Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 muncul gerakan perempuan di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia (Hindia Belanda).
Gerakan tersebut merupakan aktualisasi ide-ide emansipatif yang terjadi di berbagai negara jajahan Barat, termasuk di Hindia Belanda.
Kartini dengan ide-ide emansipasinya dan organisasi-organisasi perempuan yang kemudian berdiri memiliki visi yang sama, yaitu ingin meningkatkan peran perempuan dan meningkatkan martabat perempuan, sehingga perempuan nantinya mampu menjadi pendidik generasi yang akan datang, dan menjadi ibu dan istri yang baik.
Profil Perempuan Zaman Kolonial
Kedudukan kaum perempuan dalam kehidupan sosial diatur oleh tradisi, hak dan kewajiban kaum perempuan lebih rendah dibanding dengan kaum laki-laki. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama ini masih saja terjadi, dan telah dibuktikan oleh para pengamat.
“Istrilah yang harus bertani mulai dari menanam padi sampai padi dikeringkan dan mengurus rumah tangga menjual hasil pertaniannya mewarnai pakaian-pakaian yang dijualnya.”
A Kruijt menyatakan bahwa “Di pasar-pasar dan di mana pun, kami melihat banyak perempuan, tua, dan muda. Kami terus bertemu dengan para perempuan sepanjang perjalanan. Perempuan di warung menyiapkan makanan dan minuman, melayani pembeli.
Di desa kami mendengar suara lesung menumbuk padi dan para perempuan yang menumbuk padi. Mereka juga menenun kain. Ketika kami masuk ke sebuah rumah, kami menemukan para perempuan dan gadis sedang membatik. Kami melihat mereka mengeringkan tanaman-tanaman obat, menyiapkan obat dan rempah-rempah.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa kami menemukan banyak perempuan yang bekerja di berbagai industri rumah tangga.
Dalam budi daya tebu, penanaman tebu dan khususnya penyiangan dilakukan oleh “wanita penyiang” (wiedvrouwen) dan pemupukan serta pemeliharaan sangat tergantung dari tenaga wanita maupun anak-anak yang dibayar rendah.
Bagaimana Perempuan di Daerah Lain?
Perempuan di Bali dapat menikmati kebebasan. Ketika suami sedang bekerja di lumbung dan menjual padi di pasar, istri bertanggung-jawab mengurus rumah tangga dan mengelola keuangan rumah tangga.
Perempuan Minangkabau, Suku Ambon, mempunyai peran aktif dalam dewan gereja, memimpin desa, di Minahasa perempuan tidak mengenal pingit. Dalam Perang Aceh beberapa perempuan Aceh ikut dalam peperangan, satu di antaranya Tjut Nja’ Dien.
Apa yang Diperjuangkan?
Ketidakadilan terhadap Perempuan
Surat-surat Kartini dibukukan pada permulaan abad ke-20. Surat-surat Kartini banyak berbicara tentang tradisi (khususnya Jawa) yang cenderung membelenggu perempuan, menjadikannya tergantung pada laki-laki, yang menjadikan perempuan sebagai makhluk tak berdaya dan seakan perempuan tidak diberi peranan penting dalam masyarakat.
Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan di Barat pada masa itu, namun berbeda dengan pendekatan di Barat yang menunjuk laki-laki sebagai akar permasalahan, Kartini secara proporsional mengatakan penindasan terhadap perempuan sebagai bagian dari permasalahan sistem budaya masyarakat.
Kultur dan adat istiadat pada waktu itu seperti poiygami, budaya pingitan terhadap gadis, dan Kartini juga mengecam sistem kolonialisme.
Strategi Apa yang Digunakan?
Menurut Kartini, pendidikan merupakan syarat utama bagi perempuan untuk membebaskan diri dari segala kekurangan.
Kartini menganjurkan agar perempuan muda bersatu untuk berjuang mencapai cita-cita bagi kemajuan bangsanya.
Seruan Kartini tentang pentingnya persatuan dicamkan sungguh-sungguh oleh para pemuda Indonesia yang saat itu belajar di negeri Belanda. Terbukti mereka mendirikan Indische Vereeniging pada tahun 1911.
Di mana Noto Suroto penyair Indonesia menjelaskan dalam pidatonya yang berjudul De Gedachten Van R.A. Kartini: als rictsnoer van de Indische Vereeniging (Pemikiran Kartini sebagai Pedoman untuk Indische Vereeniging).
