Fitrah Kemenangan - Mabur.co

Fitrah Kemenangan

Saudaraku, ibarat bening embun yang terperangkap di daun lusuh, kepulangan kita ke Idulfitri kali ini melahirkan situasi ‘kesucian’ yang riskan.

Pribadi-pribadi boleh saja terlahir kembali bak embun suci, tetapi ruang publik-politik tempat menjalani hidup bersama boleh jadi relung yang tercemar.

Saat gema takbir berkumandang, kehidupan seperti roller coaster, antara fajar fitrah yang meneguhkan sikap hidup yang positif dan kegelapan bumi yang menebar bayangan hidup yang negatif.

Dalam situasi demikian, kita tidak cukup menjadi suci secara pribadi, tetapi yang lebih penting bagaimana kesucian itu bisa dipakai untuk menyucikan kehidupan negara.

Di satu sisi, kita harus tetap menjaga sikap hidup yang positif- optimis, karena pemikiran negatif-pesimis tak akan membawa kebaikan.

Psikolog David D Burn mengingatkan bahwa depresi kejiwaan merupakan hasil pemikiran yang salah.

Ketika seseorang atau suatu bangsa depresi oleh belenggu pesimisme, daya hidup dilumpuhkan oleh jeratan 4D—defeated (rasa pecundang), defective (rasa cacat), deserted (rasa ditinggalkan) dan deprived (rasa tercerabut)—yang dihayati sebagai kebenaran dan kenyataan sejati.

Di sisi lain, optimisme itu haruslah bersifat realisitis dengan mata terbuka, bahwa kegembiraan keberhasilan tidaklah datang dengan sendirinya secara tiba.

Tidak ada pencapaian tanpa visi yang diperjuangkan dengan kesengajaan dan kegigihan.

Pelbagai krisis yang kita alami saat ini pada hakikatnya merupakan letupan permukaan dari krisis kebatinan karena pengabaian olah jiwa.

Bahwa obsesi elit negeri pada gila kuasa dan harta tak dibarengi kecukupan rasa tanggung jawab.

Semoga dengan kembali ke fitrah manusia dan fitrah bernegara, kita bisa memulihkan kesehatan jiwa dan meluruskan arah kiblat yang dapat mengantarkan bangsa meraih kemenangan! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *