Mabur.co – Wilayah pesisir selatan Kulon Progo menjadi salah satu kawasan zona merah atau zona rawan bencana di DIY yang memiliki risiko sangat tinggi terhadap potensi bencana.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan berkali-kali memperingatkan masyarakat agar senantiasa mewaspadai potensi terjadinya gempa megathrust dengan magnitudo mencapai M 8,7.
Hal itu tak lepas karena pantai selatan Jawa merupakan kawasan zona subduksi atau zona pertemuan 2 lempeng aktif yang terus bergerak.
Guru besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana UGM, Prof Dwikorita Karnawati, yang juga mantan Kepala BMKG bahkan menyebut potensi gempa megathrust di selatan Jawa, terutama DIY, saat ini masuk dalam fase 30 tahun terakhir dari siklus 200 tahunan, yang berarti risiko pelepasan energi besar semakin tinggi.
“Tak hanya berpotensi menimbulkan kerusakan dahsyat pada bangunan di wilayah daratan, adanya gempa megathrust semacam ini juga berpotensi menimbulkan tsunami besar di kawasan pesisir,” katanya dikutip dari Antara, Rabu (22/4/2026).
BMKG pernah memodelkan potensi gempa M 8,7 di zona megathrust selatan Jawa, dapat memicu tsunami hingga setinggi 29 meter. Karena itulah upaya mitigasi bencana sangat penting dilakukan guna meminimalisir kerusakan maupun jatuhnya korban jiwa.
Dari sekian banyak titik zona rawan bencana di DIY, salah satu titik paling rentan terdampak bencana tsunami berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Wilayah itu adalah kawasan underpass di sekitar Yogyakarta International Airport (YIA).
Underpass ini merupakan jalur penghubung utama Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), yang membelah kawasan Bandara YIA di Kapanewon Temon.
Posisinya yang berada di bawah permukaan tanah menjadikannya titik paling berisiko tinggi saat bencana tsunami terjadi.
Memiliki panjang sekitar 1,4 kilometer, underpass ini dimungkinkan tergenang air begitu tsunami terjadi. Sehingga seluruh kendaraan yang tengah melintas bisa terjebak di dalamnya.
Guna mengantisipasi risiko tersebut, underpass YIA yang diresmikan pada 2020 ini pun telah dilengkapi dengan berbagai sistem keselamatan modern. Dibangun dengan anggaran sebesar Rp293 miliar, underpass ini dilengkapi delapan pintu darurat.
Pintu berupa lorong dengan puluhan anak tangga ini menjadi jalur evakuasi yang disiapkan saat bencana tsunami terjadi.
Terhubung ke kawasan kompleks bandara, pengendara yang sewaktu-waktu terjebak di dalam underpass, dapat melakulan evakuasi untuk berlindung di lantai tiga bangunan terminal bandara yang memiliki kapasitas ribuan orang.
Selain pintu darurat, underpass terpanjang di Indonesia ini juga dilengkapi sistem buka-tutup palang pintu yang terintegrasi dengan Early Warning System (EWS).
Ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami, sistem ini akan otomatis mengirim sinyal untuk menutup akses masuk kendaraan ke dalam underpass.
Dua mekanisme pengoperasian juga telah disiapkan dalam sistem tersebut, baik itu penutupan secara otomatis maupun manual.
Sebagai edukasi kepada masyarakat maupun pengguna jalan, otoritas setempat baik itu BPBD maupun BMKG bahkan secara rutin melakukan simulasi bencana di kawasan ini.
Yang menarik underpass YIA ini juga dilengkapi sistem peringatan suara yang dapat memberikan arahan saat bencana tsunami terjadi. Suara peringatan ini bahkan tersedia dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Jawa, dan Inggris.
Meski memiliki sistem keselamatan yang cukup lengkap, namun pemahaman masyarakat akan situasi darurat bencana tetap menjadi kunci dalam mitigasi bencana tsunami khususnya di kawasan underpass ini.
Karena itu berbagai edukasi harus terus dilakukan guna meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat, agar mampu meminimalisir risiko di kawasan dengan potensi bencana yang sangat tinggi seperti underpass YIA ini.



