Kalau Danau Tolire menyimpan air yang menolak batu, tiga kilometer ke arah utara, Ternate menyimpan batu yang menolak untuk lapuk. Namanya Batu Angus.
Untuk menjangkaunya, habis dari Tolire, ojek hanya 15 menit ke sana. Kalau Tolire lahir dari erupsi 1775, Batu Angus adalah kakaknya, jejak erupsi yang lebih tua dan lebih bengis.
Baca Juga: https://mabur.co/rekreasi/pulau-maitara-bertengger-di-uang-seribu-bagian-3/
Catatan Belanda menyebut 1673, warga menyebut 1737, geolog menyebut aliran Holosen. Intinya sama: Gamalama muntah.
Lahar panas andesit-basaltik mengalir dari kawah, membelah hutan pala, menimpa perkampungan, lalu mendingin di tepi laut.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kunjungi-kedaton-tidore-gunung-gamalama-jadi-saksi-pelayaran-bagian-1/
Tidak menjadi tanah, tapi menjadi batu. Hitam pekat, berongga seperti sarang tawon, tajam, seluas hampir 10 hektare membentang dari kaki gunung sampai bibir tebing.
“Batu ini dulu meleleh, Pak. Seperti bubur hitam mengalir ke laut. Orang tua kami bilang, ini jalannya api mau minum di laut,” ujar Ali, penjaga warung di Kulaba.
Geowisata Langka
Secara ilmiah ini adalah geowisata langka, ada dua jenis lava di satu tempat, lava pahoehoe yang halus bergelombang dan lava Aa yang kasar dan tajam.
Karena itu kawasan ini sedang diusulkan jadi bagian dari Geopark Nasional Ternate. Tapi seperti Tolire, Batu Angus juga tidak pernah lepas dari mitos. Jika Tolire punya buaya putih, Batu Angus punya cerita pertempuran gaib.

“Masyarakat di sini percaya, ini bukan sekadar lava. Ini sisa pertempuran para leluhur penjaga gunung melawan penjajah. Batu-batu yang bentuknya seperti burung garuda, serigala, gorilla, itu adalah jelmaan mereka yang membeku,” kata Ali lagi.
Benar, kalau jeli, ada bongkahan yang mirip kepala burung, ada yang seperti singa duduk. Di tengah terik yang menyengat, karena hampir tak ada pohon tinggi, batu-batu itu jadi panggung foto yang dramatis: hitam di bawah, hijau Gamalama di belakang, biru laut Halmahera di depan.
Letusan Gamalama 2014 Masih Terbayang
Sore hari, pengunjung biasanya duduk di gazebo kayu yang disediakan pengelola. Dari sini, letusan terbaru Gamalama tahun 2014 masih terbayang. Jalan berpasir, jembatan putus, rumah tertimbun.
“Jadi kalau Tolire mengajarkan jangan berbuat dosa, Batu Angus mengajarkan jangan melawan gunung. Gamalama itu bukan latar belakang kita, dia yang punya kita,” ucap Ali sambil menuang teh.
Dari Tolire yang menelan desa karena dosa, hingga Batu Angus yang membekukan api menjadi batu hitam, Ternate mengajarkan satu hal: Gamalama bukan sekadar gunung, ia adalah hakim, penjaga, dan ingatan yang hidup. (Bersambung)
