Viral Rombongan WNA Lari di Jalanan Bali, Benarkah Diskriminasi terhadap WNI?

3 Min Read
Large group of people wearing wireless headphones dancing and cheering in a busy street with colorful signage in the background (silent disco-style event).
Sejumlah rombongan WNA berlari di jalanan Bali. (Foto: Instagram)

Mabur.co – Video sekelompok warga negara asing (WNA) berlari bersama di jalanan Bali viral di media sosial.

Kegiatan yang diduga sebagai silent disco run itu menampilkan puluhan hingga lebih dari 100 peserta berlari menyusuri kawasan Canggu pada pagi hari, dengan iringan DJ dan MC dari atas kendaraan yang bergerak di samping rombongan.

Nampak para peserta mengenakan headphone khusus, sementara seorang DJ dan MC berada di atas kendaraan yang mengikuti rombongan.

Konsep lari sambil menikmati musik itu kemudian ramai diperbincangkan karena video kegiatan memperlihatkan rombongan memenuhi ruas jalan yang juga digunakan masyarakat. 

Sorotan terhadap kegiatan itu semakin besar setelah muncul tudingan bahwa komunitas lari yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut bersikap eksklusif dan tidak menerima warga lokal Indonesia untuk bergabung.

Tudingan tersebut memicu perdebatan mengenai batas antara kegiatan komunitas, penggunaan ruang publik, serta sikap pendatang terhadap masyarakat setempat.

Persoalan ini kemudian mendapat perhatian sejumlah tokoh publik. Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, melalui akun Instagramnya menyampaikan kritik keras.

Ia juga meminta pihak Imigrasi Bali dan kepolisian memeriksa izin kegiatan serta izin tinggal WNA yang disebut terlibat dalam video tersebut.

“BALI IS NOT YOUR HOME! TRASHY TOURISTS LIKE YOU ARE A DISGRACE TO OUR COUNTRY!!!!” tulis Ni Luh Djelantik dalam unggahannya, dikutip mabur.co, Kamis (23/7/2026).

Bali Bukan Kampung Halaman Kalian

Ia juga menyatakan akan mengirimkan surat resmi terkait dugaan tindakan diskriminatif terhadap warga negara Indonesia oleh komunitas yang beranggotakan WNA.

Kritik serupa disampaikan Josh Fothergill, konten kreator dan pelari maraton asal Inggris yang telah lama tinggal di Indonesia dan dikenal melalui akun @joshberlari.

Josh mengaku menyayangkan kabar mengenai komunitas lari di Bali yang diduga menolak warga lokal untuk bergabung.

Sebagai orang asing yang tinggal di Indonesia, ia mengatakan dirinya dan rekannya berusaha menghormati masyarakat Indonesia, meski masih terus belajar memahami perbedaan budaya.

“Setiap tempat pasti ada aturan, dan kita harus mengikuti dan menghormatinya,” tulis Josh.

Ia kemudian menyampaikan kritik kepada komunitas yang dipersoalkan. “Please respect the local, because it’s not your hometown,” tulisnya.

Sementara itu sejumlah warganet sendiri nampak turut geram melihat aksi sejumlah turis asing tersebut. Dalam sejumlah komentar di Instagram mereka menumpahkan kekesalannya.

“Canggu ini udah macet ditambah kegiatan ginian. Ya lucu aja kalo sampai ada ijinnya,” ujar seorang warganet. 

“Repot ngalangin jalan! Org2 pd pake motor pd mau prg krj or anter anak sekolah! Macem ga ada pantai!,” imbuh warganet lainnya.

“Mereka ngumpul di satu cafe, bergerombol lari di w, jalanan yg kapasitasnya buat transportasi bukan 145 buat event Dan gak ada izin,kita yg warga lokal sangat di rugikan,belum lagi yg subuh2 iring2an pake Mobil Dan dj,meskipun pake headset tetep aja treak2 Menuhin jalan,” ungkap warganet lainnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar