Saya pernah percaya bahwa hidup ini bisa diringkas menjadi dua hal: kopi sachet murahan dan televisi tabung yang gambarnya goyang kalau ada truk lewat.
Lebih parah lagi, saya dulu menganggap itu bukan kebiasaan malas, tapi filosofi hidup yang layak diperjuangkan.
Sekarang, di usia nyaris 41 tahun, dengan istri, empat anak, pekerjaan di dunia sastra dan teknologi musik yang entah kenapa terasa seperti dua dunia yang sama-sama tidak stabil, saya masih duduk, memutar Coffee & TV dari Blur, dan berpikir: ternyata saya tidak berkembang sejauh yang saya kira.
Tahun 1999, saya 14 tahun, kelas 2 SMP, dan saya baru menemukan lagu ini dari kaset bajakan yang kualitasnya seperti direkam dari radio tetangga yang lagi batuk.
Saya tidak tahu apa itu Britpop. Saya tidak tahu siapa Graham Coxon atau Damon Albarn. Tapi saya tahu satu hal: ini penting.
Ini bukan lagu. Ini semacam kitab suci kecil yang ditujukan langsung kepada saya, seorang remaja dengan jerawat yang mulai muncul dan kebingungan eksistensial yang sebenarnya belum punya bahan.
“Do you feel like a chain store?” Waktu pertama kali dengar, saya langsung merasa tersentuh secara filosofis, meskipun saya belum pernah masuk supermarket besar.
Saya tinggal di lingkungan yang lebih akrab dengan warung daripada chain store, tapi itu tidak penting.
Yang penting adalah perasaan bahwa saya adalah bagian dari sesuatu yang generik, sesuatu yang kehilangan identitas. Padahal, kalau jujur, identitas saya saat itu cuma “anak yang duduk di bangku ketiga dari belakang dan suka lupa bawa buku tulis.”
Saya mulai menjalani hidup seperti karakter utama dalam film yang tidak pernah dibuat.
Saya berjalan pulang sekolah dengan ekspresi murung, menatap jauh ke depan seolah-olah sedang memikirkan makna hidup, padahal sebenarnya saya sedang mengingat apakah PR Fisika (matpel paling ribet) saya sudah dikerjakan atau belum.
Saya duduk di kamar, memutar lagu itu berulang-ulang, sambil menatap tembok dengan intensitas yang seharusnya hanya diberikan pada hal-hal penting, bukan cat tembok yang mulai mengelupas.
“Your ears are full but you’re empty.” Ini kalimat yang saya anggap sangat dalam.
Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi saya yakin ini menjelaskan semua hal yang tidak bisa saya jelaskan.
Kenapa saya malas belajar? Karena saya kosong. Kenapa saya tidak semangat olahraga? Karena saya kosong.
Kenapa saya tidak tahu harus bicara apa saat kumpul keluarga? Anda bisa menebaknya: karena saya kosong. Ini adalah pembenaran yang sangat fleksibel.
Lalu datang chorus yang mengubah segalanya: “So give me coffee and TV, easily.”
Saya langsung menganggap ini sebagai panduan hidup yang sah. Masalahnya, saya belum boleh minum kopi.
Jadi saya mulai minum kopi diam-diam, kopi sachet yang rasanya lebih seperti gula panas dengan sedikit aroma kopi.
Saya duduk di depan TV tabung, menonton apa saja yang ada, dari sinetron sampai acara kuis, dengan keyakinan bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang penting secara eksistensial.
“I’ve seen so much, I’m going blind.” Ini bagian favorit saya.
Saya mengulang-ulangnya dengan penuh penghayatan, seolah-olah saya baru saja mengalami hidup yang sangat berat.
Padahal pengalaman saya saat itu mungkin hanya sebatas dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR dan sekali kalah lomba lari karena saya berhenti di tengah jalan untuk minum es.
Tapi di buku harian, saya menulis dengan serius: “Saya sudah melihat terlalu banyak.” Saya tidak tahu apa yang saya lihat, tapi saya yakin itu penting.
“Sociability is hard enough for me.”
Ini menjadi alasan resmi saya untuk semua kecanggungan sosial. Tidak diajak main? Bukan masalah, saya memang tidak suka bersosialisasi. Tidak tahu harus bicara apa?
Itu karena saya terlalu dalam untuk percakapan biasa. Ini semua terdengar sangat meyakinkan, terutama bagi saya sendiri. Kenyataannya, saya hanya anak 14 tahun yang tidak terlalu pandai ngobrol.
Saya juga mencoba memainkan lagu itu dengan gitar dan dengan kondisi tangan kiri yang sedang belajar menekan akor bar chord atau kunci balok dengan telaten.
Hasilnya lebih mirip bunyi seng dipukul daripada musik, tapi saya tetap yakin ini bagian dari distorsi artistik.
Saya duduk di lantai, memukul senar dengan sapuan tangan kanan dan tentunya ekspresi sok serius, berharap seseorang melihat dan berkata, “Anak ini punya potensi.”
Tidak ada yang berkata begitu. Yang ada hanya ibu saya yang bertanya kenapa saya tidak belajar.
Tahun 1999 sendiri bukan tahun yang sederhana. Di luar sana, negara baru saja keluar dari krisis.
Berita di TV penuh dengan hal-hal besar yang sebenarnya terlalu besar untuk saya pahami. Tapi di dalam kamar saya, semua itu direduksi menjadi satu hal: saya dan lagu ini.
Dunia luar menjadi latar belakang, sementara lirik-lirik itu menjadi pusat dari semua yang saya rasakan.
Saya mulai melihat segala sesuatu melalui lensa lagu itu. Pergi ke warung terasa seperti perjalanan eksistensial.
Mendengar orang dewasa bicara terasa seperti mendengar bahasa yang penuh makna tersembunyi. Semua hal kecil menjadi besar, karena saya memutuskan begitu.
Ini adalah kekuatan sekaligus kelemahan menjadi remaja: kemampuan untuk memberi makna berlebihan pada hal-hal yang sebenarnya biasa saja.
Sekarang, lompat ke usia hampir 41 tahun. Saya punya istri yang kadang melihat saya dengan ekspresi yang mengatakan, “Saya sayang kamu, tapi kamu aneh.”
Saya punya empat anak yang menganggap saya adalah sumber Wi-Fi sekaligus manusia yang kadang tiba-tiba memutar lagu lama dan diam.
Saya bekerja di dunia sastra dan teknologi musik, yang berarti saya menghabiskan waktu antara menulis sesuatu yang saya harap bermakna dan mengutak-atik software yang sering tidak bekerja seperti yang dijanjikan.
Dan di tengah semua itu, saya kembali ke lagu ini.
Bedanya, sekarang saya benar-benar mengerti sedikit dari apa yang dulu saya pura-pura mengerti. “I’ve seen so much” sekarang punya konteks.
Saya memang sudah melihat lebih banyak: kegagalan, revisi, kerjaan yang tidak selesai-selesai, email yang tidak pernah berhenti.
“Sociability is hard enough for me” sekarang berarti mencoba menjelaskan ke empat anak kenapa saya butuh waktu sendiri, yang tentu saja tidak pernah berhasil karena mereka punya konsep waktu sendiri yang tidak mengenal privasi.
Dan “coffee and TV”?
Sekarang bukan lagi kopi sachet diam-diam, tapi sebotol kopi 1 liter (dan lagi promo cuma 65 ribu yang dibeli di Point Coffee Indomaret) yang saya minum dengan penuh rasa syukur, sambil menatap layar LED Xiaomi—bukan TV tabung, tapi intel i3 NUC gen 12 dengan terlalu banyak tab terbuka (dengan RAM 32 GB DDR4 mah masih enteng).
Tetap saja, esensinya sama: saya ingin jeda. Saya ingin berhenti sejenak dari semua hal yang terasa terlalu cepat.
Yang paling menarik adalah bagian “agree to marry me so we can start over again.” Dulu, ini terdengar seperti ide romantis yang sangat besar. Sekarang, setelah menikah, saya tahu bahwa memulai lagi itu tidak sesederhana itu. Tapi ada momen-momen kecil, setelah anak-anak tidur, ketika saya dan istri duduk bersama, lagu ini diputar pelan, dan rasanya seperti kita diberi kesempatan kecil untuk “start over again.” Bukan dalam arti besar, tapi cukup untuk besok.
Saya juga mulai melihat betapa konyolnya saya dulu. Betapa seriusnya saya menjalani fase itu. Saya benar-benar percaya bahwa saya sedang memahami hidup pada level yang lebih tinggi, padahal saya hanya anak SMP yang menemukan lagu yang kebetulan cocok dengan suasana hatinya. Tapi justru di situlah keindahannya. Saya tulus. Saya salah paham, tapi saya tulus.
Sekarang, setiap kali saya memutar lagu itu, ada dua versi diri saya yang bertemu. Yang satu adalah anak 14 tahun yang duduk di lantai, minum kopi sachet, dan merasa sangat dalam. Yang satu lagi adalah pria nyaris 41 tahun yang duduk di kursi, minum kopi 1 liter sungguhan, dan tahu bahwa hidup tidak sesederhana itu. Keduanya sama-sama konyol, hanya dengan cara yang berbeda.
Dan mungkin itu yang membuat lagu ini bertahan. Bukan karena ia benar-benar menjelaskan hidup, tapi karena ia memberi kita ruang untuk merasa bahwa hidup bisa dijelaskan, meskipun hanya sebentar. Ia memberi kita alasan untuk duduk, diam, dan merasa bahwa mungkin, untuk sesaat, semuanya masuk akal.
Atau setidaknya, cukup masuk akal untuk kita tertawa sedikit, minum kopi, menatap layar, dan melanjutkan hidup yang, entah bagaimana, tetap berjalan.



