Era 1980-an dulu, jika siang hari tiba, rasa panas yang menerpa tubuh tidak terasa begitu menyengat. Ketika siang hari memutuskan naik sepeda ke pemandian umum, misalnya, rasanya santai saja. Tanpa keluhan.
Di era kini, pada 2026, selepas jam 11.00 hingga 14.00 WIB rasa panas yang menerpa tubuh seperti langsung menembus kulit. Neraka seperti datang dipercepat. Tidak harus menunggu janji seperti dalam kitab suci. Lama tiba.
Di era kini, jika siang hari tiba, mau keluar rumah ke pemandian umum naik sepeda sudah langsung angkat tangan. Mendingan berlama-lama berdiam diri di kamar mandi, mengguyur tubuh dengan air dingin beberapa kali, dan merasakan kesegaran yang secara perlahan-lahan tetap terasakan nikmat.
Tapi, itu tidak akan berlangsung lama. Jika kemudian tubuh dibebat handuk yang berarti “meditasi” di kamar mandi sudah selesai, maka tidak lebih dari sepuluh menit, sekeluar dari kamar mandi, tubuh akan merasakan panas lagi.
Dulu rumah-rumah tanpa kipas angin sudah terasa segar, sekarang setiap rumah sudah harus mempunyai kipas angin. Mungkin ke depan tidak sampai lima tahun lagi, setiap rumah sudah harus pasang AC.
Lima tahun ke depan lagi, orang sudah tak bisa keluar rumah jika siang hari karena terlalu panas, dan jika keluar rumah harus mengendarai mobil. Tidak cukup hanya motor, apalagi sepeda.
Secara umum, informasi BMKG memang menyebutkan, kisaran panas di Jawa, kini berada pada angka 33 hingga 38 derajat. Luar biasa, bukan?
Padahal sejauh ini literasi lingkungan hidup kita menginformasikan setiap kabupaten dan provinsi mempunyai dinas lingkungan hidup, namun sepertinya tetap tidak sanggup menghadapi gempuran panas yang saban tahun terus meningkat.
Gerakan penanaman pohon banyak dilakukan, namun tampaknya juga belum berhasil membendung panas. Panas yang merayap hingga ke ubun-ubun pada siang hari dan menjadi keluhan bagi orang dewasa, bagaimana pula jika dirasakan bayi? Juga binatang lainnya sebagai makhluk hidup yang juga mempunyai hak sama untuk membangun habitat.
Rupanya, sampai pada panas bumi yang kini merangkak hingga angka 38 di Jawa, belum ada gambaran solusi konkret yang menjanjikan. Kecuali bahwa ke depan setiap rumah hampir bisa dipastikan akan dipasangi AC itu. Aktivitas manusia Jawa pun lebih terbatas lagi jika musim kemarau tiba.
Boleh jadi, konsep neraka itu benar dalam konteks gejala alam yang tertunjukkan seperti sekarang. Neraka sebagai kehancuran alam, matahari terasa seperti hanya berjarak sepuluh sentimeter di atas kepala. Badan pun senantiasa berkeringat, minum air putih sebanyak mungkin tetap tidak menghilangkan rasa panas yang menyelimuti tubuh.
Jawa adalah kunci. Ini hanya sebuah petikan dialog dalam sebuah film jadul yang bagi saya penuh nuansa humor, meskipun banyak orang menganggap sebagai film sejarah yang berhasil.
Dalam konteks panas yang kian menggerus tubuh di musim (yang sebenarnya sudah) kemarau akhir-akhir ini, Jawa boleh jadi memang menjadi salah satu tolok ukur penting.
Sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, atau apa pun, jika Jawa sudah bergejolak, maka bisa jadi berimbas pada banyak hal. Termasuk menyulut gejolak susulan di daerah lain luar Jawa. Jika Jawa “dingin”, maka yang lain ikut “dingin”.
Tapi, panas kali ini memang murni panas karena alam, bukan panas karena gesekan politik atau apa pun. Tidak ada kaitannya dengan semua itu. Panas karena alam yang belum terselesaikan jalan keluarnya.
Sementara di media sosial kita hanya bisa mengeluh dan merutuk. Menjauhi kata takdir dan berusaha menghibur diri dengan banyak mendengarkan musik, menonton film, dengan ditemani kibaran angin dari kipas yang seperti merana. Tetap tak mampu membendung panas tubuh. ***



