Lelah, Alasan, dan Seni Menghaluskan Kata “Nyerah” - Mabur.co

Lelah, Alasan, dan Seni Menghaluskan Kata “Nyerah”

Saya baca tulisan Anda. Pelan-pelan, sambil ngopi, sambil beberapa kali manggut-manggut.

Bukan karena setuju, tapi karena kenal betul tipe ceritanya. Ini cerita yang sering kita dengar di ruang guru.

Nadanya reflektif, bahasanya adem, tapi kalau dicermati, ada satu hal yang diselipin rapi. Pembenaran yang dibungkus pengalaman.

Kita lurusin dulu dari awal. Lelah itu nyata. Birokrasi ribet, jelas.

Program datang dan pergi seperti tren kopi susu. Hari ini disebut revolusioner, besok jadi file yang cuma dibuka saat supervisi. Itu semua valid.

Tapi masalahnya bukan di situ.

Masalahnya adalah ketika semua itu dijadikan alasan untuk pelan-pelan mundur, lalu disebut sebagai bentuk kebijaksanaan.

Maaf, Pak atau Bu, kadang itu bukan strategi. Itu ya mundur saja, hanya bahasanya diperhalus.

Anda menyebut ini kelelahan sistemik. Istilahnya bagus, terdengar dalam, bahkan terasa ilmiah. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa ruang guru yang lebih jujur, maknanya sederhana. Sudah capek, jadi memilih berhenti mencoba.

Dan di titik itu kita perlu jujur juga. Capek bukan lisensi untuk berhenti berkembang.

Kalau semua profesi memakai logika yang sama, hasilnya bisa berbahaya. Bayangkan dokter berkata bahwa metode baru hanya tren, jadi kembali ke cara lama saja. Atau pilot yang merasa teknologi baru tidak penting karena nanti juga berubah lagi. Rasanya tidak aman.

Kenapa di pendidikan justru terasa wajar?

Anda bilang guru senior punya arsip mental. Ini menarik. Arsip itu seharusnya jadi referensi, bukan jadi tembok. Harusnya membantu memilah, bukan menutup diri dari hampir semua hal baru.

Karena kalau setiap hal baru langsung dicurigai sebagai sesuatu yang tidak berguna, itu bukan kebijaksanaan. Itu kebiasaan yang sudah terlalu nyaman dipertahankan.

Ada juga pola yang sering terlihat. Guru muda semangat, ikut pelatihan, mencoba berbagai pendekatan. Lalu diberi komentar bahwa nanti juga akan capek sendiri. Ketika akhirnya mereka lelah, muncul kalimat, “kan sudah dibilang.”

Seolah-olah kelelahan itu bukan sesuatu yang perlu diatasi, tapi sesuatu yang diwariskan.

Anda juga mengatakan sekarang fokusnya ke murid, bukan ke aplikasi atau program. Ini terdengar ideal. Tapi pertanyaannya sederhana. Apakah menolak hal baru otomatis lebih baik untuk murid?

Kadang kita terjebak dalam romantisme metode lama. Seolah-olah itu lebih murni, lebih tulus. Padahal bisa jadi itu hanya lebih nyaman bagi gurunya.

Murid hidup di dunia yang berubah cepat. Cara mereka belajar berbeda. Cara mereka memahami juga berkembang. Kalau guru tidak ikut bergerak, kesenjangan itu akan makin terasa.

Soal energi, saya paham. Semakin lama bekerja, semakin terasa bahwa tenaga tidak sebanyak dulu. Tapi profesionalisme bukan soal berhenti, melainkan soal menyesuaikan cara berjalan.

Kalau dulu berlari, sekarang bisa berjalan cepat. Tapi kalau berhenti di pinggir dan menyebutnya penghematan energi, tujuan tidak akan tercapai.

Tentang program yang dianggap seremonial, itu memang ada. Bahkan mungkin cukup banyak. Tapi apakah semua seperti itu? Dan kalau pun iya, apakah pilihan yang tersedia hanya ikut sepenuhnya atau tidak terlibat sama sekali?

Ada pilihan lain yang sering dilupakan. Terlibat secara kritis.

Tidak sekadar ikut, tapi juga tidak diam.

Karena diam bukan posisi netral. Diam tetap sikap. Dan sering kali diam justru memperkuat hal-hal yang dianggap tidak ideal.

Kalau guru yang berpengalaman memilih mundur, yang tersisa adalah mereka yang masih mencari arah. Akhirnya kesalahan yang sama terulang, padahal sebenarnya bisa dicegah.

Kalimat tentang memilih jalan pintas menuju pemahaman murid juga menarik. Terdengar bijak, tapi perlu hati-hati.

Jalan pintas sering kali bukan jalan terbaik, melainkan jalan yang paling familiar.

Dan kenyamanan sering menyamar sebagai efisiensi.

Anda juga menggambarkan ada kelegaan karena sekarang memahami posisi guru senior. Itu wajar. Semua orang pernah berada di fase menghakimi lalu berbalik memahami.

Tapi memahami tidak selalu berarti membenarkan.

Kalau dulu Anda melihat ada yang kurang, mungkin memang ada yang kurang. Dan ketika sekarang berada di posisi itu, kesempatan terbaik bukan mengulang pola yang sama, tapi memperbaikinya.

Kalau tidak, siklusnya akan terus berulang.

Guru muda semangat, lalu lelah, lalu apatis, lalu dimaklumi, lalu diwariskan.

Saya tidak mengatakan semua guru senior harus jadi yang paling aktif atau paling mengikuti tren. Tidak perlu seperti itu.

Tapi ada perbedaan jelas antara selektif dan pasif.

Selektif berarti mencoba lalu memilih.
Pasif berarti sudah menolak tanpa mencoba.

Dari luar, keduanya bisa terlihat mirip, tapi dampaknya sangat berbeda.

Tentang menjaga kewarasan, itu penting. Tidak ada yang ingin guru kehilangan semangat hidup karena pekerjaan. Tapi menjaga kewarasan tidak harus berarti menjauh dari perubahan.

Kadang justru keterlibatan yang bermakna, meskipun kecil, membuat seseorang tetap merasa hidup dalam profesinya.

Karena ada satu hal yang sering tidak disadari. Tidak berkembang juga bisa melelahkan.

Pelan-pelan, tanpa terasa.

Pada akhirnya, murid tidak butuh guru yang sempurna. Tapi mereka butuh guru yang masih mau belajar.

Tidak harus cepat, tidak harus canggih. Tapi tetap bergerak.

Walaupun pelan.

Namun jika kita ingin benar-benar jujur sampai ke akar persoalan, ada satu hal yang sering dihindari dalam diskusi seperti ini.

Soal kesejahteraan.

Ketika profesi guru dihargai dengan pendapatan yang terbatas, ketika tuntutan tinggi tidak diimbangi dengan apresiasi yang layak, ketika energi besar tidak sebanding dengan imbal balik yang diterima, maka memudarnya semangat itu bukan hal yang mengejutkan.

Bahkan bisa dibilang wajar.

Jadi mungkin ini bukan semata soal idealisme, bukan hanya soal sistem, dan bukan sekadar soal pilihan pribadi.

Kadang sesederhana ini.

Kalau pendapatan profesi tidak cukup memberi rasa aman dan penghargaan, maka perlahan semangat kerja pun ikut terkikis.

Dan di titik itu, kita tidak bisa hanya menyalahkan individu yang mulai redup.

Karena bisa jadi, yang sebenarnya redup adalah sistem yang tidak cukup menghargai mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *