Mabur.co – Presiden Prabowo Subianto berulang kali menyatakan akan melakukan penghematan anggaran, alias efisiensi, demi menyelamatkan anggaran negara. Khususnya di tengah konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, dan seterusnya.
Bahkan salah satu aspek yang hendak diefisiensikan oleh Presiden Prabowo adalah acara-acara seremonial yang dianggap menghambur-hamburkan uang negara, salah satunya perayaan ulang tahun.
Namun Presiden Prabowo beserta geng koalisinya, nampaknya tidak mematuhi apa yang diucapkannya sendiri.
Di sela-sela perjalanan dinas di Paris, Prancis, beberapa hari lalu, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, kebetulan berulang tahun yang ke-37 pada 14 April lalu.
Dan benar saja, ulang tahun Seskab Teddy dirayakan layaknya seorang “ibu negara”, yang disambut hangat oleh seluruh jajaran pemerintah, termasuk Presiden Prabowo sendiri, dilaksanakan di Four Seasons Hotel George V, Paris.
Konon kabarnya, harga sewa kamar di hotel mewah tersebut mencapai Rp216 juta per malamnya.
Tentu saja harga tersebut membuat publik geleng-geleng kepala. Sekaligus bertentangan dengan prinsip dari Prabowo sendiri mengenai wacana efisiensi.
Netizen pun ramai-ramai melakukan reaksi keras di media sosial, dan menyoroti apa yang ditampilkan oleh Seskab Teddy di Prancis tersebut.
Publik bahkan menilai, “efisiensi” yang dimaksud Presiden Prabowo adalah efisiensi bagi rakyat kecil, bukan efisiensi bagi kalangan pejabat negara seperti dirinya beserta koalisinya.
Salah satu dampak efisiensi yang cukup dirasakan oleh rakyat kecil belakangan ini, adalah dimulainya kebijakan Work From Home (WFH) bagi para ASN (Aparatur Sipil Negara) di seluruh Indonesia, yang berlaku setiap hari Jumat.
Fenomena semacam ini jelas mengindikasikan, bahwa pemerintah sepertinya tidak benar-benar serius menerapkan efisiensi yang mereka ucapkan sendiri. Melainkan tetap “berfoya-foya” di tengah kesulitan rakyat, yang juga berasal dari andil mereka sendiri selama berkuasa.
Menurut Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, apa yang ditampilkan oleh Presiden Prabowo, Seskab Teddy, beserta jajaran pemerintah yang ada di Prancis saat itu, benar-benar mencerminkan pengkhianatan terhadap kebijakan efisiensi yang mereka ucapkan sendiri.
Ia bahkan menuntut Teddy untuk segera meminta maaf kepada publik, karena tindakan tersebut dianggap tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Kalau sudah begini, publik sekali lagi tidak bisa menaruh kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang terkenal dengan istilah buatannya sendiri, yakni “omon-omon”.
Oleh karena itu, kebijakan efisiensi juga merupakan salah satu “omon-omon” terbaru dari pemerintah, yang jelas-jelas dilanggarnya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya, Presiden Prabowo akhirnya “mengusir” wartawan dari lokasi Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Ketua DPRD Seluruh Indonesia, yang berlangsung di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4/2026).
Bisa jadi Prabowo sudah mengetahui, bahwa wartawan pasti akan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perayaan ulang tahun Seskab Teddy di Prancis. Sehingga ia terpaksa menutup akses wartawan untuk melakukan peliputan selama dirinya berpidato.
Agar rencana “omon-omon” selanjutnya tidak akan diketahui oleh publik. (*)



