Mabur.co – Dalam budaya ketimuran, orang-orang seringkali merasa “tidak enakan” terhadap orang lain, terutama kepada orang yang usianya lebih tua.
Kebiasaan ini sering dikaitkan dengan budaya kolektif, unggah-ungguh (dalam budaya Jawa), dan penghormatan pada norma sosial.
Hal itu kemudian menciptakan satu tradisi baru bernama “people pleaser“.
People pleaser adalah seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, termasuk di antaranya adalah mengorbankan diri sendiri.
Mereka sulit menolak permintaan, cenderung menghindari konflik, dan sering memendam perasaan demi ekspektasi orang lain. Kondisi ini lantas memicu stres, kelelahan mental, dan hilangnya jati diri.
Selain itu, Anda juga tidak memiliki kemampuan untuk sekadar berkata “tidak” terhadap segala sesuatu. Alias selalu “mengiyakan” semua ajakan orang lain kepada Anda.
Tentunya hal ini tidak akan baik untuk Anda jika terus-menerus dilakukan, khususnya dalam jangka panjang.
Dilansir dari laman KlikDokter, Jumat (17/4/2026), belajar berkata “tidak” adalah keterampilan yang penting dimiliki oleh seseorang, untuk dapat memelihara kesehatan mental, mengatur manajemen waktu, dan menetapkan batasan diri (boundaries) yang sehat.
Seringkali, kita merasa sungkan (enggak enakan) untuk menolak ajakan terhadap sesuatu, terutama karena takut melukai perasaan orang lain, atau dianggap tidak bersedia membantu.
Berikut adalah panduan sederhana, untuk membiasakan diri berkata “tidak” dalam situasi tertentu, tanpa harus melukai perasaan lawan bicara Anda.
1. Situasi yang Memerlukan Kata “Tidak”
- Permintaan yang Melebihi Batas (Overload): Ketika tugas atau permintaan orang lain dianggap mengganggu prioritas utama, pekerjaan utama, atau waktu istirahat Anda, segeralah berkata “tidak” dari setiap ajakan orang lain.
- Melanggar Nilai/Prinsip Diri: Saat diminta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai maupun prinsip, moral, atau kenyamanan Anda, langsung saja katakan “tidak”.
- Demi Kesehatan Mental: Anda juga perlu mengatakan “tidak” jika diminta masuk/bergaul dengan lingkungan yang dianggap toxic, panen gosip, atau pertemuan yang hanya membuang energi dan merusak kebahagiaan diri sendiri.
- Tekanan Sosial (People Pleasing): Saat Anda merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain, meskipun itu merepotkan diri sendiri, mungkin ada saatnya Anda perlu mengatakan “tidak” untuk hal tersebut.
- Opini/Perdebatan yang Tidak Perlu: Tidak semua opini atau ajakan berdebat harus ditanggapi. Menghindari perdebatan tentu saja lebih baik daripada menciptakan “perang” dalam situasi tertentu.
2. Cara Mengatakan “Tidak” Secara Santun (Asertif)
Berkata “tidak” tidak harus dengan cara kasar atau memaksa. Ada beberapa cara mudah yang bisa Anda lakukan, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
- Langsung dan Jelas: Hindari berkata “tidak” secara bertele-tele (berputar-putar tidak sesuai intinya), agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
- Berikan Alasan Singkat (Tapi Tidak Terlalu Detail): Anda tidak perlu menjelaskan panjang lebar untuk menolak suatu ajakan. Contohnya: “Maaf, saat ini saya tidak bisa mengambil pekerjaan tambahan karena jadwal saya sudah penuh”, dan seterusnya.
- Tawarkan Alternatif (Jika Memungkinkan): Anda juga bisa menolak ajakan dengan cara mencarikan opsi pengganti yang lebih memungkinkan. Misalnya “Saya tidak bisa membantu mengerjakan proyek itu untuk saat ini, tapi mungkin bisa dicoba untuk minggu depan.”
- Tegaskan Batasan Diri: Anda juga bisa menjelaskan batasan diri Anda terhadap suatu ajakan tertentu yang dianggap menyimpang. Pahami bahwa membuat batasan adalah hal sehat, bukan keegoisan.
3. Mengatasi Rasa Bersalah
Terkadang saat mengucapkan kata “tidak” atau menolak ajakan tertentu dari orang lain, kita mengalami rasa bersalah, atau telah mengecewakan orang tersebut, karena telah menolak ajakannya, dan seterusnya. Namun ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, untuk mengatasi rasa bersalah semacam itu.
- Selalu Ingat Prioritas Diri: Dengan berkata “tidak” pada hal yang (menurut Anda) salah, Anda langsung mengatakan “ya” pada kesehatan mental dan waktu Anda sendiri (Ingat, itu bukan egois).
- Evaluasi Hubungan: Jika Anda memiliki teman-teman atau circle pertemanan yang baik, mereka pasti akan menghormati batasan Anda.
- Latihan: Mulailah dari penolakan yang bersifat kecil (misalnya menolak ajakan jalan saat weekend), agar terbiasa menolak hal-hal besar di kemudian hari (yang tidak sesuai dengan prinsip Anda).
***
Dengan berani menetapkan batasan, sekaligus berani berkata “Tidak” pada situasi tertentu, hidup akan terasa lebih teratur, berkualitas, dan terhindar dari stres akibat beban berlebih demi menyenangkan orang lain.
Namun jangan salah kaprah, berusaha berkata “tidak” bukan berarti 100% selalu berkata tidak, apalagi jika kemudian dicap sebagai individu yang egois.
Semua perkataan “tidak” atau penolakan terhadap ajakan tertentu memiliki kadarnya masing-masing.
Namun tentu saja, apabila setiap ajakan itu memang tidak ada yang sesuai dengan prinsip pribadi Anda, berkata “tidak” untuk 100% ajakan serupa mungkin merupakan opsi yang lebih tepat untuk dilakukan.
Sekalipun Anda akan dicap manusia yang egois, dan seterusnya. (*)



