Mabur.co –Stadion MetLife, Amerika Serikat, menjadi saksi sejarah keberhasilan Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026.
Kemenangan La Furia Roja atas juara bertahan Argentina itu ditentukan oleh gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu.
Pelatih yang Ubah Spanyol Ditakuti Dunia
Namun, di balik keberhasilan itu, ada sosok yang jarang disorot. Ialah Luis de la Fuente Castillo, pelatih yang sukses mengubah wajah Spanyol menjadi tim yang kembali ditakuti dunia.
Bagi publik Spanyol, trofi Piala Dunia 2026 bukan sekadar gelar kedua sepanjang sejarah setelah keberhasilan pada 2010.
Gelar ini juga sekalian menjadi bukti bahwa proses panjang yang dibangun Luis de la Fuente Castillo selama ini akhirnya membuahkan hasil sempurna.
Selama masa kepelatihannya, Spanyol berhasil menorehkan tiga gelar bergengsi di dunia sepak bola yakni UEFA Nations League, Piala Eropa dan Piala Dunia.
De la Fuente Castillo sendiri bukan pelatih sembarangan. Ia telah membangun fondasi penting Timnas Spanyol sejak 2013 dengan menangani berbagai kelompok usia. Mulai dari tim U-19, U-21 hingga tim olimpiade.
Lahir di Haro, La Rioja, Spanyol, pada 21 Juni 1961, Luis de la Fuente Castillo sebagaimana dikutip BBC, Senin (20/7/2026) mengawali karirnya di dunia sepak bola sebagai seorang bek kiri.
Karir profesionalnya banyak dihabiskan bersama Athletic Bilbao. Meski begitu ia juga pernah membela Sevilla dan Deportivo Alavés sebelum pensiun sebagai pemain.
Meski tidak memiliki karier semegah sejumlah legenda Spanyol lainnya, De la Fuente Castillo justru menemukan panggilannya di dunia kepelatihan. Ia memulai dari level akar rumput hingga dipercaya menangani tim-tim kelompok umur Spanyol.
Kepercayaan federasi tidak datang sia-sia. Bersama tim muda, ia mempersembahkan berbagai gelar, termasuk Piala Eropa U-19, Piala Eropa U-21, serta membawa Spanyol meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020.
Pada Januari 2023, Federasi Sepak Bola Spanyol menunjuknya sebagai pelatih tim senior menggantikan Luis Enrique.
Sejumlah media Eropa seperti BBC Sport, menggambarkan De la Fuente Castillo sebagai ahli peracik strategi, sekaligus sosok pembangun budaya di dalam tim.
Bagi pelatih berusia 65 tahun itu, sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan juga karakter pemain.
Ia percaya sebuah tim hanya bisa sukses apabila dihuni pemain-pemain yang rela berkorban demi kepentingan bersama.
Menurut De la Fuente Castillo, “orang baik” dalam sepak bola bukan sekadar memiliki moral yang baik, tetapi juga murah hati, disiplin, mau membantu rekan setim, serta tidak mementingkan diri sendiri.
Filosofi tersebut menjadi fondasi utama tim nasional Spanyol yang ia bangun saat ini.
Gaya Khas Tiki-Taka, Umpan Pendek
Selama bertahun-tahun, Spanyol dikenal sebagai tim dengan gaya khas tiki-taka yang sangat khas dengan penguasaan bola serta umpan-umpan pendek.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, gaya tiki-taka yang dinilai mulai kehilangan pamornya, berhasil disempurnakan De la Fuente Castillo.
Ia tidak menghilangkan identitas filosofi tiki-taka, tetapi justru menambahkan sejumlah elemen baru.
Hal itu membuat permainan Spanyol kini menjadi lebih fleksibel, lebih langsung menyerang, lebih nyaman melakukan transisi cepat, serta lebih agresif ketika kehilangan bola.
Pep Guardiola bahkan pernah memberikan komentarnya terhadap peran De la Fuente.
“Ia tidak membangun katedral baru, ia hanya mengecat ulang katedral itu dari waktu ke waktu,” ujar Pep.
Hasilnya terlihat sepanjang Piala Dunia 2026. Spanyol mampu mendominasi penguasaan bola, serta mengonversi menjadi peluang-peluang berbahaya melalui permainan vertikal dan tekanan tinggi.
Sejak mengambil alih tim nasional pada Januari 2023, De la Fuente Castillo bahkan hanya menelan tiga kekalahan dan sempat mencatat rentetan 35 pertandingan tanpa kalah.
Ia juga sukses menorehkan tiga gelar bergengsi untuk Timnas Spanyol yakni UEFA Nations League, Piala Eropa dan Piala Dunia.
Rangkaian prestasi tersebut menempatkan De la Fuente Castillo sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola Spanyol bersanding dengan pelatih besar lainnya.
