Mabur.co – Setelah aksi joget-jogetnya di media sosial viral beberapa waktu lalu, Hendrik Irawan, seorang mitra kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Batujajar, Bandung Barat, akhirnya harus menerima kenyataan pahit.
SPPG miliknya tersebut terpaksa ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN), akibat ketahuan tidak memenuhi standar maupun petunjuk teknis (juknis) yang telah ditetapkan oleh BGN.
Menurut keterangan dari Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, SPPG yang dikelola Hendrik masih belum memenuhi standar kelayakan untuk sebuah SPPG, meliputi layout dapur serta ketersediaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah Makan Bergizi Gratis) yang tidak sesuai dengan juknis dari BGN.
Nanik sendiri membantah bahwa penutupan tersebut berasal dari aksi joget-jogetnya di media sosial.
Mengetahui keputusan ini, Hendrik pun “curhat” di TikTok pribadinya, @mitrapangaubanbatujajar.
Dalam unggahannya pada Rabu (25/3/2026) tersebut, ia kembali menyampaikan permintaan maaf kepada netizen sekaligus presiden Prabowo Subianto, atas kegaduhan yang ia ciptakan akibat aksi joget-jogetnya di media sosial, yang dinilai telah meresahkan masyarakat sekaligus tidak berempati terhadap situasi sulit yang terjadi saat ini.
“Mohon maaf sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia yang sudah merasa terganggu atas kesalahan saya. Saya juga memohon maaf kepada Bapak Presiden dan BGN atas terjadinya huru-hara dalam beberapa hari ini.
Ke depan saya akan belajar lagi untuk bermedia sosial yang baik dan benar. Dan untuk SPPG Pagauban mulai hari ini dan seterusnya ditutup,” tulis Hendrik dalam captionnya di media sosial TikTok sebagaimana dilansir dari laman Tribunnews, Rabu (25/3/2026).
Meskipun telah meminta maaf berkali-kali, bahkan sampai ke Presiden Prabowo, namun Hendrik masih tidak habis pikir, bahwa video “iseng”-nya itu bisa menjadi viral dan terus berbuntut panjang, hingga berbuah pemberhentian SPPG miliknya.
“Awalnya saya merasa kaget kok permasalahan ini menjadi besar, menjadi huru-hara. Tapi memang ini kesalahan saya, saya tidak mematuhi protokol, seperti saya nge-dance itu di ruangan pengemasan. Saya tidak menyangka akan viral seperti ini,” lanjut Hendrik.
Dengan penutupan ini, Hendrik pun berusaha untuk tetap tenang, sembari memikirkan nasib 150 relawan SPPG Pangauban ke depan, yang telah bersusah payah menyediakan menu MBG setiap harinya kepada siswa-siswi di sekolah. (*)



