Mabur.co – “Jakarta adalah persimpangan, bukan titik akhir,” tulis Mochtar Lubis dalam Senja di Jakarta.
Minggu pagi kemarin, persimpangan itu ada di Bundaran HI. Jam 06.00 WIB, Car Free Day biasanya diisi pelari dan sepeda.
Kemarin diisi songkok tinggi Raja Gowa, mahkota bulu Kasunanan Surakarta, destar Tidore, dan tanjak Melayu Siak.
Sekitar 100 raja dan sultan se-Nusantara turun dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) untuk Pawai Budaya Nusantara.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak masyarakat menyaksikan Pawai Budaya Nusantara di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu 18 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Kebudayaan Nasional yang menghadirkan beragam kesenian daerah hingga sekitar 100 raja dan sultan dari berbagai wilayah Indonesia, tulis ntvnews.id, dikutip mabur.co, Senin (19/10/2026).
Sarendo-rendo: Gotong Royong
Ajakan itu disampaikan sehari sebelumnya oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat malam Festival Sarendo-Rendo di Taman Lapangan Banteng, Sabtu 17 Oktober 2026.
Sarendo-Rendo sendiri bukan festival baru. Dalam bahasa Betawi, artinya rame-rame, bareng-bareng, berjalan berombongan.
Filosofinya sederhana: warga kampung kalau mau hajatan, gotong royong.
Makna dasar dari Srengseng Rendeh atau Sarendo-Rendo ini adalah manifestasi dari kebersamaan warga yang berkumpul secara kompak dan penuh semangat, kata Rano, dikutip selanjutnya.
Minggu pagi, filosofi itu jadi panggung. Pawai berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB dengan karnaval budaya, marching band, atraksi pencak silat, tari massal, parade kostum, tulis sorotnews.co.id.
Yang bikin merinding: para raja tidak naik mobil hias ber-AC. Mereka berjalan kaki keliling bundaran.
Sultan Kutai Kartanegara bersampingan dengan Raja Bima, Raja Ternate ngobrol dengan Pangeran Cirebon.
Di belakang mereka, sanggar Betawi, ondel-ondel, tanjidor, dan 200 penari Betawi massal.
Wakil Gubernur Rano Karno bilang kehadiran mereka menegaskan Jakarta sebagai melting pot.
“Para raja dan sultan se-Nusantara telah hadir di Jakarta guna berpartisipasi dalam karnaval kebudayaan pada Minggu pagi. Kehadiran beliau sekalian menegaskan kedudukan Jakarta sebagai melting pot atau titik temu utama dari keanekaragaman budaya di Indonesia,” ujar Rano.
Tahun Depan Jakarta Berusia 500 Tahun
Secara historis, ini mengingatkan Sunda Kelapa 1527. Fatahillah merebut pelabuhan dari Portugis dengan pasukan campuran Jawa, Bugis, Makassar, Arab. Jakarta sejak lahir memang bukan satu suku.
Kata Betawi sendiri dari Batavia, tapi isinya ada 3 unsur: Melayu pesisir, Cina, Arab, plus pendatang Jawa, Sunda, Bugis, Bali.
Rano juga mengundang balik para raja untuk perayaan 500 tahun Jakarta 2027.
“Dan Insya Allah tahun depan Jakarta akan berusia 500 tahun, 5 abad. Kami mengundang kembali para raja dan sultan Nusantara untuk datang ke Jakarta,” ujarnya.
Kemarin di HI, mitos pun hidup: Bundaran HI dibangun 1962 untuk Asian Games, dengan patung Selamat Datang menyambut atlet dunia.
Kemarin, patung itu menyambut atlet budaya Nusantara. Không ada protokol kaku. Anak kecil minta foto dengan Raja Luwu, bule joging berhenti rekam silat.
Dari Lapangan Banteng yang dulu bekas lapangan singa kolonial, ke Bundaran HI yang dulu simbol modernitas Soekarno, Sarendo-Rendo membuktikan satu hal: Jakarta tidak perlu kehilangan akar untuk jadi kota global.
