Mabur.co- Sebagian publik di Tanah Air tengah ramai menyoroti negara tetangga, Filipina yang resmi memasuki masa darurat energi nasional.
Pemerintah Filipina resmi menetapkan status darurat energi nasional di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan energi global.
Kebijakan ini menjadikan Filipina sebagai negara pertama yang mengambil langkah tersebut guna mengantisipasi krisis energi yang lebih luas.
Presiden Ferdinand Marcos, menuturkan, keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumkan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta bahaya yang ditimbulkannya terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara.
“Perintah itu memberi kewenangan kepada Kementerian Energi untuk membayar di muka 15 persen guna mengamankan kontrak bahan bakar. Pemerintah juga menargetkan praktik penimbunan dan pengambilan keuntungan yang tidak wajar,” ujarnya dikutip dari AFP, Kamis (26/3/2026).
Ferdinand Marcos, mengatakan, dana darurat sebesar 20 miliar peso disiapkan. Nilainya sekitar Rp5,61 triliun atau setara 333 juta dollar AS.
Dana ini digunakan untuk membeli hingga 2 juta barrel bahan bakar. Pembelian mencakup produk minyak olahan dan liquefied petroleum gas atau LPG, gas minyak cair.
Ketergantungan impor menjadi masalah utama. Hampir seluruh minyak mentah Filipina berasal dari Timur Tengah. Arab Saudi menjadi pemasok utama.
“Cadangan minyak nasional berada di kisaran 45 hari,” katanya. ***



