Mabur.co – Identitas budaya baru tidak selalu lahir dari kondisi yang ideal. Kadang, ia justru tumbuh dari kondisi keterbatasan, sekaligus dorongan untuk terus berkembang dengan mengeksplorasi hal baru.
Hal itulah yang terjadi pada Sendratari Topeng Sugriwa-Subali yang kini telah menjadi bagian identitas budaya baru, sekaligus pertunjukan kesenian khas di kawasan Gua Kiskendo, Girimulyo, Kulon Progo.
Lahir di era pandemi COVID-19, Sendratari Topeng Sugriwa-Subali tak hanya berevolusi dalam bentuk baru seni pertunjukan wisata, namun juga mampu berkembang sebagai media pendidikan dan pengenalan budaya.
Proses panjang pengembangan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali itulah yang diangkat dalam disertasi hingga akhirnya mengantarkan Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, S.Sn., M.M, meraih gelar doktor di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), belum lama ini.

Dalam disertasinya Joko mengangkat bagaimana pengembangan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali sebagai wisata edukasi berbasis seni pertunjukan. Sendratari Topeng Sugriwa-Subali merupakan contoh potensi budaya lokal dapat terus dikembangkan tanpa kehilangan identitas.
Wisata Edukasi Berbasis Seni Pertunjukan
Gagasan pengembangan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali itu sendiri tidak lahir begitu saja. Sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko banyak terlibat dalam proses pengembangan selama bertahun-tahun.
Pada 2013, upaya pengembangan kesenian mulai dilakukan dengan melibatkan anak-anak di sekitar kawasan Gua Kiskendo. Dua tahun kemudian, pada 2015, pertunjukan mulai diperkenalkan dalam bentuk sendratari bergaya klasik yang masih berpegang pada pakem.
Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 menghadirkan tantangan baru. Pertunjukan seni tidak dapat digelar secara bebas. Seniman kehilangan ruang tampil dan harus beradaptasi dengan berbagai keterbatasan. Sebagian pertunjukan kemudian dilakukan melalui rekaman dan platform daring.
Di tengah kondisi tersebut, muncul dorongan untuk tidak sekadar mempertahankan karya budaya yang sudah ada, tetapi juga melakukan eksplorasi-eksplorasi baru.
“Seniman dan budayawan itu biasanya kreatif membuat inovasi. Mereka kemudian berpikir bagaimana ketika pandemi sudah hilang, karya budaya ini bisa tetap produktif,” kata Joko kepada mabur.co, Kamis (23/7/2026).
Potensi Kawasan Sesuai Kebutuhan Wisata
Dari situlah pengembangan Sendratari Sugriwa-Subali mulai menemukan arah baru. Joko melihat, kekayaan cerita, potensi kawasan, serta kemampuan masyarakat sekitar dapat menjadi dasar untuk menciptakan bentuk pertunjukan yang lebih sesuai dengan kebutuhan wisata.
Salah satu inovasi utama adalah penggunaan topeng. Bagi Joko, topeng bukan sekadar unsur artistik. Topeng juga menjadi solusi praktis bagi pertunjukan yang dikembangkan untuk wisatawan.
Dalam pertunjukan konvensional, proses tata rias pemain dapat memerlukan waktu cukup lama. Sementara wisatawan memiliki waktu yang terbatas.
“Misalnya ada dua bus datang dan hanya punya waktu 15 menit. Kalau tanpa topeng, kita membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk make up. Dengan topeng, persiapannya bisa jauh lebih cepat,” ujarnya.
Konsep pertunjukan pun kemudian disesuaikan. Durasi dipadatkan. Beberapa adegan yang dianggap terlalu panjang dipangkas. Alur dibuat lebih komunikatif. Unsur humor dan atraksi ditambahkan agar pertunjukan lebih mudah diterima penonton.
Perubahan tersebut bukan berarti menghilangkan akar tradisi. Sebaliknya, Joko ingin Sendratari Topeng Sugriwa-Subali memiliki bentuk baru yang tetap berangkat dari kekayaan budaya lokal, tetapi mampu berkomunikasi dengan masyarakat masa kini.
“Ini bukan lagi hanya berbicara soal pakem atau tradisi, tetapi sudah ada bentuk-bentuk pengembangan,” jelasnya.
Dalam disertasinya, Joko melihat Sendratari Topeng Sugriwa-Subali memiliki fungsi yang lebih luas. Wisatawan memang datang untuk menikmati pertunjukan. Namun, pada saat yang sama, mereka juga dapat menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dan pertunjukan.
Nilai moral, sosial, budaya, hingga pendidikan dapat disampaikan melalui karakter, konflik, gerak tari, musik, serta alur cerita.
“Dari kegiatan atau aktivitas pergelaran Sendratari Topeng Sugriwa-Subali, penonton akan banyak menyerap nilai-nilai pendidikan,” katanya.
