Kegelapan total akibat abu vulkanik menyelimuti Banten di siang bolong. Suara dentuman maha dahsyat terdengar beruntun, dan bumi bergetar hebat.
Penduduk panik berlarian ke sana ke mari tak tentu arah, keputusasaan melanda menghadapi kekuatan alam yang luar biasa destruktif.
Di halaman rumah dan di sepanjang jalan, para tetua kampung memukul-mukul tanah sambil berteriak: “Ayaaa’… ayaaa’…?” (ada apa…ada apa?)
Mereka bicara pada tanah, apa yang terjadi denganmu, kenapa getaran ini begitu dahsyat? Karena mereka percaya, ketika bumi bergetar itu berarti ada kerbau yang sedang bertarung di dalam tanah.
Kesaksian Historis Antropolog Belanda
Begitulah Rudolf Mrázek, antropolog Belanda, kelahiran Praha, menulis ulang kesaksian historis catatan seorang saksi mata era kolonial Belanda, O.W.J. Van Sandick, tentang kepanikan luar biasa di pesisir barat Jawa saat letusan Krakatau tahun 1883 terjadi.
Gambaran itu selaras pula dengan cara Mrázek memotret kepanikan eksistensial manusia Nusantara di bawah teror letusan Krakatau.
Mrázek menganalisis momen-momen mengerikan di Banten saat itu, merefleksikan benturan telak antara manusia dan ketidakberdayaan di hadapan “alam kolonial” yang liar.

Sebelum akhirnya era modern, sains, dan birokrasi kolonial mencoba masuk untuk mengukur, memetakan, dan menguasai ruang-ruang tersebut pasca-bencana. Saat itu rakyat sedang dalam ancaman pemerintahan yang dikendalikan oleh Belanda.
Di sisi lain mereka juga harus menghadapi letusan dahsyat Gunung Krakatau. Betapa sejarah tak selalu memihak bagi yang lemah, rakyat kecil yang jauh dari akses pengetahuan dan kekuasaan, sehingga merekalah yang menjadi korban utama Gunung Krakatau saat itu.
Alam Gelap Penuh Kekacauan
Dalam buku Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (terbit 2002) karya Rudolf Mrázek, ia membuka tulisannya di bab awal tentang letusan Krakatau 1883 dengan menggambarkan bagaimana alam kolonial yang “gelap” dan penuh kekacauan, dihadapi oleh masyarakat lokal maupun pemerintah kolonial sendiri.
Bandul jam sejarah terus merambat menyimpulkan waktu, namun sejarah kadangkala tak ubahnya bandul jam itu sendiri.
Ia seperti membangun siklus dalam rotasi, seolah mengejek kita yang sering amnesia sejarah. Bahwa kolonialisme, penindasan, ketidakadilan pada rakyat lemah, seringkali mengundang bencana atas bisikan mikrokosmos (jagad alit) hati manusia, wong cilik, ke telinga makrokosmos alam semesta (jagad gede).
Pada puncaknya, semesta tak sanggup lagi menyaksikan tumpahan air mata kaum papa, rakyat kecil. Maka semesta akan menyelesaikan dengan caranya sendiri. Letusan gunung, kebakaran hebat, banjir bandang, gempa bumi dan tsunami, bukankah itu cara semesta mengusap air matanya sendiri? ***
