Saya tidak pernah benar-benar berhenti menjadi musisi: saya hanya berhenti membawa instrumen fisik.
Pada satu titik, ketika tubuh mulai menolak jadwal latihan yang tak manusiawi, ketika gendang telinga lebih cepat lelah dibanding metronom digital yang tak punya belas kasihan, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak perlu lagi berdiri di depan ampli untuk merasakan musik.
Barangkali saya hanya perlu kalimat yang berdenting di kepala. Banyak orang menyebut itu semacam transisi, tapi bagi saya, ini lebih mirip transliterasi —memindahkan sesuatu yang pernah hidup sebagai suara menjadi sesuatu yang sekarang berdetak sebagai teks.
Di sinilah seluruh proyek Tentang Puisi dan Jazz dimulai: bukan sebagai nostalgia, bukan sebagai catatan kaki dari masa lalu, melainkan sebagai lanjutan dari kerja musikal yang enggan menua, tapi mesti mencari bentuk lain agar tetap bertahan.
Saya menulis esai-esai seperti ini bukan karena ingin menjelaskan jazz —seni yang semakin kita jelaskan akan semakin kabur— melainkan karena saya ingin mempertahankan jenis perhatian yang dulu hanya saya temukan ketika memegang instrumen: perhatian penuh, yang membuat napas terasa punya ritme, sumbu waktu memanjang, dan tubuh menjadi medium bagi sesuatu yang entah datang dari mana.
Menulis, ternyata, menghasilkan struktur disiplin yang serupa: ia menuntut saya mendengar ulang apa yang tidak terdengar, menakar jeda seperti menakar rest dalam bar keempat, memperlambat frasa seperti memperlambat improvisasi yang nyaris pecah.
Dan setiap kali saya menemukan satu kalimat yang jatuh tepat di tempat yang seharusnya, saya merasakan ketukan yang sama seperti dulu ketika not fals atau dissonans, saya akhirnya menemukan akor yang benar.
Ada yang bilang musik itu abadi dan teks itu statis, saya kira itu hanya pernyataan dari orang yang belum pernah melihat kata bekerja seperti senar yang baru disetem.
Teks punya getarannya sendiri —lebih pelan, lebih dalam, dan sangat pendendam. Ia bisa membalas dendam pada waktu dengan cara yang tak bisa dilakukan musik: ia menyimpan ritme, bukan hanya memainkannya.
Ketika saya berhenti menjadi musisi, saya tidak kehilangan ritme itu, saya hanya kehilangan medium tampilannya.
Menulis esai ini menjadi cara saya menampung residu-residu musikal yang terus mengganggu, semacam gema yang menolak padam. Dan gema itu, bila tidak diberi rumah, akan terus berkeliaran seperti nada panjang yang tidak pernah mencapai kadensa.
Saya juga menulis karena menyadari bahwa jazz dan puisi berbagi cara hidup yang sama-sama neurotik: keduanya memuja ketidakteraturan, keduanya terobsesi pada bentuk yang tidak pernah final, keduanya mencurigai stabilitas, dan keduanya percaya bahwa makna paling penting sering muncul sebagai kesalahan yang tidak sengaja.
Dalam musik, saya belajar bahwa ketepatan ritmis bahkan tidak sepenting kejujuran bunyi, dalam puisi, saya belajar bahwa sintaksis terbaik adalah yang berani meleset.
Esai-esai seperti ini adalah ruang tempat saya menyatukan dua neurosis itu —melihat bagaimana improvisasi bekerja dalam kalimat, bagaimana enjambemen bekerja seperti modifikasi skala, bagaimana puisi dapat menjadi solo yang tidak membutuhkan saksofon, dan bagaimana jazz dapat menjadi metafor paling jujur tentang bahasa yang selalu ingin kabur dari keteraturan.
Saya menulis Tentang Puisi dan Jazz untuk menghindari perang dingin dengan diri sendiri. Karena jika saya berhenti mendengar musik, saya tahu saya akan mulai membenci puisi, dan jika saya berhenti membaca puisi, saya tahu musik akan terasa terlalu sentimental.
Jadi saya pilih jalan tengah: menyusun esai yang mempertemukan keduanya seperti dua orang yang dulu saling jatuh cinta tetapi kini hanya saling memahami.
Ini bukan rekonsiliasi, bukan pula nostalgia, ini lebih mirip hidup bersama setelah perceraian. Saya menulis agar musik yang dulu saya mainkan tidak berubah menjadi museum, saya menulis agar puisi yang sekarang saya cintai tidak berubah menjadi dogma.
Dan jika pada akhirnya proyek ini terdengar seperti upaya mempertahankan diri dari kehilangan, mungkin itu benar.
Sebab jika satu hal yang saya pelajari dari jazz dan puisi, itu adalah: apa pun yang tidak dirawat akan lenyap tanpa ritme, tanpa kata, dan tanpa alasan. ***



