Mabur.co – Hubungan kolegial yang erat antara Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Korwil Yogyakarta dengan Kepala Dinas Sosial Provinsi DIY, Endang Patmintarsih, nampak pada pelepasan purna tugas Endang Patmintarsih.
Hubungan yang meningkat menjadi hubungan kekeluargaan yang hangat, saling mendukung, dan produktif itu terlihat pada acara syawalan IKPNI Yogyakarta yang sekaligus menjadi acara pelepasan purna tugas Endang. Dilaksanakan di aula belakang TMP Kusumanegara, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Sabtu (18/4/2026) kemarin. Purna tugas tersebut akan terhitung mulai 1 Mei 2026.
Nampak hadir pada acara itu keturunan keluarga pahlawan nasional asal Yogyakarta atau yang keluarganya berdomisili di Yogyakarta.
Berjumlah lebih dari 20 pahlawan nasional, seperti Teguh Sudirman (Jenderal Sudirman), Arif Dihan (KH Fakhruddin), GPH Indro Kusumo (Paku Alam VIII), Suryo Putro (Pangeran Diponegoro), Sigid M (Wirjopranoto), Frida (Ki Suryo Pranoto), Ganis Priyono (Kol. Soegiono), Widyawati (Ki Hajar Dewantara), Widyastuti (KHA Dahlan), Hary Sutrasno (Kasman Singodimedjo), Siti Zumairoh (Siti Walidah), Hendro (Nyi Ageng Serang), KP Eri Ratmanto (Pangeran Sambernyawa), Zhaky (Abdul Kahar Muzakir), Henny Meka (Prof. Herman Johanes), dan Windriati (Pakubuwono X).
Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) IKPNI DIY, GBPH Prabukusumo (Gusti Prabu), memuji dan menyatakan kekagumannya atas kinerja dan integritas Kadinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih.
“IKPNI DIY beruntung mempunyai mitra Ibu Endang. Kita merasakan kehadirannya pada setiap kegiatan kepahlawanan dan sosial kita. Tidak berlebih ia disebut ibu kita. Dan ternyata hal itu juga dirasakan semua yang bermitra dengan beliau. Pribadinya yang tulus, juga kinerjanya yang zero korupsi dan sukses mengangkat beberapa program ke tingkat nasional dapat menjadi teladan bagi semua,” demikian Gusti Prabu menyampaikan dalam sambutan pelepasan.
Menyikapi pujian itu Endang nampak tersenyum kecil. Sejak menjabat Kepala Dinas Sosial, memang ia dikenal sebagai pekerja keras yang tidak segan turun ke bawah memastikan layanan Dinas Sosial menyentuh semua pihak yang memerlukan.
Ia dikenal demokratis dan mau mendengar. Untuk lingkup lokasi makam Pahlawan Kusumanegara, banyak pihak mengakui upaya Endang telah membuat suasana makam menjadi lebih nyaman. Antara lain dengan dibangunnya mini teater yang menyajikan film-film perjuangan yang menginspirasi, terutama bagi generasi Z.
“Saya bekerja berupaya meneladani jiwa kejuangan para pahlawan. Alhamdulilah jika hal itu diterima dan bermanfaat,” demikian Endang merendah dalam sambutan balasannya.
Sementara itu, hikmah syawalan disampaikan oleh Ketua Umum Arsitek Indonesia tahun 2015-2018, Munichy B. Edrees.
Menurutnya, inti dari kegiatan syawalan adalah tercapainya peningkatan ketakwaan manusia beriman.
“Perintah puasa ditujukan kepada semua orang beriman seperti tercantum dalam Alquran surah Al Baqarah ayat 183. Maka peliharalah iman karena hal itu akan menjaga kebersihan pikiran dan perbuatan kita. Salah satu yang penting adalah peliharalah silaturahim karena akan dipanjangkan umur dan dimurahkan rezeki. Juga ingatlah, kitab suci tidak cukup sekadar dibaca saja, karena belum menimbulkan manfaat bagi kita dan semesta. Perintah-Nya adalah agar ayat-ayat itu diamalkan, itu yang selalu diulang diucapkan oleh KHA Dahlan,” demikian ucap Munichy.
Pada akhir pertemuan dilaksanakan penyerahan cinderamata dari IKPNI Korwil Yogyakarta yang diserahkan Gusti Prabu kepada Kepala Dinas Sosial Provinsi DIY yang akan purna tugas.
Cinderamata terdiri sebuah puisi dan lukisan wajah Endang Patmintarsih hasil guratan perupa Muji Harjo (salah satu pelukis Babad Diponegoro).
Endang menerima dengan wajah haru. Gusti Prabu menyatakan cinderamata itu adalah simbol hormat dan sayang IKPNI Korwil Yogyakarta kepada Endang Patmintarsih.
Dibalas Endang dengan ucapan terima kasih dan ia melanjutkan dengan membaca puisi yang disambut hangat oleh yang hadir.
Kegiatan ditutup dengan doa bagi kemaslahatan bangsa dan segenap keluarga pahlawan nasional agar diberikan kemampuan untuk meneruskan perjuangan para leluhurnya, doa dipimpin Ahmad Djam’an. ***



