Sekolah Rakyat Kulon Progo Resmi Beroperasi, 359 Siswa Tinggal di Asrama

4 Min Read
Crowd of people, many women in hijabs, gathered outside a building complex on a sunny day with orange-roofed structures nearby.
Orang tua siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi Kulon Progo memanggul koper saat mengantar anaknya di hari pertama masuk sekolah. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co — Operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) I Kulon Progo resmi dimulai, Jumat (31/7/2026). Sebanyak 359 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA mulai memasuki asrama untuk menjalani kehidupan baru sebagai siswa sekolah berasrama.

Sejak pagi, ratusan siswa berdatangan dari berbagai daerah dengan diantar orang tua masing-masing. Mereka mengikuti registrasi ulang sebelum diarahkan menuju kamar asrama yang telah ditentukan. Momen ini menjadi awal dimulainya program Sekolah Rakyat Terintegrasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pelaksana Tugas Kepala SRT I Kulon Progo, Agus Ristanto, mengatakan, masa pengenalan lingkungan di sekolah ini diberi nama Aksi Masa Pengenalan Lingkungan Asrama dan Sekolah (AMPLAS).

Kehidupan Asrama

Berbeda dengan MPLS di sekolah umum, kegiatan ini tidak hanya mengenalkan lingkungan belajar, tetapi juga kehidupan di asrama yang akan menjadi tempat tinggal siswa selama menempuh pendidikan.

“Karena di sini ada asrama yang akan menjadi rumah bagi para siswa, maka kami menyebutnya AMPLAS,” ujar Agus.

Program AMPLAS akan berlangsung pada 1–7 Agustus. Selama sepekan, siswa akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah, tata tertib asrama, pola hidup mandiri, hingga pembiasaan disiplin.

Inside a dorm-style room with metal bunk beds and plastic-wrapped mattresses; a boy sits on a lower bunk while a woman wearing a hijab shows a bag to him.
Seorang siswa ditemani ibunya mencoba asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi di Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Agus menjelaskan, seluruh kebutuhan dasar siswa telah disiapkan oleh sekolah. Setiap kamar dilengkapi ranjang, bantal, selimut, seprai, lemari, dan meja belajar. Selain itu, setiap siswa menerima paket perlengkapan berupa seragam sekolah, pakaian sehari-hari, perlengkapan mandi, serta peralatan makan.

Karena seluruh fasilitas telah disediakan, orang tua diminta tidak membawa terlalu banyak barang dari rumah. Cukup pakaian tambahan apabila diperlukan.

Selama masa orientasi, siswa akan didampingi taruna dari Akademi Angkatan Udara (AAU) dan Akademi Militer (Akmil). Kehadiran para taruna diharapkan dapat membantu membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian para siswa sejak hari pertama tinggal di asrama.

Telepon Seluler Diatur Ketat

Penggunaan telepon seluler juga diatur secara ketat. Siswa tidak diperbolehkan memegang ponsel secara bebas, namun tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui telepon yang dipegang wali asrama. Orang tua juga tetap diberi kesempatan menjenguk anak sesuai jadwal yang ditentukan maupun dalam kondisi tertentu.

Pada tahun ajaran pertama ini, SRT I Kulon Progo menampung 359 siswa, terdiri atas 31 siswa SD, 158 siswa SMP, dan 170 siswa SMA.

Karena menerapkan sistem pendidikan berasrama, masa orientasi dan penyesuaian dibuat lebih panjang dibanding sekolah reguler. Setelah AMPLAS selesai, siswa masih akan mengikuti program matrikulasi selama kurang lebih dua bulan sebelum memasuki pembelajaran efektif. 

Four women wearing hijabs walk outdoors, smiling, two carrying bright orange bags.
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat sumringah atau senang saat menerima perlengkapan kebutuhan dasar untuk tinggal di asrama. (Foto: JH Kusmargana)

Secara keseluruhan, masa transisi menuju kegiatan belajar penuh berlangsung sekitar tiga bulan.

Agus memastikan seluruh fasilitas dasar sekolah telah siap digunakan. Pengecekan akhir bersama tim penanggung jawab telah dilakukan, termasuk memastikan pasokan air bersih di seluruh asrama berfungsi dengan baik.

Dukungan Personel Operasional Sekolah

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kulon Progo, Ernawati Sukesi, mengatakan pemerintah juga telah menyiapkan dukungan personel untuk operasional sekolah.

Sebanyak 32 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) akan diterjunkan untuk membantu pengamanan, kebersihan lingkungan, dan operasional dapur. Mereka juga bertugas mengawasi siswa agar tidak memasuki area yang masih dalam proses penyelesaian pembangunan.

Selain itu, tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kulon Progo turut disiagakan selama masa awal operasional untuk mengantisipasi apabila ada siswa yang mengalami gangguan kesehatan saat pertama kali tinggal di lingkungan asrama.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar