuman larangan bertanding yang cukup lama, sanksi internal dari pihak klub, dicoret dari timnas Indonesia U-20, potensi pemutusan kontrak sponsor, dan masih banyak lagi.
Cerita ini seolah mengulang sejarah kelam persepakbolaan Indonesia, yang hampir tiap tahunnya tidak pernah lepas dari kontroversi maupun insiden buruk.
Ujung-ujungnya jelas, tidak hanya sang pemain maupun klubnya, Bhayangkara FC, yang akan merasa dirugikan dari insiden ini.
Industri sepakbola secara keseluruhan juga akan terkena imbasnya, akibat “perbuatan bodoh” yang satu ini.
Sejak kasus Kanjuruhan pada 2022 saja, FIFA sudah menaruh “perhatian lebih” terhadap sepakbola Indonesia, entah itu yang sifatnya positif maupun negatif.
FIFA bahkan ikut mendirikan kantor di Indonesia (Jakarta), yang diresmikan pada November 2023 lalu, satu tahun setelah tragedi Kanjuruhan berlangsung.
Begitu besarnya “perhatian” FIFA terhadap sepakbola Indonesia, yang jelas-jelas menyimpan potensi berharga, untuk menjadi ladang keuntungan besar-besaran bagi mereka, melalui turnamen maupun program yang mereka adakan untuk dunia sepakbola secara keseluruhan.
Namun di sisi lain, FIFA juga menaruh “perhatian” yang sangat tinggi terhadap potensi terjadinya kerusuhan maupun insiden seperti yang dilakukan oleh Fadly Alberto.
Sehingga mau tidak mau, peristiwa semacam ini haruslah menjadi catatan penting bagi seluruh insan persepakbolaan nasional, agar FIFA tidak segera “pasang badan” dan menjatuhkan sanksi berat kepada sepakbola Indonesia, seperti yang pernah terjadi pada 2015 lalu.
Tentunya tidak ada yang pernah menyangka, jika striker muda potensial masa depan timnas Indonesia (yang bukan “antek-antek asing) ini justru kembali mengulang wajah lama sepakbola Indonesia, yang sangat lekat dengan kekerasan, kerusuhan, bahkan kehilangan korban jiwa.
Itu artinya, belum ada yang berubah dari sepakbola Indonesia sejak dulu hingga sekarang, sekalipun sudah selangkah lagi menuju Piala Dunia 2026 berkat bantuan pemain “antek-antek asing” dari benua sebelah.
Jika meminjam sebaik lirik lagu berjudul “Salah Apa Aku” yang sempat viral dari grup band ILIR7 yakni “Entah Apa yang Merasukimu?” Maka kalimat itu sepertinya sangat cocok menggambarkan situasi yang dialami oleh Fadly Alberto saat ini.
Jadi, entah apa yang merasukimu, Fadly Alberto? (*)



