Sekaten, Kenapa Dijadikan Dakwah Wali Sanga?

2 Min Read
People in red traditional attire carry a tall, decorated ceremonial structure during a street festival; spectators line the road.
Prosesi Garebeg Mulud. (Ilustrasi Foto: Dok. Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid Nabi, Keraton Ngayogyakarta biasanya menggelar tradisi Sekaten. Ada sederet prosesi acara yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta pada gelaran Sekaten, beberapa di antaranya seperti Miyos Gangsa, Numplak Wajik.

Dilansir dari situs Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (3/6/2026), upacara Sekaten telah dilaksanakan sejak zaman Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. 

Sekaten diselenggarakan sebagai salah satu dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Proses Islamisasi ini juga tidak bisa dilepaskan dari usaha Wali Sanga dengan menggunakan sarana budaya dalam menjalankan dakwah.

Wali Sanga menyadari penyebaran agama Islam tidak dapat dilaksanakan dengan paksaan. Karena itu dibunyikanlah seperangkat Gangsa Sekati agar masyarakat tertarik mendekat ke masjid dan mendengarkan dakwah dari para wali.

Seperangkat Gangsa Sekati yang saat ini dimiliki oleh Kasultanan Yogyakarta merupakan warisan dari Kerajaan Mataram, yaitu Kiai Gunturmadu dan Kiai Guntursari.

Saat Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi kerajaan Mataram, keduanya dibagi antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. 

Kiai Gunturmadu diserahkan kepada Kasultanan Yogyakarta, sedangkan Kiai Guntursari diserahkan pada Kasunanan Surakarta. Untuk mengembalikan gamelan pada kelengkapan semula, Kasultanan Yogyakarta membuat putran (duplikasi) dari Kiai Guntursari yang diberi nama Kiai Nagawilaga.

Rangkaian Sekaten akan dilanjutkan dengan upacara Numplak Wajik yang menandai dimulainya pembuatan Gunungan Wadon (putri) untuk Garebeg Mulud. 

Gunungan lain yang dipersiapkan untuk Garebeg Mulud adalah Gunungan Lanang, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat dan Gunungan Pawuhan.

Upacara Numplak Wajik dilaksanakan pada tanggal 9 Mulud di Panti Pareden, halaman Kamagangan Keraton. Upacara ini dilaksanakan sore hari dan dihadiri oleh para Penghageng Keraton dan juga para Abdi Dalem.

Lesung dan alu (alat penumbuk padi terbuat dari kayu), disertai wajik (makanan tradisional berbahan ketan dan gula kelapa) beserta tempatnya diangkut dari tempat memasak menuju Kamagangan.

Dipersiapkan juga serangkaian busana wanita berupa nyamping, kain semekan, untaian bunga melati, kanthil, dan mawar, serta bedak dari beras, kencur dan dlingo bengle. Numplak Wajik dilakukan dengan membunyikan lesung memakai alu dengan irama tertentu, ini dimaksudkan agar pembuatan Gunungan Wadon dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan.

Upacara Sekaten, merupakan rangkaian prosesi warisan para leluhur yang sarat makna dan filosofi. Sudah selayaknya upacara adat ini dimaknai tidak hanya sebagai perayaan hiburan, apalagi sebatas keberadaan pasar malam yang menyertainya.

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad ini dilaksanakan sebagai bagian dari syiar nilai-nilai keislaman, yang diselaraskan dengan nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pada masanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment