Hari Buruh, Ingatan Abadi tentang Wiji Thukul - Mabur.co

Hari Buruh, Ingatan Abadi tentang Wiji Thukul

Jika Hari Buruh tiba pada 1 Mei, ingatan apa yang berkecamuk di dalam otak Anda? Bisa saja tentang nasib Anda sendiri, yang mungkin saja jadi buruh. Sama seperti saya.

Atau film tentang buruh, karya sastra tentang buruh. Bisa jadi juga ingatan tentang Wiji Thukul, tokoh buruh yang semasa hidup kerap berdemonstrasi dan akhirnya hilang. Tak tentu rimba.

Sekian rezim kekuasaan pemerintahan dilalui sejak Wiji Thukul meninggal. Yang saya ingat pasti, dalam sebuah pemberitaan media, dulu Presiden Jokowi pernah berjanji untuk mencari makam Wiji Thukul yang sebenarnya. Mungkin saja tetap kesulitan karena sampai hari ini makam itu tidak ditemukan.

Banyak tokoh buruh menjadi garda depan ingatan. Ada Marsinah, misalnya. Tokoh buruh perempuan yang tahun lalu bahkan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada ahli waris.

Saya tidak tahu kenapa Wiji Thukul tidak sekaligus mendapatkan gelar Pahlawan Nasional? Padahal jelas kontribusi Wiji Thukul terhadap gerakan pro demokrasi dan juga pertumbuhan kesusastraan cukup besar.

Hingga kini, puisi-puisi Wiji Thukul yang beredar di media sosial sangatlah inspiratif. Membaca puisi-puisi Wiji Thukul jelas menggelorakan semangat kritis dan perlawanan terhadap kebijakan tertentu.

Puisi-puisi Wiji Thukul lugas sekali. Minim metafor. Minim kiasan. Misalnya saja pada satu puisi Wiji Thukul yang sangat terkenal di acara demonstrasi di bawah ini:

PERINGATAN

jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Itulah salah satu puisi lugas Wiji Thukul. Boleh jadi puisi itulah yang di masa lalu membuat merah telinga para intel demo dan juga penguasa.

Di masa kini puisi semacam itu bisa saja bernilai biasa. Era sudah berubah. Represi pun berubah gaya dan cara. Kini represi bisa melalui undang-undang, menjelma pajak, dan kebijakan lainnya.

Oleh karena itu, jika saat ini diperlukan lahirnya Wiji Thukul yang lain, maka pola perjuangannya bisa saja berbeda. Sayangnya, di masa sekarang, setiap ada tokoh mau muncul langsung terbungkam.

Era oposisi terbeli. Boleh jadi di masa kini istilah itu bisa digunakan secara umum. Sepertinya memang sudah tidak ada oposisi lagi. Kalau pun ada oposisi maka hanya segelintir saja dan tidak muncul sebagai gelombang yang masif.

Tapi, itu hanya tampak permukaan saja. Bisa jadi justru yang tidak tampak akan menjadi gelombang yang membahayakan. Seperti tsunami yang datang bisa sangat mengejutkan.

Lalu mungkinkah akan ada tsunami perlawanan juga? Kita tidak tahu. Kalau dari tanda-tandanya bisa samar. Puisi pun kini yang lebih kritis dari puisi Wiji Thukul seperti menyembunyikan peran sosial dan kulturalnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *