Biasanya di ruang-ruang kelas universitas di Indonesia, saat semester satu atau dua beranjak, seringkali mahasiswa disuguhi teori Barat dengan segala atributnya, sementara di universitas timur tengah, khususnya di Al-Azhar, mahasiswa lebih dikenalkan dasar-dasar ilmu agama (ulummiddin) dan relasinya dengan humaniora.
Kisah berbeda bagi mahasiswa yang ada di Iran, menurut pengakuan para alumninya, hingga semester dua, seluruh mahasiswa diwajibkan secara akademik membaca karya sastra Shahnameh karya Hakim Abulqasim Firdausi.
Kenapa demikian? Mungkin saja Firdausi tidak sedang menulis dongeng sebelum tidur; tetapi ia sedang “memahat” karakter bangsa Persia dengan patriotisme yang pantang tunduk.
Shahnameh adalah nyawa yang merawat bahasa, sejarah, dan martabat Iran pasca-penaklukan Arab, dan hari ini, epik itu hidup kembali, berdenyut keras di Selat Hormuz.
Apa yang diajarkan oleh karakter seperti tokoh utama Rustam, pahlawan legendaris yang membela Iran dari ancaman luar, jika bukan tentang keteguhan prinsip?
Rustam dalam Shahnameh bukanlah pahlawan yang meratapi nasib; ia bergerak, ia melawan. Karakter bangsa Iran hari ini, yang dibentuk oleh salah satunya karya epik ini, adalah campuran dari kelembutan sastra dan keteguhan pertahanan. Iran tidak memandang dunia dengan kacamata kelemahan, keterbatasan dan ketakutan.
Ketika Menlu Iran, Abbas Araghchi, menegaskan di Instagram bahwa Selat Hormuz adalah jalur kedaulatan yang diatur, ia berbicara dengan nada diplomatik yang halus, khas penyair Persia, namun dengan ketegasan seorang Rustam.
Selat itu, jalur urat nadi 20% minyak dunia, saat ini memang berada di bawah kuasa 100% Iran, sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan AS sejak awal perang di akhir Februari 2026.
Inilah paradoks geopolitik teranyar: AS dan Israel, penganut narasi “keunggulan militer”, “keunggulan teknologi”, “keunggulan sekutu”, dan seterusnya, tampaknya lebih sibuk dengan “perang opini” —sebuah usaha sia-sia untuk menutupi rasa malu dari kekalahan lapangan.
Sementara itu, di perairan yang tak seberapa itu, Panglima Angkatan Laut Iran, Jenderal Syahram Irani, telah mengubah doktrin dari sekadar menjaga Teluk Persia menjadi Blue Water Navy, membawa kapal perusak Dena dan Armada 86, berlayar mengelilingi dunia, menembus samudra, dan mendikte siapa yang boleh lewat.
Kini, Selat Hormuz tidak lagi menjadi jalan umum. Ia telah berubah menjadi panggung kedaulatan, di mana semua negara —kawan maupun lawan— harus melakukan lobi langsung ke Teheran, baik di meja runding, atau memilih membayar “retribusi” atas keamanan, dengan 1 dolar untuk setiap 1 barel minyak yang melintas.
Iran menang di medan perang, menang di meja runding, dan memenangkan narasi global.
Shahnameh mengajarkan bahwa sejarah berputar dalam siklus. Saat ini, siklusnya berpihak pada warisan bangsa Persia yang sadar akan kekuatannya.
Iran membuktikan bahwa dengan memegang teguh identitas, sejarah, dan keberanian, sebuah bangsa dapat menguasai ujung tombak geopolitik dunia, bahkan ketika dikepung oleh sanksi puluhan tahun. Mungkin Selat Hormuz kini bukan hanya perairan; ia adalah ayat-ayat Shahnameh yang ditulis ulang dengan darah dan baja. Wallahu’alam.



