Pernah Dibakar Habis Belanda, Masjid Pathok Negoro Dongkelan Sisakan Batu Penyangga Tiang Bangunan

6 Min Read
Front view of a white building with orange tiled roof, arched windows, and a yellow-tiled entrance stairs leading to a porch.
Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Bantul, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Terletak di tengah Kampung Kauman serta Kampung Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan menjadi salah masjid tertua yang ada di Yogyakarta.

Masjid yang didirikan pada 1777 Masehi oleh sosok bernama Kyai Syihabudin atau Syekh Syihabudin ini tak hanya menyimpan sejarah panjang jejak Islam di Yogyakarta, tetapi juga simbol arsitektur Jawa-Islam yang sarat akan makna.

Masjid Pathok Negoro Dongkelan dibangun pada masa awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta, bersamaan dengan pembangunan serambi Masjid Gedhe Kauman. 

Selain berfungsi sebagai pusat pendidikan spiritual masyarakat, Masjid Pathok Negoro Dongkelan ini dahulu juga berfungsi sebagai penanda batas wilayah sekaligus pusat pertahanan Kesultanan Yogyakarta.

Baca juga : Menelusuri Jejak Kyai Syihabudin, Pendiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan

Secara arsitektur, bentuk Masjid Pathok Negoro Dongkelan memiliki kemiripan kuat dengan Masjid Gedhe Kauman maupun masjid-masjid pathok negoro lain di Yogyakarta. 

Bentuk atap dan mustoko masjid pathok negoro Dongkelan saat ini. ( foto: JH Kusmargana)

Berdiri di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi, Masjid Pathok Negoro Dongkelan terdiri dari dua bagian utama yakni bangunan inti masjid serta serambi. 

Secara fisik ukurannya tak terlalu luas. hanya sekitar 100 meter persegi. Bangunan inti berukuran sekitar 10 x 10 meter, sedangkan bangunan serambi depan berukuran sekitar 7 x 14 meter.

Arsitektur Masjid Alami Perubahan

Menurut Raden Bekel Muhammad Burhanudin, Abdi Dalem sekaligus Penghulu Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan saat ini, arsitektur masjid ini sempat beberapa kali mengalami perubahan akibat sejumlah konflik yang terjadi. 

“Bisa dikatakan seluruh bangunan masjid ini sudah tidak asli. Karena sekitar tahun 1825 saat masa perang Diponegoro pernah dibakar habis oleh Belanda. Sehingga yang tersisa atau yang masih asli hanya umpaknya saja,” ujarnya.

Meski sebagian besar bangunannya sudah tidak asli, bukan berarti arsitektur masjid ini sepenuhnya berubah. Sebab setiap renovasi atau pembangunan kembali masjid ini dibuat semirip mungkin dengan bangunan aslinya. 

Seorang warga menunjukkan lokasi bekas sumur dan jagang di masjid Pathok Negoro Dongkelan. (Foto: JH Kusmargana)

Ciri paling menonjol masjid ini terletak pada bentuk atapnya yang bertingkat atau bersusun (biasa disebut Tajug) khas arsitektur tradisional Jawa.

Arsitektur Tradisional Jawa Melambangkan Perjalanan Spiritual

Bentuk seperti ini umum digunakan pada setiap bangunan peribadatan masyarakat Jawa kuno berupa piramida dengan puncak meruncing mirip bangunan candi.

Menurut Burhanudin, bentuk atap seperti ini memiliki makna atau simbol yang melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan hidup dan kedekatan hubungan dengan Tuhan yang maha Esa (disimbollkan dengan bentuk atap meruncing menuju satu titik ke atas).

Seperti masjid-masjid bergaya arsitektur tradisional Jawa pada umumnya yang dilengkapi Mustaka, masjid ini juga memiliki empat saka guru atau tiang penyangga utama berukuran besar yang menopang keseluruhan struktur atap. 

Dengan dinding keliling berupa tembok bata, bangunan utama masjid ini nampak dibuat lebih tinggi dibanding bangunan serambi. Hal ini menunjukkan tingkat kesakralan ruang utama atau ruang inti itu sendiri.

Tak seperti bangunan inti yang memiliki atap tajug, atap bangunan serambi dibuat dengan gaya limasan. Dimana tembok kelilingnya dibuat tertutup dipenuhi jendela dan pintu yang nampak terlihat sudah menggunakan gaya modern.

Bentuk arsitektur di dalam bangunan inti masjid pathok negoro Dongkelan. (Foto: JH Kusmargana)

“Waktu saya masih kecil dulu bagian serambi masih terbuka. Namun karena di sini dekat dengan pabrik gula Madukismo, sering kali abu sisa pembakaran tebu masuk ke dalam serambi. Sehingga akhirnya ditutup. Jadi tembok keliling serambi ini memang bangunan baru,” ujarnya.

Baca juga : Menelusuri Jejak Kyai Syihabudin, Pendiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan

Ciri masjid Keraton yang juga sudah tidak ditemui di masjid Pathok Negoro Dongkelan ini adalah keberadaan jagang atau kolam keliling yang berada di sekitar bangunan masjid. Menurut Burhanudin jagang ini dihilangkan seiring perkembangan zaman dan kawasan.

“Dulu waktu saya kecil jagang itu masih ada. Termasuk sumur berkurang besar di sisi selatan serambi yang menjadi asal usul nama Dusun Senggotan. Karena dulu untuk menimba air di sumur itu masih menggunakan senggot atau bambu panjang yang diikat ember,” katanya.

Empat Kali Renovasi

Menurut Burhanudin, Masjid Pathok Negoro Dongkelan hingga saat ini setidaknya telah mengalami 4 kali masa renovasi. Renovasi pertama dilakukan pasca-peristiwa pembakaran oleh Belanda saat Perang Diponegoro terjadi.

“Akibat dibakar habis Belanda, saat itu yang tersisa hanya tinggal batu umpaknya saja. Setelah itu masjid dibangun kembali secara sederhana, menggunakan atap ijuk, dinding gedek, dan mimbar dari bambu,” jelasnya. 

Mustoko dari gerabah yang disimpan di ruang serambi masjid pathok negoro Dongkelan. (Foto: JH Kusmargana)

Baru pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII tahun 1901, masjid dibangun kembali mirip seperti bentuk aslinya. Saat renovasi kedua ini, mimbar sudah dibuat dengan kayu jati sementara mustaka dibuat dari bahan gerabah.

Lalu tahun 1972 masjid kembali mengalami renovasi. Pada renovasi ketiga ini mustaka masjid kembali diganti dengan bahan logam dan bertahan hingga proses renovasi berikutnya sekitar tahun 2002.

“Renovasi terakhir dilakukan tahun 2002. Yakni untuk mengganti atap-atapnya termasuk pada bagian mustaka. Namun dua mustaka sebelumnya baik yang dibuat dari bahan gerabah atau logam masih disimpan dapat dilihat di dalam ruang serambi masjid saat ini,” katanya.

Baca juga : Menelusuri Jejak Kyai Syihabudin, Pendiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment