Mabur.co – Melihat suatu hal bukanlah tindakan netral.
Sebagaimana gagasan John Berger dan Maurice Merleau-Ponty, melihat adalah pengalaman yang dibentuk oleh memori, aposisi sosial, dan relasi tubuh dengan dunia.
Bagi seorang seniman seperti Syahrizal Pahlevi, seni grafis bukan sekadar teknik visual, melainkan sebuah cara mengalami dan mencatat kehidupan.
Melalui praktik Mobile Woodcut atau Live a (lukisan cukil kayu), Pahlevi berusaha mengubah ruang publik menjadi studio terbuka.
Proses mencukil dan mencetak menjadi aksi yang dapat disaksikan bersama, di mana serat kayu dan karakter material tidak disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari bahasa visual yang disiplin dan terukur.
Melalui Pameran Lukisan Cukil Kayu bertajuk “Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pada 10-19 Maret 2026, Pahlevi menghadirkan sekitar lima puluh karya yang merentang dari awal 1990-an hingga 2026.
Alih-alih sebuah retrospeksi (merenungkan peristiwa masa lalu), pilihan karya-karya yang ditampilkan merupakan pembacaan ulang atas jejak praktik Pahlevi, selama hampir empat dekade terakhir.
Pada periode awal, ia mengeksplorasi watak demokratis grafis melalui kartu pos dan small print.
Jejak ini berkembang pada seri Orang-Orang Biasa (2004–2005) yang memotret relasi sosial, hingga seri Sayuran (2006) dan Ring Road (2009), yang merekam pengalaman personal serta ambivalensi ruang antara desa dan kota.
Sementara eksperimen terbarunya (2022–2025) menunjukkan pergeseran menuju abstraksi, di mana lanskap diolah melalui kepadatan bidang dan warna, sebagai pengalaman suasana, yang kemudian dituangkan dalam seni grafis cukil kayu.
Melalui seluruh rangkaian ini, seni grafis tampil sebagai sistem kerja yang menyatukan proses, fungsi, dan relasi.
Bagi Syahrizal Pahlevi, grafis bukan sekadar medium cetak, melainkan sebuah cara hidup, sebuah praktik yang mencatat hal-hal biasa, hingga menjelma sebagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. (*)



