Mabur.co – Di era tahun 1980-an sampai awal 2000-an, sebelum era kejayaan internet saat ini, yang dianggap mampu “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”, orang-orang punya cara tersendiri dalam berkomunikasi secara jarak jauh, alias menerapkan prinsip “mendekatkan yang jauh”.
Melalui sarana warung telekomunikasi (wartel) serta telepon umum, orang-orang biasa berkomunikasi dengan kerabat, teman, keluarga, atau mungkin juga selingkuhannya di luar sana, dengan mengunjungi dua tempat legendaris ini.
Melalui sistem kabel analog yang dihubungkan ke sentral telepon, keduanya mampu menghubungkan penelepon dengan nomor yang dituju dalam waktu yang relatif singkat, dengan biaya yang bervariasi.
Sayangnya, setelah kehadiran internet pada awal 2000-an, pelan-pelan wartel dan telepon umum sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Mereka pun telah sepenuhnya beralih ke telekomunikasi versi digital, yang dianggap lebih canggih, cepat, dan juga semakin murah.
DIkutip dari laman databoks.katadata.co.id, Selasa (26/5/2026), sambungan wartel telah resmi diputus sejak awal 2015, dan digantikan sepenuhnya oleh ponsel pintar (smartphone) dan juga internet.
Selain itu, bangunan yang dulu dijadikan lokasi wartel dan telepon umum, kini telah sepenuhnya beralih ke bidang usaha baru, seperti warung kelontong, jualan baju, minimarket, dan semacamnya.
Bisa dibilang, jika dahulu kebutuhan komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan dengan pergi ke Wartel atau telepon umum dan menyiapkan sejumlah koin, kini, semua kebutuhan itu sudah tersedia di dalam genggaman ponsel Anda.
Cukup dengan menyediakan kuota atau jaringan WiFi, Anda sudah bisa terhubung dengan semua orang di seluruh dunia. Jauh melebihi kapasitas wartel dan telepon umum, yang berbasis lokal (dalam satu kota) dan interlokal (luar kota/provinsi).
Nostalgia
Meski telah sepenuhnya ditinggalkan, dan terbukti lebih ribet ketimbang periode internet di zaman sekarang, namun banyak orang (terutama yang lahir di tahun 1990-an ke belakang) masih merasa kangen atau bernostalgia dengan dua sarana telekomunikasi satu ini.
Mereka menganggap bahwa kedua sarana itu menawarkan bentuk komunikasi yang lebih tulus, penuh perjuangan, dan sarat akan kenangan.
Berbeda dengan era ponsel pintar saat ini yang serba instan, menelepon seseorang di masa lalu menuntut pengorbanan waktu, emosi, dan juga biaya, sehingga setiap kata yang terucap terasa sangat berharga (tanpa banyak basa-basi yang tidak perlu).
Hal itu tentu saja mengajarkan manusia untuk lebih menghargai sebuah proses, khususnya proses berkomunikasi secara jarak jauh dengan orang lain di luar sana.
Sesuatu yang saat ini terasa begitu diremehkan, akibat kehadiran teknologi yang serba canggih dan sudah tersedia di dalam genggaman. (*)

