Di Balik Tafsir Faidh al-Rahman, Sebuah Rekonstruksi Hari Kartini - Mabur.co

Di Balik Tafsir Faidh al-Rahman, Sebuah Rekonstruksi Hari Kartini

Dalam setiap perayaan Hari Kartini, 21 April, mungkin kita sering kali hanya merayakan bayang-bayang. Kita mengingat sosok yang menulis surat-surat yang telah disunting, perempuan yang—sekian lama—hanya dipahami emansipasi gaya Barat.

Namun, sejarah seringkali adalah kepingan cermin yang retak; ia sering menyembunyikan wajah aslinya di balik tirai narasi penguasa.

Di sinilah kita perlu menengok kembali, melampaui batas surat-surat kepada Stella Zihandelaar, menuju sebuah pertemuan takdir di pendopo Demak.

Di sana, duduk seorang perempuan muda, RA Kartini, di hadapan seorang alim bersahaja, Kiai Sholeh Darat.

Jika Kartini adalah api, maka Sosrokartono, kakaknya yang tercerahkan dan santri kalong Kiai Soleh Darat di Semarang itu, mungkin angin yang meniupkan api itu ke tungku keilmuan.

Banyak yang alpa menyebut nama Sosrokartono, padahal melalui Sosro, Sang Kakak inilah yang sekolah di Europeesche Lagere School di Jepara, Kartini belajar bahasa asing kepadanya, mengenal tokoh-tokoh barat, lalu menulis surat, kemudian mengenal seorang Kiai yang alim, dan dari sini ia amat tersentuh batinnya, bukan sekadar basa-basi keningratan.

Bayangkan adegan itu: seorang putri bupati, yang terkurung pingitan, merengek pada pamannya seperti anak kecil, hanya untuk mengejar seorang guru.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” kalimat itu tajam, menyayat, sekaligus jujur.

Selama itu, bagi Kartini, Islam adalah “kegelapan” —bukan karena agamanya, melainkan karena tabir bahasa yang dibentengi oleh dogma kolonial. Ia hafal Al-Fatihah, tapi meraba-raba dalam makna. Ia adalah pencari yang lapar, terasing di tanah kelahirannya sendiri, dicekoki hafalan tanpa makna.

Dialog di Demak itu adalah titik balik. Ketika Kiai Sholeh Darat menerjemahkan Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa, yang terjadi bukan sekadar transfer bahasa, melainkan wahyu personal. Kartini menemukan “cahaya”. Ia menemukan bahwa Islam bukanlah penjara, melainkan bimbingan kebahagiaan.

Di balik surat-surat yang kerap dipandang sekuler, ada perjalanan spiritual yang sunyi. Kartini—yang kerap dicitrakan hanya mengagumi Eropa—justru menemukan akar sejatinya pada ayat “Minadh-dhulumati ilan-nuur” (dari gelap menuju cahaya), yang dipahami melalui Kitab Faidhur-Rohman, sebuah kitab tafsir yang ditulis dengan aksara Arab Pegon untuk mengelabui mata penjajah.

Maka, “Door Duisternis Tot Licht”—Habis Gelap Terbitlah Terang—bukanlah sekadar kutipan dari buku-buku Belanda. Ungkapan itu adalah kristalisasi perjumpaan Kartini dengan nurani agamanya. Ia menemukan pencerahan justru ketika ia memahami Tuhan dalam bahasanya sendiri.

Puncaknya, Kartini, sang bangsawan, justru ingin menanggalkan gelarnya. Ia tidak ingin menjadi “setengah Eropa”. Ia menulis, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

Di hari Kartini ini, mari kita berhenti sejenak dari pemujaan simbolis kebaya. Mari kita rayakan Kartini sebagai seorang pemikir yang utuh, seorang perempuan yang menemukan kemerdekaannya bukan dengan membuang agamanya, melainkan dengan menyelami kedalamannya.

Kita berhutang pada Sosrokartono, kakak yang menjadi jembatan. Kita berhutang pada Kiai Sholeh Darat, sang penerang. Dan kita merayakan Kartini yang sesungguhnya: Kartini yang tak lagi tersesat dalam gelap, tapi berjalan menuju cahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *