Candi Sari, Penuh Filosofi dan Visualisasi Magis Agama Buddha

6 Min Read
Ancient stone temple with a tiered roof and small rectangular openings, set under a clear blue sky.
Candi Sari bercorak agama Buddha. Hal ini terlihat dari atap. (Foto: Setiaky A Kusuma)


Mabur.co – Kekayaan budaya yang bersejarah di Yogyakarta memang tak pernah ada habisnya. Khususnya wisata sejarah berupa candi yang bisa banyak ditemukan.

Baca Juga: https://mabur.co/rekreasi/candi-kedulan-jejak-budaya-era-kerajaan-mataram-kuno-yang-pernah-terkubur-lama/

Tentu saja masing-masing candi memiliki kekhasan dan nilai sejarah sendiri yang membuat semakin menarik.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/candi-gebang-situs-candi-kecil-di-sleman-bergaya-arsitektur-klasik-tua/

Salah satu candi tersebut adalah Candi Sari atau yang bisa disebut Candi Bendan. Candi Sari terletak di Desa Bendan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Yogyakarta hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer ke arah timur.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/candi-palgading-simpan-jejak-peradaban-kuno-hadirkan-nuansa-arkeologis-autentik/

Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Kebudayaan DIY, Eri Budiarto, mengatakan, Candi Sari bercorak agama Buddha.

Man wearing a wide-brim hat and glasses, taking a selfie in a sunny garden with a stone shrine behind him.
Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Kebudayaan DIY, Eri Budiarto. Foto: Setiaky A Kusuma

Hal ini terlihat dari bentuk stupa, terutama di bagian atap candi. Candi Sari menghadap ke timur dengan ukuran sekitar 17,30 x 10 x 17 meter.

Candi ini memiliki bentuk persegi dengan jendela di setiap sisi candi. Ada sedikit perbedaan Candi Sari dibandingkan candi pada umumnya.

“Jika biasanya candi memiliki satu ruang dalam satu tingkatan, maka Candi Sari memiliki tiga ruang dalam yang berjajar di mana masing-masing dihubungkan dengan pintu dan jendela. Adanya jendela pada bangunan candi membuat sirkulasi udara terjaga,” ucapnya, Rabu (23/9/2026).

Menurut Eri, pada masanya, fungsi Candi Sari sebagai tempat tinggal para biksu sehingga terdiri dari beberapa tingkatan.

Aslinya, Candi Sari merupakan bangunan bertingkat dua atau tiga.

“Dulu, lantai atas digunakan untuk menyimpan barang-barang kepentingan keagamaan, sedangkan lantai bawah digunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti belajar-mengajar dan diskusi,” ucapnya.

Menurut Eri pula, pada bagian luar candi, ada pahatan-pahatan arca Dewa Boddhisatva dan Dewi Tara. Sementara di depan pintu terdapat dua arca. Pahatan arca berjumlah sekitar 36 buah dengan pembagian masing-masing, delapan arca di sisi timur, delapan arca di dinding utara, delapan arca di dinding selatan, dan 12 arca di dinding barat.

“Secara umum, candi digambarkan seperti bunga teratai dalam sikap tribangga atau lemah gemulai,” katanya.

Kisah Penemuan Candi Sari

Candi Sari ditemukan pada 1929 dalam keadaan rusak. Banyak batu penyusun candi yang hilang, seperti kaki atau selasar yang mengelilingi bangunan, bilik penampil, beberapa stupa atap, ukiran, maupun hiasan.

Kemudian candi dipugar pada 1930. Pemugaran belum sempurna, batu-batu asli yang tidak ditemukan terpaksa diganti dengan batu polos.

“Candi Sari dibangun pada abad ke-8 Masehi, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Pembangunan candi diprakarsai Dinasti Syailendra,” katanya.

Candi Sari sendiri adalah Candi Buddha yang ditujukan sebagai biara bagi biksu-biksu yang bekerja di Candi Tara, 200 meter arah utara Candi Sari.

Latar belakang pembangunannya terpahat dalam prasasti Kalasan yang menyebutkan perintah para penasihat keagamaan Kerajaan Mataram pada raja untuk mendirikan candi pemujaan bagi Dewi Tara dan biara untuk biksu yang akan bekerja di sana.

Prasasti ini bertahun 778 CE, bisa disimpulkan bahwa bersama Candi Kalasan, candi yang terdiri dari pondasi, tubuh, dan atap ini merupakan bangunan Buddha tertua di Yogyakarta.

Kerukunan Beragama

Selain tertua, menarik pula bahwa candi ini mencerminkan kerukunan umat beragama masyarakat Hindu-Buddha pada saat itu.

Terbukti, Raja Mataram Kuno II yang beragama Hindu bersedia membuat dua bangunan megah sebagai fasilitas keagamaan rakyatnya yang beragama Buddha. Bahwa dinamika masyarakat penganut kedua agama tersebut rukun. Keduanya memang saling menghormati. Konsep dasar penduduk saat itu adalah menghormati alam ciptaan yang Maha Agung.

“Menarik pula, bahwa berbeda dengan mayoritas bangunan bersejarah lain yang disebut ‘candi’, candi yang sedikit mirip kenampakannya dengan Candi Plaosan ini, tidak digunakan sebagai kuil pemujaan,” katanya.

Candi Sari pun benar-benar hanya digunakan sebagai biara. Dengan kata lain, digunakan untuk belajar, berdiskusi, dan bertapa para biksu.

Sebagian ahli bahkan menambahkan fungsinya juga sebagai tempat tinggal para biksu. Nama “sari”, karena itu berasal dari kata “sare” yang berarti tidur.

Arsitektur Pahatan Candi Sari

Arsitektur pahatan Candi Sari terdiri atas empat jenis, sebagian masih terlihat terlapis bajralepa yang berwarna putih.

Paling memikat adalah 36 relief Bodhisatwa, atau calon Buddha, bersikap lemah gemulai hampir seukuran manusia sungguhan yang tersebar di keempat sisi dinding candi.

Terdiri dari sosok pria dan wanita, sosok Bodhisatwa wanita di Candi Sari tidak lain adalah Dewi Tara, yang merupakan pusat pemujaan biksu-biksu yang tinggal di sini.

Selain Bodhisatwa, ada pula relief kinara-kiniri, atau makhluk kahyangan yang setengah burung setengah manusia, menambah pesona sekeliling dinding Candi Sari.

Sementara itu, di atas pintu, jendela-jendela, dan relung-relung candi terdapat ukiran setengah muka Kalamakara, yang tampil lebih menawan dibandingkan seram.

Lain lagi ukiran sulur-sulur di beberapa titik yang juga makin membuat dinding-dinding candi makin molek.

“Di bagian atas candi terlihat jaladwara yang juga memiliki fungsi artistik. Selain sebagai saluran air hujan, di bagian belakang candi terlihat tiga buah relief kumuda, yakni gambaran daun dan bunga yang mencuat keluar dari jambangan,” ucapnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar