Saya penyintas stroke. Bertahun-tahun saya merasa cara jalan saya terus membaik.
Tapi berkali-kali pula saya berkaca atau lewat rekaman video, ternyata saya masih pincang.
Stroke saya di sebelah kanan. Terutama di keramaian, kadang saya terseok-seok dan bahkan kaki seperti (dan memang) saya seret.
Di stasiun Pasar Minggu, peristiwa kejadiannya. Saya sering dihadang petugas, ini hampir di semua stasiun, ketika minta melintas di barisan (prioritas): orang tua, ibu hamil, dan yang sedang sakit.
Saya terpaksa bersikeras untuk dibolehkan, seringkali juga saya melalui jalur umum untuk mencoba terlihat sehat.
Kadang-kadang menghibur diri, “Ah saya kan masih terlihat muda dan sehat.”
Kalau sudah di dalam KRL, saya sering tidak meminta “hak sebagai penumpang kategori prioritas”.
Ribet saja ketika penuh, sekalian lagi-lagi, merasa kuat dan disehat-sehatkan.
Pernah sekali waktu, saya mendekat tempat penumpang yang segera turun. Saya penumpang terdekat segera saya duduk.
Semua orang yang melihat kaget, dan ada yang sempat ngomong harusnya untuk yang lebih membutuhkan. Nggak mungkin saya berdiri, saya juga butuh.
Ketika saya turun mereka baru mengerti betapa susah payahnya saya. Dan saya memilih ke sisi tepi pintu, saya harus berpegangan besi dekat sandaran di ujung tempat duduk persis pintu naik turun.
Tentu yang paling menyakitkan, saya diteriaki penumpang perempuan saat saya masuk gerbong wanita.
Kenapa bisa? Pada jam-jam sibuk, saya susah berdiri presisi pada gerbong bukan paling depan atau paling belakang.
Bukan maunya saya, sekali waktu, di depan saya berdiri mau masuk pas di gerbong wanita paling belakang.
KRL tidak berhenti lama, saya naik. Kontan seisi gerbong teriak, “Ini gerbong wanita,” respons mereka. Saya segera turun.
Biasanya saya temparemental melawan. Tapi, saya sangat terkejut dengan respons seolah saya melakukan kejahatan besar. Dan saya turun. Menuju gerbong umum?
Ya mana terkejar jalannya pincang-pincang, apalagi sehabis kaget. Ya saya nunggu KRL berikutnya.
Saya bingung juga dengan publik kita, soal sepele diteriakin. Bukankah pada ruang publik empati seharusnya lebih mudah dilakukan?
Dalam kasus saya, bukankah gerbong wanita, setelah penumpang naik bisa berpindah gerbong (pintu bordes tidak terkunci kan?). Pas saya tidak ngotot ingin duduk atau bertahan di gerbong wanita kan?
Kecuali setelah kereta jalan, saya tidak mau pindah gerbong.
Sungguh, saya kaget, biasanya perempuan lebih sensitif membaca keadaan… ***



