Begitu memasuki halaman, suasana langsung berbeda dari hiruk-pikuk jalanan Kotagede pada umumnya. Bangunan bergaya rumah klasik kaum ningrat ala Kesultanan Yogya dengan tata letak yang sederhana, berbagai perabot di dalamnya, di teras, di ruang tamu nDalem, di resto kafe bagian kanan dan di halaman yang rindang, dengan berbagai jenis tanaman, membuat lingkungan sekitar menjadi lebih asri.
Di sisi kiri dari pintu masuk, ada space Toko Buku Natan atau yang viral di media sosial dengan nama Natan Book.
Berkonsep toko buku di kawasan heritage Kotagede, memiliki dua pintu, baik dari depan, langsung masuk dari Jalan Mondorokan No. 5 Prenggan, Kotagede, maupun dari samping atau dari halaman nDalem Natan itu sendiri.
Nuansa Klasik
Di dalam toko buku yang bernuansa klasik ini, pencahayaan terasa hangat, rak-rak kayu penuh buku, serta aroma kertas dan kopi menciptakan suasana yang tenang dan mengundang untuk berlama-lama.
Melihat-lihat, membeli dan membaca buku di sini. Koleksi buku di Natan Book cukup beragam. Mulai dari buku baru, buku bekas impor, hingga karya-karya dari penerbit lokal dan zine.
Tema sastra, sejarah, antropologi dan pemikiran menjadi titik yang bisa saja paling lama disinggahi. Penataan bukunya tidak kaku, sehingga pengunjung bebas menjelajah dan menemukan judul-judul yang tidak biasa ditemukan di toko buku konvensional. Yang membuat kunjungan kali ini begitu berkesan, sebab bisa bertemu langsung dengan Nasir Tamara, pemilik Natan Book.
Beliau menyambut dengan ramah dan kami berbincang mengenai banyak hal, tentang pengalaman beliau kuliah di Sorbonne Prancis setidaknya kurang lebih sepuluh tahun, dari S1-S3, bagaimana beliau menulis dan mendorong peningkatan literasi di tanah air, bagaimana menulis dan membangun kritisisme, plus bagaimana gagasan beliau di balik berdirinya ruang literasi bergaya klasik, tapi sekaligus modern tersebut.

Natan Book ingin menjadi ruang yang mempertemukan buku, orang, dan percakapan. Bukan sekadar tempat jual-beli, tetapi juga ruang untuk membaca, berdiskusi, dan merawat budaya literasi. Beliau memungkasi percakapan kami sore itu.
Rak Buku Disusun Serius
Dari Natan Book betapa dalam terasa bahwa setiap rak buku dan sudut ruangan memang sengaja disusun dengan penuh perhatian.
Setidaknya Natan Book mengingatkan bahwa di tengah kecepatan zaman, masih ada tempat yang menghargai kesunyian: membaca dengan tenang, berbincang dengan niat, dan menghormati buku sebagai teman berpikir.
Bagi siapa pun yang sedang di Yogyakarta dan mencari suasana membaca yang teduh, Natan Book di Kotagede layak untuk dikunjungi. ***
