Mabur.co – Tiongkok resmi membuka museum sains modern gletser pertama di kawasan Dataran Tinggi Qinghai-Tibet. Museum bernama Museum Sains Gletser Bayi itu mulai dibuka pada awal Mei 2026 lalu di Kabupaten Qilian, Provinsi Qinghai.
Keberadaan museum ini menjadi salah satu upaya terbaru Tiongkok dalam memperkuat edukasi publik mengenai perubahan iklim dan pentingnya pelestarian ekosistem gletser yang semakin rentan akibat pemanasan global.
Dilansir Xinhua, Selasa (2/6/2026), Museum Sains Gletser Bayi dibangun di kawasan Pegunungan Qilian, yang dikenal sebagai salah satu sumber utama sistem air pedalaman di Tiongkok barat.
Kawasan ini juga menjadi lokasi penting pemantauan perubahan lingkungan dan konservasi ekologi.
Bangunan museum ini sendiri terdiri dari dua lantai dengan konsep edukasi interaktif. Di lantai pertama, pengunjung akan diajak untuk memahami dunia gletser melalui tiga zona utama bertajuk “Kelahiran Gletser”, “Krisis Gletser”, dan “Harapan”.
Berbagai teknologi modern digunakan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam bagi pengunjung, mulai dari diorama miniatur, layar multimedia interaktif, hingga teknologi imersif yang menggambarkan kondisi gletser di dataran tinggi.
Mengenal Proses Terbentuknya Gletser
Lewat sejumlah teknologi tersebut, pengunjung akan diajak mengenal berbagai hal seperti proses terbentuknya gletser, persebarannya, perubahan yang terjadi akibat iklim, hingga peran penting gletser bagi keseimbangan ekologi.
Selain itu, museum ini juga menampilkan berbagai upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga kawasan Pegunungan Qilian.
Sementara itu, lantai kedua difungsikan sebagai ruang multifungsi yang memadukan edukasi lingkungan, kegiatan penelitian, layanan rekreasi, hingga pameran budaya.
Menurut otoritas setempat, Gletser Bayi memiliki peran penting sebagai sumber air utama di Pegunungan Qilian sekaligus simbol ekologis kawasan calon Taman Nasional Pegunungan Qilian.
Wakil Direktur Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Provinsi Qinghai, Hou Tianmin, mengatakan museum ini merangkum berbagai hasil penelitian dan pemantauan gletser yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Ia menyebut museum ini tidak hanya menampilkan sejarah evolusi gletser di Pegunungan Qilian, tetapi juga memperlihatkan tantangan besar dalam menjaga kelestarian kawasan tersebut.
“Kami berharap para pengunjung dapat merasakan pesona gletser dari dekat dan memahami nilai ekologis yang terkandung di dalamnya,” kata Hou.
Hal senada disampaikan Wakil Presiden Institut Ekologi dan Sumber Daya Lingkungan Barat Laut di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, Li Zongxing.
Menurutnya, museum ini menjadi jembatan penting antara penelitian ilmiah dan pemahaman masyarakat umum.
“Ini adalah platform penting untuk menerjemahkan penelitian ilmiah ke dalam pemahaman publik, di mana penemuan-penemuan mutakhir dalam studi gletser dan ekologi disajikan dengan cara yang mudah diakses, jelas, dan nyata,” ujarnya.
Li menambahkan, museum ini juga diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang edukasi lingkungan yang memperlihatkan secara langsung dampak penyusutan gletser akibat perubahan iklim.
Pegunungan Qilian sendiri membentang di perbatasan Provinsi Qinghai dan Gansu. Kawasan ini menjadi salah satu penghalang ekologis penting di wilayah barat Tiongkok dan memiliki lebih dari 2.600 gletser yang tersebar di berbagai titik.

