Mabur.co – Terbatasnya kebebasan berpendapat di muka umum terhadap masyarakat sipil kembali dirasakan oleh para pengamat.
Terbaru, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, turut menerima ancaman teror maupun serangan-serangan digital dalam beberapa waktu terakhir, setelah bersuara keras terkait kinerja Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Bahkan salah satu seruannya adalah menggulingkan Prabowo Subianto dari kursi RI 1, agar teror terhadap masyarakat sipil (yang menyampaikan pendapat terkait kinerja pemerintah) bisa benar-benar hilang dari negeri ini.
Atas ucapan kerasnya itu, Islah kemudian harus dilaporkan oleh Relawan Prabowo Subianto, akibat dituduh hendak melakukan aksi makar, dan ingin membuat kegaduhan atau chaos bagi seluruh rakyat Indonesia, alias berupaya menggiring opini publik.
Tidak sampai di situ, belakangan ia juga kerap menerima pesan-pesan maupun telepon dari orang-orang misterius, yang isinya adalah mengancamnya tidak bisa pulang ke Madura (daerah asalnya), dan seterusnya.
“Saya itu tipenya selalu memendam kalau ada teror-teror seperti itu. Dan itu kebetulan banyak sekali saya terima. Sampai akhirnya saya matikan tuh nomor WA saya, karena sudah terlalu banyak pesan yang masuk. Karena momor itu juga sudah banyak yang tahu, akhirnya banyak sekali teror yang masuk ke nomor saya itu,” ungkap Islah Bahrawi, dalam podcast Ruang Sahabat, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (15/4/2026).
Islah pun terang-terangan menyebut bahwa orang-orang yang menerornya dalam beberapa waktu terakhir berasal dari kalangan TNI. Dimana semuanya memiliki misi yang sama, yakni meminta Islah untuk bungkam terkait kinerja Prabowo Subianto sebagai presiden. Karena jika tidak (Islah terus bersuara terkait kinerja presiden Prabowo), bisa-bisa nyawa Islah yang akan jadi taruhannya.
“Setelah saya cek secara digital, ya memang kebanyakan mohon maaf, harus saya katakan bahwa itu adalah Komandan ini, Kostrad ini. Jadi kadang-kadang ada atribusi yang melekat pada tentara gitu. Saya pun akhirnya berpikir, kenapa sih kok harus tentara gitu (yang meneror siapa pun yang mengkritik Presiden Prabowo),” tambah Islah.
Meskipun telah diteror melalui berbagai macam bentuk dan metode, namun Islah mengaku tidak akan mundur, dan akan terus menyuarakan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto, selama memang ia pantas untuk dikritik.
Karena bagi Islah, setiap kebenaran harus terus disuarakan kepada publik (serta pihak yang dikritik secara langsung), karena ia yakin bahwa apa yang ia suarakan itu adalah kebenaran. Tanpa mempedulikan siapa pun sosok yang ia kritik tersebut, dan seterusnya. (*)