Dalam usaha memperjuangkan emansipasi perempuan, Kartini didukung ayahnya dan suaminya, Dewi Sartika pun dibantu suaminya, Achmad Djayadiningrat, juga salah satu tokoh yang membantu kaum perempuan dalam memerangi pernikahan dini.
Melalui beberapa tokoh lelaki tersebut dapat dilihat adanya peran lelaki dalam memperjuangkan dan akhirnya mewujudkan emansipasi perempuan di Indonesia.
Terdorong oleh anjuran Abendanon, Kartini membentuk kelas kecil di rumahnya, dan dengan penuh semangat Kartini menceritakan usaha awalnya kepada Nyonya Abendanon melalui surat yang ditulisnya pada 4 Juli 1903.
Harapan dan rencana besarnya terhadap sekolah dan kariernya untuk menjadi guru tidak sepenuhnya terwujud, karena beberapa pekan kemudian Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang.
Sebuah perjodohan tetapi pernikahan yang bahagia karena dalam surat-surat terakhirnya Kartini mengatakan bahwa suaminya mendukung cita-citanya dan pada 1904 Kartini wafat pada usia 25 tahun.
Suara dari Tempat Lain
Dewi Sartika, perempuan Sunda yang lahir pada 1 Desember 1884 dan wafat pada tahun 1947. Dewi Sartika juga disebut sebut dalam buku Abendanon.
Pada tahun 1904 Dewi Sartika mendirikan sekolah pertamanya yang dinamakan “Keutamaan Istri”, dan pada tahun 1912, Dewi Sartika telah mendirikan 9 (Sembilan) sekolah (50% dari sekolah yang ada di tanah Sunda).
Pendirian Organisasi-organisasi Perempuan sebagai Media Perjuangan
Memasuki zaman Pergerakan Nasional, tidak hanya laki-laki yang berjuang untuk merintis kemerdekaan, tetapi kaum perempuan tidak ketinggalan.
Mereka yang sudah mengenyam pendidikan meneruskan langkah-langkah para perintis (Kartini, Dewi Sartika, dan perempuan-perempuan progresif lainnya).
Pada waktu itu dan ternyata inilah yang menjadi stimulus bagi perjuangan perempuan di masa-masa pergerakan kemerdekaan.
Sejumlah perempuan terpelajar kemudian membentuk organisasi-organisasi, yang pertama berdiri adalah organisasi Putri Merdeka, yang bertujuan: (1) memberikan bantuan dana kepada kaum perempuan agar dapat bersekolah atau melanjutkan sekolahnya, (2) memberikan saran dan informasi yang dibutuhkan, menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri kepada kaum perempuan (3) dan memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk berperan serta di masyarakat.
Organisasi-organisasi Lain yang Kemudian Berdiri
(1) Istri: mendirikan 4 sekolah bagi kaum perempuan di tanah Sunda (2) Pawiyatan Wanito, berdiri di Magelang pada tahun 1915 (3) Wanito Hado, didirikan di Jepara 1915 (4) Wanito Susilo, didirikan di Pemalang 1918 (5) Wanito Sworo (penerbitan independen) (6) Putri Budi Sejati, didirikan di Surabaya (7) Kerajinan Amai Setia (1914) di kota Gadang Sumatra Barat (8) Keutamaan istri Minangkabau di Padang Panjang (9) Sarekat Kaum Ibu Sumatra (Bukit Tinggi) (10) Pengasih Ibu kepada Anak Turunan di Minahasa.
Referensi
Th P. Galestin dan G.W. Locker, Popular Art in Indonesia, UNESCO/ED/OCC/P.
A. Kruijt, ”De plaats die de Javaansche vrouw innemt in de samenleving en in de christengementee”.
M. C. Poensen, ”Over de Javaansche vrouw” (Perempuan Jawa), M.N.Z.G, 1887.
G.R. Knight, Kuli-kuli Parit, Wanita Penyiang dan Snijvolk: Pekerja-pekerja Industri Gula Jawa Utara Awal Abad ke-20 dalam J. Thomas Linblad (ed), Sejarah Ekonomi Modern Indonesia: Berbagai Tantangan Baru (Jakarta, LP3ES, 2000).




