Saudaraku, apa bedanya “aku menyukaimu” dan “aku mencintaimu”?
Ketika engkau menyukai bunga, kau petik ia sekejap —rupanya memikat, semerbaknya kau hirup diam-diam, lalu ia gugur bersama waktu yang engkau abaikan.
Ketika engkau mencintai bunga, kau sirami ia setiap hari, kau rawat tanahnya, kau jaga akarnya, kau temani tumbuhnya —dan dari kuncup yang perlahan merekah, engkau belajar kesabaran.
Apa bedanya suka dan cinta pada langit senja?
Ketika engkau menyukai langit senja, kau tatap ia sekelebat —warnanya memikat, kau jadikan semburat cahyanya jadi latar fotomu, namun tak pernah benar-benar memandangnya, lalu ia lenyap tanpa sempat engkau pahami.
Ketika engkau mencintai langit senja, engkau menantinya berulang kali, kau tepekur, tenggelam dalam peralihannya,
dan engkau mengerti: keindahan pun memiliki waktunya untuk berlalu.
Apa bedanya suka dan cinta pada lautan?
Ketika engkau menyukai lautan, kau saksikan permukaannya sejenak —gelombangnya memesona, debur ombaknya memekak telinga, lalu engkau pergi tanpa benar-benar mengenalnya.
Ketika engkau mencintai lautan, engkau mendekat tanpa jemu, kau ikuti pasang-surutnya, kau selami diamnya, dan engkau terima: kedalaman menyimpan tenang sekaligus badai.
Apa bedanya suka dan cinta pada manusia?
Ketika engkau menyukai manusia, engkau mendekat saat segalanya terasa riang dan ringan —senyumnya memikat, hangatnya menyentuh, lalu engkau menjauh ketika luka mulai mengemuka.
Ketika engkau mencintai manusia, engkau tetap tinggal dalam waktunya, engkau terima retaknya, engkau upayakan pulihnya, dan engkau pahami: mencintai adalah menjaga, bukan sekadar memiliki.
Siapa yang mengerti perbedaan sederhana ini, ia tak hanya mengenal kata —ia menyelami kehidupan: dalam setiap pertumbuhan, dalam setiap kepedihan,
dan dalam kesabaran yang meneguhkan hati untuk setia, bahkan dalam situasi tersulit. ***



