Perang perang lagi semakin menjadi
Berita ini hari berita jerit pengungsi
Kutipan syair di atas merupakan petilan lagu berjudul Puing karya Iwan Fals yang dirilis dan populer pada 1981. Isi syair lagu itu sangat relevan dengan situasi perang, kapan pun perang itu terjadi.
Belum menginjak hari ke-30 perang di Timur Tengah antara Iran-Israel-Amerika meledak, sudah banyak negara yang terimbas. Misalnya Kuba, Filipina, dan Sri Lanka. Filipina adalah negara yang pertama kali mendeklarasikan krisis energi sebagai imbas perang.
Kuba dan Sri Lanka bahkan sebagian daerahnya sudah gelap gulita karena berkurangnya pasokan listrik.
Jika hitungan hari dalam perang bertambah, jelas akan menambah deret negara sebagai korban imbas perang.
Indonesia juga sudah mengantisipasi. Penghematan BBM mulai dilakukan.
Ada daerah yang ASN-nya mengimbau untuk kembali naik sepeda. Bahkan Presiden Prabowo juga sudah sosialisasi adanya Work From Home (WFH) bagi ASN pada hari tertentu seperti saat Covid-19 melanda.
Sampai di sini yang terpenting dipetik sebagai pelajaran kenapa perang berimbas pada negara lain? Harusnya ini tidak terjadi. Urusan antar-kekuatan militer bisa diselesaikan sendiri antar-kekuatan militer tersebut.
Selebihnya, perlu kembali ditengok perihal kemandirian apa pun bagi setiap negara, terkait energi sumber daya alam, pangan, dan lain-lain, agar jika terjadi huru-hara dunia baik berupa perang atau apa pun bisa diatasi.
Ingat orang Jawa mengenal adanya konsep lumbung dan pagebluk.
Lumbung adalah tempat untuk menyimpan bahan makanan dengan jangka waktu yang panjang. Sedangkan pagebluk adalah datangnya wabah, bisa berupa penyakit menular dan sejenisnya.
Sebenarnya di era kini, konsep lumbung sudah mengejawantah menjadi banyak alternatif. Ada bank, ada koperasi, ada investasi emas, ada gudang beras, dan yang sejenis lainnya.
Namun semua itu tetap harus mendapatkan jaminan perlindungan bahwa ketika benar-benar terjadi huru-hara, kepemilikan investasi dalam lumbung seperti bank dan sejenisnya tidak ikut hilang. Entah terjarah atau apa pun.
Artinya negara harus benar-benar menjamin lumbung investasi ini aman bahkan ketika huru-hara yang datang adalah berupa perang. Bagaimana teknis inventarisasinya itu yang penting dipertimbangkan.
Kalau melihat peristiwa perang di Timur Tengah hari ini yang berbahaya adalah perang itu menghancurkan segala-galanya. Investasi dan lain-lain.
“Perang” di Jepang saat gempa datang, berupa guncangan bumi yang bisa meluluhlantakkan tempat tinggal, kantor, atau apa pun, dan itu sering terjadi, tidak menghilangkan inventarisasi investasi warganya.
Hal itu juga perlu menjadi perhatian tersendiri dan setiap negara harus mampu mengatasinya.
Bukan malah membiarkan perang dan pagebluk terjadi, semakin merajalela, dan warga negaranya terkatung-katung.
Intinya yang berperang adalah kekuatan militer negara, mestinya tidak merecoki kehidupan warga sipil yang tetap mempunyai hak membangun kebahagiaan, cita-cita, atau apa pun saja.
Sekali lagi semuanya itu berhak mempunyai perlindungan memadai.
Tuan tolonglah Tuan, perang dihentikan… ***