Wisata, Seni, dan Pendidikan
Karena itu, konsep yang dikembangkan Joko mempertemukan tiga unsur: wisata, seni, dan pendidikan.
Wisatawan dapat berkunjung, menikmati pertunjukan, dan bersenang-senang. Namun, mereka juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Inilah yang kemudian menjadi gagasan utama dalam disertasinya.
Menurut Joko, sebuah produk budaya tidak cukup hanya dipertahankan. Ia juga harus dapat terus hidup, beradaptasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Joko menyadari bahwa Yogyakarta dan sekitarnya telah memiliki berbagai pertunjukan seni wisata yang kuat.
Ada Sendratari Ramayana di Prambanan dan Wayang Wong Sri Wedari. Karena itu, Sendratari Topeng Sugriwa-Subali tidak boleh hanya menjadi pertunjukan lain yang menyerupai produk budaya yang sudah ada.
“Jangan sampai kita membuat produk, tetapi di tempat lain sudah ada. Kalau tidak memiliki identitas, orang tidak melihat keunikannya,” ujarnya.
Identitas Sendratari Topeng Sugriwa-Subali dibangun dari sejumlah kekuatan. Pertama, cerita Sugriwa dan Subali yang memiliki kaitan dengan kawasan Gua Kiskendo. Kedua, penggunaan topeng sebagai ciri utama pertunjukan. Ketiga, lokasi pertunjukan yang memiliki hubungan dengan cerita dan lingkungan budaya setempat.
Menurut Joko, hubungan antara cerita, lokasi, dan bentuk pertunjukan tersebut menjadi kekuatan yang membedakannya dari seni wisata lainnya.
Jika Prambanan memiliki identitas kuat melalui kisah Ramayana dan Candi Prambanan, maka Sendratari Topeng Sugriwa-Subali memiliki peluang membangun identitas serupa melalui kawasan Kiskendo dan kisah Sugriwa-Subali.
Joko juga mendorong agar pertunjukan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali tidak hanya dikembangkan dalam satu bentuk yakni dimainkan secara utuh dengan jumlah pemain besar. Namun juga dapat dikemas dalam format yang lebih kecil dan praktis.
Misalnya, pertunjukan dapat hadir di hotel, restoran, atau menjadi bagian dari paket wisata dan acara makan malam.
“Tidak harus dimainkan dalam format besar. Bisa dimainkan dengan lima penari, bisa dalam format yang lebih besar, atau dimainkan secara utuh dengan puluhan pemain,” jelasnya.
Fleksibilitas ini penting agar karya budaya dapat menjangkau lebih banyak ruang. Dengan begitu pertunjukan tidak hanya bergantung pada satu panggung besar, tetapi juga dapat hadir di berbagai tempat dan dalam berbagai konteks. Meski menurut Joko, perubahan bentuk tersebut tetap harus menjaga identitas utama karya.
Ia membayangkan ke depan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali dapat memiliki panggung pertunjukan yang representatif, lengkap dengan tata cahaya, tata suara, dan fasilitas pendukung.
Dengan pengelolaan yang baik, ia berharap pertunjukan tersebut dapat menjadi ikon seni wisata baru.
“Kalau di Bali ada kecak dan barong, kita harus memiliki identitas sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, Kulon Progo memiliki peluang untuk mengembangkan wisata budaya karena berada di antara Yogyakarta International Airport (YIA) dan kawasan wisata nasional super prioritas Borobudur.
Wisatawan yang datang melalui YIA dan hendak menuju Borobudur membutuhkan berbagai pilihan destinasi. Karena itu Kulon Progo, kata Joko, harus mampu menawarkan pengalaman wisata yang menarik. Salah satunya melalui seni pertunjukan budaya seperti Sendratari Topeng Sugriwa-Subali.
Lahir di Wonogiri pada 4 Juli 1972, Joko sendiri berhasil mendapatkan gelar doktor di usia 54. Sebelum menyelesaikan S3 di Universitas Negeri Yogyakarta, ia pernah menempuh pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam ujian disertasi, Joko sendiri diuji oleh Rektor UNY Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO, Prof. Dr. Yudanto, S.Pd.Jas., M.Pd., serta Bupati Kulon Progo Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M. Selain itu ada juga Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Kuswarsantyo, M.Hum., dan Dr. Bambang Saptono, M.Si.
Bagi Joko, disertasi tersebut bukan hanya capaian akademik di tengah kesibukannya sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo.
Namun juga upaya untuk memberikan pijakan ilmiah bagi pengembangan sebuah karya budaya yang lahir dari proses panjang, bernama Sendratari Topeng Sugriwa-Subali yang kini telah menjadi identitas budaya sekaligus produk wisata edukasi khas Kulon Progo. ***
