Mabur.co – Guna meningkatkan ketahanan energi nasional di tengah krisis energi global, Indonesia terus berupaya meningkatkan produksi bahan bakar nabati (BBN) jenis bensin, yakni bioetanol.
Selain sawit, tebu juga diwacanakan akan dijadikan sebagai salah satu bahan baku alternatif pembuatan BBN berupa etanol tersebut.
PT Pertamina (Persero) pun mengaku sedang melirik tebu sebagai bahan baku etanol dalam rangka mendukung program campuran etanol dalam bensin hingga 20 persen atau E20.
“Jadi, selain sawit, kami sudah mulai melirik tebu, untuk molase. Kami ada untuk bioetanol di Glenmore,” ujar SVP Business Sustainability PT Pertamina, Wenny Ipmawan, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (16/4/2026).
Wenny menyampaikan Pertamina saat ini sudah menerapkan penggunaan tebu sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, dengan campuran 5 persen etanol terhadap bensin melalui produk Pertamina Green 95.
Ke depan, Pertamina berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam merealisasikan E20 atau campuran 20 persen etanol terhadap bensin dengan memperbanyak kadar campuran etanol tersebut.
Meski begitu Pertamina saat ini dikatakan masih meneliti sumber-sumber nabati apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan baku. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan faktor bahan baku yang digunakan untuk makanan.
“Tentu kami harus seimbang antara mana (bahan baku) yang food grade, mana yang fuel grade. Ini juga perlu bantuan pemerintah untuk kemudian menyeimbangkan,” ujar Wenny.
Sementara itu di lain sisi, Indonesia sendiri saat ini masih sangat kekurangan suplai tebu untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan indusrti gula.
Hal itu tak lepas karena produksi gula nasional hingga saat ini masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan yang ada, sehingga harus mendatangkan gula dari luar negeri.
Tahun 2025 lalu, Indonesia bahkan tercatat harus mengimpor 3,93 juta ton gula dari Thailand, Brasil, Australia, dan India untuk mencukupi kebutuhan nasional mencapai 6,7 juta ton. Yang terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri.
Minimnya pasokan tebu dari petani akibat semakin berkurangnya lahan tebu selama ini bahkan juga membuat banyak pabrik gula di berbagai daerah tutup.
Dimana saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 59 hingga 62 pabrik gula yang aktif beroperasi mengolah tebu menjadi Gula Kristal Putih (GKP), dengan konsentrasi terbesar berada di Jawa Timur.
Industri ini tercatat didominasi oleh BUMN (sekitar 40 pabrik) dan sisanya swasta, dengan mayoritas mesin pabrik berusia di atas 100 tahun sehingga tidak efektif dan efisien dalam produksinya.
Karena itulah, pemanfaatan tebu sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar nabati (BBN) jenis bensin berupa etanol, harus benar-benar dipertimbangkan.
Sehingga tidak sampai memengaruhi produksi gula nasional yang berdampak pada naiknya impor gula di masa mendatang.


