Mabur.co – Hari lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni adalah momen bersejarah saat Soekarno pertama kali menyampaikan gagasan dan mengusulkan nama “Pancasila” di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.
Tanggal 1 Juni sendiri ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila sejak tahun 2016 lalu oleh Presiden Joko Widodo, yang juga dijadikan sebagai hari libur nasional.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidaklah semulus isinya, yang begitu melambangkan “kesempurnaan” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menjadi Hafalan Wajib di Masa Sekolah
Padahal sejak kecil, kita selalu mengucapkan kelima sila Pancasila dalam setiap perayaan upacara di hari Senin.
Bahkan saking seringnya mengucapkan Pancasila tiap Senin, kita sudah terlalu hapal dengan semua isi kandungan Pancasila, beserta lambang-lambangnya yang tercantum dalam Garuda Pancasila.
Lalu ketika sudah beranjak dewasa, apakah semua hapalan itu lantas benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari?
Menjaga Simbol, Tapi Lupa Menerapkannya
Menurut salah satu Duta Bahasa DIY, Fitria Eranda, hari lahir Pancasila tak ubahnya hanya selebrasi simbolitas belaka.

Ia merasa Pancasila belum benar-benar merasuk dalam keseharian masyarakat Indonesia, sekalipun sudah menjadi “hapalan wajib” sejak masa sekolah dahulu.
“Kadang aku merasa negara ini terlalu sibuk menjaga simbol (Pancasila), sampai-sampai lupa menjaga manusianya. Padahal kita selalu diajarkan untuk menghapal Pancasila sejak kecil, tapi kita justru tumbuh di tengah realitas yang membuat banyak orang takut untuk berbeda pendapat. Sulit hidup layak dan perlahan-lahan kehilangan rasa empati,” ujar Fitria saat dihubungi oleh mabur.co, Senin (1/6/2026).
Baginya, Pancasila seharusnya tidak sekadar diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Juni saja, melainkan terus diperingati setiap hari dalam wujud kehidupan berbangsa dan bernegara, yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.
“Jadi mungkin yang perlu diperingati hari ini bukan cuma kelahiran Pancasila saja, tapi juga seberapa jauh kita benar-benar hidup dalam nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila itu sendiri,” tambah Fitria.
Merayakan hari lahir Pancasila memang tidak salah, namun perayaan itu haruslah dibarengi dengan penanaman nilai-nilai Pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga Pancasila bisa benar-benar berperan sebagai “dasar negara” yang mampu mewujudkan sosok “manusia Pancasila” yang sesungguhnya. (*)

