Mabur.co – Suasana Dusun Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, nampak biasa saja di momen Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Senin 1 Juni 2026 hari ini.
Tak ada satupun perayaan yang digelar warga, walau itu hanya sekedar upacara bendera sebagaimana biasa dilaksanakan instansi-instansi ataupun lembaga-lembaga pemerintah dengan jadwal dan anggaran yang sudah terencana.
Bagi warga di pelosok dusun Temben ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mungkin bukan sesuatu yang harus diperingati secara resmi, sehingga tetap berjalan apa adanya, sebagaimana hari-hari biasa.
Di momen hari libur nasional ini warga nampak tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Mulai dari pergi ke sawah untuk bertani. Berdagang di pasar. Atau pun mencari rumput untuk pakan hewan ternak mereka.
Warga Tak Tahu Hari Pancasila
“Memangnya ini libur hari lahir Pancasila ya, Mas? Malah baru tahu saya,” ujar Sunarto, salah seorang warga saat ditanya perihal Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026).
Meski tak diperingati secara resmi lewat kegiatan upacara bendera, bahkan tak diingat oleh sebagian warga, bukan berarti Pancasila hilang dan dilupakan masyarakat Indonesia termasuk warga di Dusun Temben ini.
Bahkan bisa dibilang, di pelosok desa-desa terpencil seperti Dusun Temben inilah, nilai-nilai Pancasila justru diimplementasikan langsung oleh mayoritas warganya lewat kehidupan sehari-hari mereka.

Saat para pejabat sibuk berteori dan bernarasi soal Pancasila, warga dusun Temben justru telah lebih dulu mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai napas kehidupan mereka.
Terletak di sisi barat sungai Progo, dusun Temben merupakan dusun kecil di Kapanewon Lendah dengan jumlah penduduk hanya terdiri dari 1300 jiwa dan 300 KK.
Terbagi dalam 7 wilayah RT yang didominasi wilayah perbukitan rendah, mayoritas warga di dusun ini bekerja sebagai buruh tani, peternak ataupun pedagang kecil.
“Wilayah kita tidak ada sawah. Sehingga mayoritas warga hanya bekerja sebagai buruh tani di desa sebelah. Atau juga beternak dan berjualan makanan seperti dawet, tahu dan sebagainya,” ujar Dukuh Temben, Sogiyem.
Meski mayoritas penduduknya berpenghasilan cukup rendah, nilai-nilai Pancasila seperti ketaatan beragama, rasa persatuan, hingga semangat gotong-royong masih dipegang teguh setiap warga dusun Temben.
Di bidang keagamaan misalnya, meski mayoritas warganya didominasi umat muslim (dari 1.300 penduduk hanya 23 orang yang beragama Nasrani) namun kehidupan agama di dusun ini berjalan harmonis.
Setiap warga tetap bisa menjalankan agamanya secara leluasa, dengan semangat untuk saling menghormati keyakinan masing-masing.
Rasa kebersamaan, persatuan dan semangat gotong-royong warga Dusun Temben juga begitu terlihat dalam setiap kegiatan kemasyarakatan yang berjalan setiap harinya.

“Di sini ada banyak kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Mulai dari kegiatan ronda setiap malam, kerja bakti rutin setiap selapan sekali, hingga pertemuan-pertemuan seperti arisan, karang taruna hingga dasa wisma,” ujar Sogiyem.
Membangun Jembatan Swadaya
Salah satu bentuk keguyuban dan gotong-royong warga itu terlihat dari kebiasaan warga yang selalu membangun jembatan penghubung yang membelah Sungai Progo setiap tahunnya.
Saat memasuki musim kemarau mereka biasa akan membuat jembatan sesek dari bambu untuk menghubungkan wilayah dusun mereka ke wilayah Bantul di sisi timur sungai.
Jembatan ini mereka buat secara swadaya dengan cara bergotong-royong untuk memudahkan akses warga meski hanya sementara.
“Jembatan sesek ini memang selalu rutin dibangun sejak lama secara turun-temurun agar warga tidak perlu memutar jauh saat hendak melintasi sungai Progo. Karena mayoritas warga di sini kan pedagang,” katanya.
Semangat gotong-royong dan persatuan warga juga terlihat dalam setiap kegiatan hajatan. Baik saat acara nikahan, sunatan ataupun layatan (saat ada orang meninggal). Tanpa diminta pun, setiap warga akan saling bantu membantu mengurus semua keperluan dengan tradisi rewang, nyinom, dan sebagainya.
“Saat ronda biasanya masyarakat di sini juga rutin melakukan jimpitan (mengumpulkan uang atau beras). Untuk satu blok saja (1-2 RT) setiap selapan sekali bisa dapat Rp900 ribu hingga Rp1 juta. Uangnya digunakan untuk keperluan bersama termasuk membantu warga yang kesusahan,” katanya.

Tak hanya kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan seni dan budaya juga berkembang baik di dusun ini. Seluruh warganya baik usia tua atau pun muda rutin berkesenian baik itu kesenian tradisional ketoprak, jatilan hingga hadrah.
Termasuk juga melestarikan tradisi leluhur seperti nyadran, selametan hingga merti desa.
“Saat upacara merti dusun semua warga akan ikut memeriahkan. Tidak membeda-bedakan kelompok atau agama tertentu. Semua hadir dengan semangat kekeluargaan,” katanya.
Menurut Sogiyem, masih kuatnya nilai-nilai Pancasila yang dijalankan warga itu bukanlah sesuatu yang luar biasa karena memang sudah menjadi kebiasaan sejak lama.
“Saya kira semangat Pancasila seperti tepo seliro (saling menghormati dan menghargai perbedaan), gotong-royong, rasa persatuan dan kekeluargaan sudah sejak lama berjalan di desa-desa. Jadi bukan sesuatu yang istimewa,” katanya.
Meski begitu, Sogiyem tak menampik adanya sejumlah tantangan yang muncul dalam kehidupan masyarakat desa saat ini.
Salah satunya adalah pengaruh budaya luar seperti kebiasaan mabuk-mabukan di kalangan generasi muda, hingga penggunaan internet berlebihan yang memunculkan sikap individualis serta semakin menggerus rasa kekeluargaan antarwarga.
“Termasuk juga budaya politik uang dalam memilih pemimpin. Sudah jadi rahasia umum sekarang ini semua daerah menjalankan praktik semacam itu. Sehingga semangat Pancasila dalam menentukan pemimpin seolah sudah hilang,” pungkasnya.

